-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Gen-Z Economy, Algoritma Medsos, Gaya Hidup dan Ketahanan Informasi Nasional

    Bhumi Literasi
    Thursday, May 28, 2026, May 28, 2026 WIB Last Updated 2026-05-29T01:20:36Z

     


    Pembuka: hidup di zaman beranda menentukan nasib
    Ada satu hal yang sering luput ketika kita membahas Gen Z. Kita terlalu sibuk bertanya, “Anak muda sekarang kenapa, sih?” Padahal pertanyaan yang lebih jujur mungkin begini: “Anak muda sekarang dibesarkan oleh mesin macam apa?”

    Gen Z Indonesia, kalau mengikuti klasifikasi BPS, adalah mereka yang lahir pada 1997–2012. Pada Sensus Penduduk 2020, jumlahnya 27,94 persen dari total penduduk. Pada 2026, kira-kira mereka sudah berada di rentang usia 14–29 tahun. Artinya, di dalam satu label “Gen Z” ada anak sekolah, mahasiswa, pekerja awal karier, kreator konten, affiliate seller, calon debitur paylater, sampai orang yang mulai memikirkan cicilan rumah. Jadi, menyebut Gen Z sebagai satu gerombolan tunggal itu agak berbahaya. Sama berbahayanya dengan menyebut semua orang yang minum kopi susu sebagai calon pengusaha start-up.

    Tetapi ada satu pengalaman yang cukup menyatukan mereka: hidup di dalam beranda. Bukan sekadar memakai media sosial, melainkan dibentuk oleh sistem rekomendasi yang terus-menerus memilihkan apa yang layak dilihat, dikagumi, ditertawakan, dibeli, dipercayai, bahkan ditiru.


    Algoritma bukan cuma teknis, tapi tukang parkir perhatian
    Kita sering membayangkan algoritma sebagai urusan teknis yang jauh di ruang server. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, algoritma itu lebih mirip tukang parkir perhatian. Ia mengarahkan: “Maju sedikit, lihat ini. Mundur dikit, jangan lihat itu. Belok kanan, ada konten yang kemungkinan bikin kamu betah.”
    TikTok, Instagram, YouTube, X, dan Facebook memang punya logika rekomendasi yang berbeda-beda. Namun secara umum, semuanya bekerja dengan membaca sinyal perilaku: apa yang ditonton sampai habis, apa yang di-like, dikomentari, dibagikan, dicari, disimpan, atau dilewati. Dari sana, platform menebak konten apa yang membuat pengguna bertahan lebih lama.

    Masalahnya, yang membuat orang bertahan tidak selalu yang paling benar, paling berguna, atau paling sehat. Sering kali justru yang paling cepat memancing emosi: marah, iri, kagum, takut ketinggalan, atau sekadar kepingin punya barang yang sama. Di sinilah ekonomi perhatian bekerja. Perhatian kita menjadi bahan bakar. Setiap detik yang kita habiskan untuk scroll adalah angka kecil yang ikut menghidupi model bisnis platform.

    Maka, ketika Gen Z mencari informasi lewat media sosial, persoalannya bukan hanya “mereka malas membaca media arus utama”. Persoalannya lebih rumit: informasi publik kini masuk ke lorong yang sama dengan konten skincare, drama selebgram, tutorial affiliate, potongan podcast, meme politik, dan video orang memamerkan hidup yang tampaknya rapi sekali meski mungkin cicilannya juga rapi.


    Gengsi: jangan buru-buru jadi polisi moral
    Kata “gengsi” sering dipakai untuk menghakimi Gen Z. Katanya, generasi ini terlalu sibuk tampil, terlalu mudah FOMO, terlalu ingin validasi. Kritik itu ada benarnya, tetapi kalau berhenti di sana, analisisnya menjadi seperti komentar om-om di grup WhatsApp keluarga: kencang, tetapi kurang presisi.

    Dalam kajian yang lebih hati-hati, gengsi bisa dibaca sebagai gabungan dari status signaling, aspirational consumption, dan symbolic self-presentation. Bahasa gampangnya: orang tidak hanya membeli barang karena butuh, tetapi juga karena ingin memberi tanda tentang siapa dirinya, ingin menjadi versi tertentu dari dirinya, atau ingin terlihat sedang menuju hidup yang lebih keren.

