Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh dan memahami informasi. Di Indonesia, Generasi Z merupakan kelompok yang paling dekat dengan media sosial karena sejak kecil telah hidup berdampingan dengan internet dan perkembangan teknologi komunikasi. Kehadiran berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, X, YouTube, dan platform lainnya memang memberikan banyak manfaat, mulai dari kemudahan memperoleh informasi, memperluas wawasan, hingga membangun jejaring sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat tantangan besar yang sering kali tidak disadari, yaitu bagaimana algoritma media sosial secara perlahan membentuk pola pikir, perilaku, bahkan cara pandang Generasi Z terhadap suatu isu. Algoritma media sosial bekerja dengan menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna berdasarkan riwayat pencarian, tontonan, dan interaksi sebelumnya. Akibatnya, pengguna cenderung terus menerima informasi yang sejenis dan berulang, sehingga tanpa disadari mereka berada dalam “ruang gema” informasi yang membatasi sudut pandang dan memengaruhi cara berpikir secara objektif.
Dalam kondisi tersebut, ketahanan informasi nasional menjadi isu yang sangat penting. Ketahanan informasi dapat diartikan sebagai kemampuan individu maupun masyarakat dalam menyaring, memahami, dan membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan atau hoaks. Pada era digital saat ini, ancaman terhadap ketahanan informasi tidak lagi berbentuk fisik, melainkan berupa arus informasi yang sangat cepat dan sulit dikendalikan. Banyak pengguna media sosial, khususnya Generasi Z, lebih mudah mempercayai informasi yang viral dibandingkan melakukan verifikasi terhadap sumbernya. Informasi yang disampaikan secara menarik, emosional, atau sesuai dengan keyakinan pribadi sering kali langsung diterima sebagai kebenaran. Padahal, tidak sedikit informasi yang sebenarnya dipotong, dimanipulasi, atau bahkan sengaja disebarkan untuk memengaruhi opini publik. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka masyarakat akan semakin sulit membedakan fakta dan opini, sehingga berpotensi melahirkan pola pikir yang lemah terhadap analisis kritis.
Lemahnya ketahanan informasi dapat memberikan dampak serius terhadap pola pikir sehat Generasi Z. Paparan informasi yang tidak valid secara terus-menerus dapat mengubah cara seseorang memahami realitas sosial. Generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan bangsa justru dapat terjebak dalam pola pikir instan, mudah terprovokasi, dan kurang memiliki kemampuan berpikir mendalam. Selain itu, budaya membaca secara kritis perlahan mulai tergeser oleh budaya konsumsi informasi singkat yang serba cepat. Banyak orang hanya membaca judul tanpa memahami isi secara utuh, lalu langsung menyimpulkan atau bahkan menyebarkan kembali informasi tersebut. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat memicu kesalahpahaman sosial, konflik opini, hingga polarisasi di masyarakat. Ketika kemampuan berpikir kritis menurun, maka kualitas pengambilan keputusan juga akan ikut melemah, baik dalam kehidupan sosial, pendidikan, maupun dalam menentukan sikap terhadap isu nasional.
Oleh karena itu, kesadaran diri dan ketahanan diri menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan informasi nasional. Setiap pengguna media sosial harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menerima informasi, tidak mudah percaya terhadap berita yang belum jelas sumbernya, serta membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum menyebarkan suatu informasi. Pendidikan literasi digital juga perlu diperkuat, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Generasi Z harus dibiasakan untuk berpikir kritis, memahami konteks informasi, dan melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang. Ketahanan informasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga tanggung jawab setiap individu sebagai pengguna media sosial. Jika masyarakat memiliki kesadaran dan kemampuan menyaring informasi dengan baik, maka pengaruh negatif algoritma media sosial dapat diminimalkan. Pada akhirnya, ketahanan informasi yang kuat akan menciptakan generasi muda yang lebih cerdas, bijak, dan mampu menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.
Penulis: Tiara Rahayu, S.Si. (Kabid Media dan Publikasi DPP Bhumi Literasi Anak Bangsa)


