Di zaman era serba digital saat ini media sosial adalah suatu hal yang tak dapat terlepas dari kehidupan sehari-hari. Bagi Generasi-Z atau yang biasa dikenal Gen-Z, media sosial adalah identitasnya Media sosial salah satu platform yang digunakan sebagai tempat pencarian dalam memenuhi kebutuhan informasi zaman sekarang. Dengan adanya media sosial, Gen-Z ini dapat berekspresi dan berkomunikasi.Pencarian informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi Gen-Z dengan menggunakan media sosial, juga didorong oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktornya adalah pertumbuhan sumber informasi digital yang berkembang membuat media sosial menjadi tempat yang sangat tepat untuk menampung segala jenis informasi.
Interaksi digital yang tak henti-hentinya ini menciptakan digital noise arus informasi, notifikasi, dan stimulus visual yang overload tanpa jeda yang secara bertahap menggerogoti kondisi psikologis. Penelitian Gitnux 2025 menyoroti hubungan langsung dengan efek negatif seperti kecemasan laten atau silent anxiety, yang tidak selalu tampak secara klinis tapi merusak kesejahteraan emosional jangka panjang. Paparan konten yang tanpa henti menciptakan “overload” informasi. Secara psikologis, kelebihan stimulasi dapat menurunkan fokus, meningkatkan stres, dan memicu keadaan emosional yang tidak stabil. Ketika mahasiswa secara bersamaan membandingkan diri dengan standar sosial yang tidak realistis di media sosial, tekanan ini semakin kuat.
Secara psikologis, kelebihan stimulasi sensorik menyebabkan cognitive overload, menurunkan kemampuan fokus (attention span Gen Z rata-rata 8 detik), meningkatkan kadar kortisol (hormon stres), dan memicu emosi tidak stabil seperti iritabilitas. Kesehatan mental Generasi Z adalah masalah yang semakin penting dalam masyarakat saat ini. Berbagai penelitian telah menunjukkan peningkatan angka depresi, kecemasan, gangguan makan, dan masalah kesehatan mental lainnya di kalangan remaja. Para ahli telah mulai mempertimbangkan pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental generasi Z sebagai salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan ini.
Salah satu dampak utama dari penggunaan media sosial adalah perbandingan sosial yang meningkat. Gen Z sering kali terpapar dengan gambar-gambar yang memperlihatkan kehidupan yang sempurna dan prestasi yang luar biasa dari teman teman mereka atau selebriti di media sosial. Keterlibatan Gen Z di media sosial bisa berdampak negatif, namun juga dapat membantu dalam menemukan dukungan dan konektivitas Kesehatan mental. Sama seperti kebanyakan hubungan yang dimiliki generasi Z, hubungan yang dimiliki generasi Z dengan media sosial bisa menjadi rumit, karena penggunaan media sosial dapat menyebabkan rasa takut ketinggalan (FOMO) atau citra tubuh yang buruk, namun juga dapat membantu hubungan sosial dan ekspresi diri.
Ketergantungan pada media sosial sering kali mengurangi kualitas komunikasi tatap muka. Generasi Z cenderung merasa canggung atau kurang percaya diri saat harus berbicara langsung. Selain itu, pola komunikasi yang singkat dan informal di media sosial dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam menyusun kalimat yang jelas dan terstruktur secara formal. Selain itu, fenomena Fear of Missing Out (FoMO) juga menjadi isu yang sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial di kalangan Generasi Z. Mereka cenderung terus memantau aktivitas teman-teman mereka secara daring yang dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional dan pola komunikasi mereka dalam kehidupan nyata.
Generasi Z yang terbiasa dengan media sosial sering kali mengalami penurunan keterampilan komunikasi langsung, seperti kesulitan membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh lawan bicara. Akibatnya, mereka lebih cenderung menghindari percakapan tatap muka. Dalam beberapa kasus, Generasi Z lebih nyaman menyampaikan perasaan mereka dalam bentuk tulisan daripada berbicara langsung, yang berisiko menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi emosional.
Ketenangan psikis bagi Gen-Z adalah Memposting kegiatan sehari-hari sesuai dengan gaya hidup, lifestyle yang dianggap keren adalah yang memiliki tren sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, postingan tersebut belum tentu mencerminkan kehidupan sosial mereka yang sebenarnya. Selain itu, unggahan yang sering diposting itu mayoritas foto atau gambar yang senang, bukan yang sedih. Percayalah manusia dapat memanipulasi kondisi perasaannya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Jadi apabila postingan tersebut tidak mendapatkan respons yang diharapkan, maka dikhawatirkan dapat mempengaruhi dan memperburuk kondisi mental.
Apabila penggunaan social media tidak digunakan dengan baik, maka dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental bagi kehidupan terutama tidak stabilnya emosional yang dimiliki dan social lifenya. Penggunaan media sosial dengan bijak dan dapat mengetahui pengaruh yang ditimbulkan dari media sosial terhadap ketenangan kesehatan mental Gen-Z,sehingga dapat memitigasi dan meminimalisir dampak yang akan terjadi yang kelak akan mempengaruhi kesehatan mental para Gen-Z.
Penulis: Irma Putri Farahani, S.Psi. (Pgs. Bendahara Umum / Kabid Sosial dan Pengabdian Masyarakat DPP Bhumi Literasi Anak Bangsa)