    Dulu, gengsi mungkin tampil lewat motor, pakaian, tongkrongan, atau kampus. Sekarang, gengsi punya panggung yang jauh lebih rajin: feed, story, reels, TikTok, dan unggahan yang bisa dilihat ratusan sampai ribuan orang. Bahkan ketika seseorang tidak bermaksud pamer, ruang digital membuat hampir semua hal mudah terbaca sebagai performa: sedang makan di mana, pakai produk apa, nonton konser siapa, kerja di kafe mana, liburan ke mana, bahkan healing-nya pakai outfit apa.

    Jadi, gaya hidup Gen Z bukan sekadar hasil pilihan individual. Ia juga hasil dari paparan berulang terhadap standar visual yang diproduksi platform. Ketika setiap hari seseorang melihat tubuh ideal, kamar ideal, karier ideal, wajah ideal, dan hubungan ideal, wajar kalau muncul perbandingan sosial. Wajar pula kalau muncul rasa kurang. Yang tidak wajar adalah kalau kita menyuruh mereka “jangan terpengaruh” tanpa membahas mesin yang terus-menerus mengatur apa yang mereka lihat.


    Influencer bukan sekadar penjual, tapi kurator cita-cita
    Dalam ekosistem ini, influencer punya posisi yang unik. Mereka bukan cuma orang yang mempromosikan barang. Mereka sering menjadi kurator cita-cita: bagaimana terlihat menarik, bagaimana bicara, bagaimana memilih produk, bagaimana mengatur kamar, bagaimana bekerja, bahkan bagaimana memaknai sukses.

    Menariknya, Gen Z tidak selalu sebodoh yang sering dituduhkan. Banyak dari mereka sadar bahwa jumlah pengikut bisa palsu, engagement bisa dibeli, dan gaya hidup di internet bisa disusun seperti etalase minimarket: bagian depannya rapi, gudangnya entah bagaimana. Karena itu, pengaruh influencer tidak selalu datang dari jumlah follower. Ia lebih sering datang dari rasa relevan, resonan, dan “kok dia gue banget ya”.

    Di titik ini, iklan menjadi lebih halus. Kalau dulu iklan jelas bentuknya: ada produk, ada slogan, ada jingle yang kadang susah hilang dari kepala. Sekarang, promosi bisa menyamar sebagai cerita personal, rekomendasi teman, curhat, rutinitas pagi, atau video “barang yang aku nggak nyangka bakal sebagus ini”. Penonton tidak selalu merasa sedang dijualkan sesuatu, padahal justru di situ letak kelihaian social commerce.

    Inilah yang membuat Gen Z economy tidak bisa dipahami hanya sebagai pola belanja. Gen Z hari ini bisa menjadi penonton, pembeli, kreator, reseller, affiliate seller, pekerja lepas, sekaligus calon debitur digital dalam satu ekosistem yang sama. Pagi menonton konten, siang membeli produk, sore membuat konten tandingan, malam mengecek komisi affiliate. Hidup menjadi semacam siklus produksi-konsumsi yang tidak pernah benar-benar tutup toko.


    The Gen Z Economy : peluang besar, jebakan juga besar
    Kita perlu adil. Ekonomi digital membuka banyak peluang. Banyak anak muda bisa mendapat penghasilan dari desain, video pendek, live selling, affiliate marketing, micro-influencing, jasa editing, pengelolaan media sosial, sampai pekerjaan fleksibel lain. Di negara dengan bonus demografi seperti Indonesia, ini tidak bisa diremehkan.

    Namun peluang itu datang bersama jebakan. Pertama, pendapatan di ekonomi kreator sering volatil. Hari ini ramai, besok sepi. Hari ini algoritma ramah, besok konten tenggelam. Hari ini produk laris, besok komisi turun. Kedua, identitas personal makin mudah dikomersialisasi. Seseorang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual persona, kedekatan, gaya bicara, bahkan kehidupan sehari-hari.

    Ketiga, batas antara kebutuhan dan keinginan makin kabur. Ketika konten promosi dirancang personal, ketika diskon dibatasi waktu, ketika paylater membuat harga terasa lebih ringan, keputusan ekonomi bisa berubah menjadi keputusan emosional. “Butuh” dan “pengen” jadi susah dibedakan. Apalagi kalau ada bonus kalimat sakti: “Ini investasi buat self-reward.”

