-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Lentera Ilmu di Graha Sepuluh Nopember

    Bhumi Literasi
    Tuesday, May 19, 2026, May 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T02:21:14Z

     


    Pagi itu, langit Surabaya memantulkan cahaya keemasan yang jatuh lembut di pelataran Graha Sepuluh Nopember. Di antara deretan tamu yang mengenakan pakaian resmi, Dwi Shinta Dharmopadni melangkah perlahan dengan wajah tenang, meski dadanya dipenuhi getaran haru yang sulit dijelaskan. Hari itu bukan sekedar hari pelantikan profesi. Hari itu adalah penanda perjalanan panjang seorang perempuan yang selama bertahun-tahun menyalakan cahaya literasi di tengah masyarakat, sembari diam-diam menempuh jalan menuju dunia keinsinyuran.

    Ruang utama gedung megah itu dipenuhi suasana khidmat. Lagu kebangsaan menggema, berpadu dengan suara langkah para insinyur yang berjalan menuju kursi masing-masing. Shinta menatap panggung dengan mata berbinar. Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskannya membaca buku, menyusun program literasi, dan menghadiri berbagai kegiatan sosial, bahkan ketika kesibukan akademik dan tuntutan profesional hampir merenggut waktu istirahatnya. Baginya, ilmu bukan sekedar pencapaian pribadi, melainkan jalan pengabdian.

    Ketika Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember berdiri di podium dan memulai prosesi pelantikan, suasana mendadak terasa lebih sakral. Suara beliau terdengar tegas namun hangat, menegaskan bahwa gelar insinyur bukanlah sekedar simbol akademik. Gelar itu adalah amanah moral, komitmen profesional, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Shinta mendengarkan setiap kalimat dengan penuh perhatian, seolah kata-kata itu menjelma menjadi janji yang diukir langsung di dalam hatinya.

    Satu per satu nama dipanggil. Hingga akhirnya terdengar nama “Dwi Shinta Dharmopadni.” Tepuk tangan memenuhi ruangan. Dengan langkah mantap, ia maju menuju panggung. Dalam hitungan detik, gelar Insinyur resmi melekat di depan namanya. Namun bagi 
    Shinta, kehormatan itu bukanlah puncak perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan keyakinan bahwa ilmu harus menjadi jembatan untuk membantu lebih banyak manusia.

    Di deretan kursi kehormatan, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, turut menghadiri prosesi tersebut. Dalam sambutannya, ia berbicara tentang tantangan bangsa yang semakin kompleks, krisis pangan, perubahan teknologi, dan kebutuhan inovasi yang terus berkembang. Menurutnya, para insinyur baru tidak boleh berhenti menjadi pencari ilmu semata, tetapi harus menjadi penggerak perubahan. Kalimat-kalimat itu menggema kuat di dalam ruangan, menghadirkan semangat yang membakar optimisme seluruh peserta pelantikan.

    Bagi banyak orang, dunia literasi dan dunia teknik mungkin terlihat berjauhan. Namun Dwi memandang keduanya sebagai dua sungai yang dapat bertemu dalam satu muara pengabdian. Selama memimpin Yayasan Bhumi Literasi Anak Bangsa, ia percaya bahwa bangsa besar dibangun bukan hanya oleh mesin dan teknologi, tetapi juga oleh manusia-manusia yang gemar membaca, berpikir kritis, dan memiliki empati sosial. Karena itulah ia tidak pernah meninggalkan gerakan literasi, bahkan ketika kesibukan profesional semakin padat.

    Di sela acara, Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa menatapnya dengan mata penuh kebanggaan. Dia mengenal 
    Shinta bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai sosok yang selalu hadir mendengarkan mimpi anak-anak muda. Ia sering berkata bahwa pendidikan adalah perjalanan tanpa garis akhir. Hari itu, ucapan tersebut terasa hidup di hadapannya. Sosok perempuan yang selama ini mengajak orang lain belajar, kini membuktikan sendiri bahwa belajar tidak mengenal usia dan jabatan.

    Menjelang siang, cahaya matahari mulai menembus kaca-kaca besar gedung Graha Sepuluh Nopember. Para tamu saling bersalaman dan mengabadikan momen berharga. Namun di tengah keramaian itu, 
    Shinta justru terdiam sejenak di sudut ruangan. Ia membayangkan berbagai kemungkinan baru yang dapat lahir dari perpaduan literasi dan keinsinyuran. Ia membayangkan perpustakaan berbasis teknologi di daerah terpencil, program pendidikan digital untuk anak-anak desa, hingga inovasi sosial yang mampu menjangkau masyarakat luas.

    Perjalanan hidup telah mengajarkannya bahwa keberhasilan bukanlah tentang seberapa tinggi gelar yang diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Gelar Insinyur yang kini disandangnya bukan sekedar kebanggaan pribadi, tetapi juga simbol harapan bagi Bhumi Literasi yang selama ini berjalan bersamanya. Ia ingin membuktikan bahwa seorang pegiat literasi pun mampu berdiri sejajar di dunia profesional tanpa kehilangan nurani sosialnya.

    Saat sore mulai turun di Kota Surabaya, 
    Shinta melangkah keluar dari gedung dengan senyum yang lebih tenang dibanding pagi tadi. Langit jingga membentang luas di atas kampus ITS, seolah menjadi saksi lahirnya babak baru dalam hidupnya. Di tangannya tergenggam map pelantikan, tetapi di dalam hatinya tergenggam sesuatu yang jauh lebih besar: tekad untuk terus menyalakan lentera ilmu, agar cahaya literasi dan keinsinyuran dapat berjalan berdampingan demi masa depan bangsa Indonesia. 

    Komentar

    Tampilkan