    Di sinilah ketahanan informasi bertemu ketahanan ekonomi. Orang yang terus-menerus hidup dalam tekanan tampil akan lebih mudah lelah mengevaluasi informasi. Ia mungkin tahu pentingnya cek fakta, tetapi ketika konten terasa dekat, estetik, lucu, atau disampaikan oleh figur yang dipercaya, proses verifikasi bisa kalah oleh rasa cocok. Ini bukan semata masalah kurang literasi. Ini juga masalah desain insentif.


    Ketahanan informasi bukan cuma anti-hoaks

    Selama ini, pembicaraan tentang ketahanan informasi sering menyempit menjadi urusan hoaks. Tentu hoaks penting. Tetapi kalau ketahanan informasi hanya dimaknai sebagai “jangan sebar berita palsu”, kita seperti mengobati demam dengan menasihati termometer.

    Ketahanan informasi Gen Z seharusnya dibaca lebih luas: kemampuan mengakses, memahami, memverifikasi, memproduksi, dan mendistribusikan informasi secara kritis, aman, dan bertanggung jawab. Termasuk di dalamnya kemampuan memahami bagaimana platform bekerja, bagaimana iklan disamarkan, bagaimana emosi dimanfaatkan, bagaimana data pribadi dilacak, dan bagaimana popularitas tidak selalu sama dengan kredibilitas.

    Seseorang bisa saja tidak pernah menyebarkan hoaks, tetapi tetap rentan secara informasi. Misalnya, seluruh sumber informasinya hanya dari satu platform. Ia percaya bukan karena bukti, tetapi karena video itu viral. Ia tidak menyebarkan kabar palsu, tetapi mudah percaya rekomendasi finansial abal-abal. Ia tidak ikut debat politik, tetapi gampang membeli barang karena endorse. Ia tidak tertipu judul clickbait, tetapi tidak sadar bahwa feed-nya makin lama makin sempit.

    Maka, indikator ketahanan informasi perlu mencakup diversitas sumber, kebiasaan verifikasi, literasi algoritmik, keamanan digital, regulasi atensi, ketahanan ekonomi digital, partisipasi produktif, dan kepercayaan yang terkalibrasi. Istilah terakhir ini penting: kita tidak ingin Gen Z menjadi naif, tetapi juga tidak ingin mereka menjadi sinis total. Percaya semua hal itu berbahaya. Tidak percaya apa pun juga melelahkan dan akhirnya bisa membuat orang mencari pegangan pada figur yang paling keras suaranya.


    Masalahnya ekologis, bukan salah satu pihak saja
    Ada godaan besar untuk mencari kambing hitam tunggal. Algoritma disalahkan. Gen Z disalahkan. Orang tua disalahkan. Sekolah disalahkan. Platform disalahkan. Negara disalahkan. Semua bisa benar sebagian, tetapi tidak cukup kalau berdiri sendiri.

    Fenomena ini bersifat ekologis. Platform menyediakan arsitektur perhatian. Influencer mengisi arsitektur itu dengan model identitas. Pasar mengubah perhatian menjadi transaksi. Sekolah sering tertinggal karena masih menganggap literasi digital cukup dengan bisa memakai aplikasi. Keluarga kadang hanya memberi larangan tanpa memberi kemampuan membaca risiko. Media publik dan media arus utama sering terlambat hadir di format yang benar-benar dikonsumsi anak muda. Pemerintah kadang terlalu cepat membuat kampanye, tetapi terlalu lambat membangun pengukuran yang tajam.

    Karena itu, penjelasan yang terlalu linear—algoritma menyebabkan Gen Z konsumtif, lalu ketahanan nasional melemah—perlu dihindari. Hubungannya tidak sesederhana itu. Algoritma bekerja melalui mediator: kelas sosial, gender, wilayah, usia, literasi keluarga, kualitas pendidikan, akses internet, peluang ekonomi lokal, dan pengalaman sosial masing-masing individu.

    Gen Z di Jakarta tidak sama dengan Gen Z di kota kecil. Gen Z usia 15 tahun tidak sama dengan usia 27 tahun. Gen Z yang punya dukungan keluarga stabil tidak sama dengan yang hidup dalam tekanan ekonomi. Paparan kontennya mungkin mirip, tetapi dampaknya bisa berbeda. Di sinilah riset menjadi penting: bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memetakan siapa rentan terhadap apa, dalam kondisi seperti apa, dan intervensi macam apa yang paling masuk akal.


    Rekomendasi: dari panik moral ke desain ketahanan
    Kebijakan yang hanya berisi ajakan “bijak bermedia sosial” sudah terlalu sering kita dengar sampai kehilangan daya gigit. Masalahnya bukan karena ajakan itu salah, tetapi karena terlalu umum. Gen Z tidak cukup diberi nasihat. Mereka perlu diberi alat.

    Pertama, literasi digital perlu naik kelas menjadi literasi algoritmik. Anak muda perlu paham mengapa sebuah konten muncul, bagaimana watch time bekerja, mengapa emosi membuat konten lebih mudah menyebar, dan bagaimana mengendalikan feed lewat mute, unfollow, not interested, reset recommendation, atau mode following-only bila tersedia.

    Kedua, sekolah dan kampus perlu menggabungkan literasi media, ekonomi perhatian, dan literasi finansial digital. Materinya jangan hanya ceramah. Beri latihan membaca iklan terselubung, membedakan opini dan berita, mengenali affiliate, membongkar endorse, serta melakukan cek silang sebelum membagikan informasi. Bukan untuk membuat siswa curiga pada semua hal, tetapi untuk membuat mereka punya jeda sebelum percaya.

    Ketiga, OJK dan BI perlu melihat paylater, dompet digital, affiliate, dan impulsive buying sebagai bagian dari ekosistem informasi, bukan semata transaksi keuangan. Promosi finansial yang menyamar sebagai gaya hidup perlu dibaca sebagai risiko literasi.

    Keempat, media publik dan media berita harus berhenti menunggu anak muda datang ke kanal lama. Kalau 73 persen Gen Z mencari informasi lewat media sosial, maka konten kepentingan publik harus hadir di TikTok, Reels, Shorts, dan format pendek lain tanpa kehilangan akurasi. Bukan berarti semua berita harus menjadi joget-joget, tetapi cara penyampaiannya perlu memahami ritme konsumsi baru.

    Kelima, platform perlu didorong menyediakan transparansi rekomendasi yang lebih jelas, label iklan dan affiliate yang tidak malu-malu, pilihan reset feed yang mudah, friksi sebelum repost, serta perlindungan default untuk pengguna muda. Regulasi tidak boleh hanya fokus pada konten berbahaya, tetapi juga pada desain yang membuat orang terus terpapar tanpa sadar.


    Gen Z bukan masalah, tapi medan strategis
    Kesalahan terbesar dalam membahas Gen Z adalah menjadikan mereka terdakwa. Padahal mereka lebih tepat disebut medan strategis: tempat bertemunya algoritma, pasar, pendidikan, keluarga, media, dan negara.

    Gen Z memang bisa rentan terhadap tekanan status, FOMO, konsumsi impulsif, dan kredibilitas berbasis viralitas. Tetapi mereka juga punya potensi menjadi agen ketahanan informasi paling penting, justru karena mereka hidup di dalam infrastruktur digital sejak awal. Mereka tahu bahasa platform, memahami format konten, dan bisa bergerak cepat membangun kontra-narasi bila diberi kerangka yang tepat.

    Maka, tugas kita bukan sekadar menyelamatkan Gen Z dari media sosial. Itu terdengar heroik, tetapi agak mustahil. Tugas yang lebih realistis adalah membangun ekologi informasi yang membuat mereka lebih tahan: lebih sadar algoritma, lebih kuat secara finansial, lebih hati-hati terhadap manipulasi, lebih beragam sumber informasinya, dan lebih percaya pada bukti daripada sekadar vibe.

    Pada akhirnya, ketahanan informasi nasional tidak hanya dibangun di ruang rapat kementerian, dokumen strategi, atau seminar resmi. Ia juga dibangun di momen kecil ketika seorang anak muda berhenti dua detik sebelum repost, mengecek sumber sebelum percaya, sadar bahwa konten viral belum tentu benar, dan paham bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti standar yang dipilihkan beranda.

    Di zaman ketika algoritma ikut mengatur apa yang terlihat penting, kemampuan untuk berkata “sebentar, saya cek dulu” bisa menjadi bentuk bela negara yang paling sederhana sekaligus paling relevan. 


    Penulis: Mahendra Bhirawa, S.E., S.H., M.Sc. (Kabid Penelitian dan Pengembangan DPP Bhumi Literasi Anak Bangsa)

    Komentar

    Tampilkan