-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Jejak Pengabdian di Timur Negeri

    Bhumi Literasi
    Tuesday, May 19, 2026, May 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-20T00:24:53Z

     


    Hujan turun perlahan di sebuah malam bulan Desember ketika tangis seorang bayi laki-laki memecah kesunyian rumah sederhana di Brebes. Bayi itu diberi nama Prasetyo Budhi Setiawan. Tidak ada kemewahan di rumah itu, hanya kehidupan sederhana dengan seorang ayah anggota Polri dan ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh ketulusan. Namun justru dari rumah kecil itulah tumbuh nilai-nilai tentang disiplin, kejujuran, dan pengabdian kepada bangsa yang kelak membentuk jalan hidupnya.

    Masa kecil Prasetyo lebih banyak dihabiskan di Kota Surakarta. Kota yang tenang dengan budaya Jawa yang kental itu mengajarkannya tentang kesederhanaan dan rasa hormat kepada sesama. Setiap pagi ia melihat ayahnya mengenakan seragam dinas dengan rapi sebelum berangkat bertugas. Pemandangan sederhana itu diam-diam menanamkan kekaguman dalam dirinya. Baginya, seragam bukan sekedar pakaian, melainkan simbol tanggung jawab kepada negara.

    Ketika remaja lain mulai sibuk mencari jati diri, Prasetyo justru semakin yakin dengan jalan pengabdian yang ingin ditempuhnya. Setelah lulus SMA, ia memilih melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan Psikologi. Banyak orang bertanya mengapa ia memilih bidang itu, tetapi Prasetyo percaya bahwa memahami manusia adalah bagian dari pengabdian. Dari ruang-ruang kuliah itulah ia belajar bahwa setiap orang memiliki cerita hidup, luka, dan perjuangannya sendiri.

    Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Setelah lulus kuliah pada tahun 2013, ia beberapa kali mencoba mengikuti seleksi Polri, tetapi gagal. Kegagalan itu sempat membuatnya terdiam cukup lama. Di usia muda, ia harus menerima kenyataan bahwa cita-cita yang diperjuangkannya belum berhasil diraih. Meski begitu, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kekecewaan. Ia tetap bekerja, mulai dari dunia perbankan hingga perusahaan tekstil, sambil terus menyimpan mimpi tentang pengabdian kepada negara.

    Hingga suatu hari pada tahun 2017, kesempatan itu datang kembali. Ia memutuskan mengikuti seleksi Perwira Prajurit Karier TNI. Berbulan-bulan ia mempersiapkan diri, fisik, mental, dan kesehatan, dengan disiplin yang nyaris tanpa kompromi. Semua kegagalan masa lalu seolah berubah menjadi bahan bakar semangatnya. Dan ketika pengumuman kelulusan itu akhirnya tiba, Prasetyo hanya mampu terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa jalan hidupnya benar-benar menemukan arah.

    Pendidikan militer di Akademi Militer Magelang mengubah banyak hal dalam dirinya. Hari-hari penuh latihan keras, disiplin tanpa toleransi, dan tekanan mental membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat. Pada 15 Mei 2018, ia resmi dilantik menjadi Letnan Dua Corps Polisi Militer. Saat mengenakan seragam itu untuk pertama kalinya, bayangan masa kecilnya kembali muncul, tentang ayahnya yang setiap pagi berangkat mengabdi kepada negara.

    Tak lama setelah menyelesaikan pendidikan lanjutan, Prasetyo mendapat penugasan di Papua Barat. Perjalanan menuju tanah timur Indonesia itu menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika pertama kali tiba di Manokwari, ia melihat hamparan laut biru, pegunungan hijau, dan masyarakat dengan kehidupan yang begitu berbeda dari kampung halamannya. Ada rasa asing, ada rasa rindu rumah, tetapi juga ada panggilan pengabdian yang membuatnya tetap bertahan.

    Penugasan di Fakfak perlahan membuka matanya tentang arti Indonesia yang sesungguhnya. Ia bertemu masyarakat dengan budaya yang kaya, hidup dalam toleransi yang hangat, dan memegang kuat nilai persaudaraan. Di tengah tugas sebagai aparat negara, ia mulai memahami bahwa pengabdian bukan hanya soal menjaga keamanan, tetapi juga tentang mendengar, memahami, dan menghormati kehidupan masyarakat yang dilayaninya.

    Malam-malam di Fakfak sering ia habiskan dengan menulis catatan kecil tentang pengalaman hidupnya. Tentang anak-anak Papua yang tersenyum tulus, tentang masyarakat yang hidup sederhana namun penuh kehangatan, dan tentang dirinya sendiri yang perlahan berubah karena tanah itu. Dari catatan-catatan itulah lahir gagasan untuk mendokumentasikan budaya dan kehidupan masyarakat Fakfak dalam sebuah tulisan.

    Di ujung timur negeri, Prasetyo akhirnya memahami satu hal: pengabdian sejati bukanlah tentang seberapa tinggi pangkat atau jabatan seseorang, melainkan tentang seberapa besar ketulusan dalam menjalankan amanah kehidupan. Di tanah Papua Barat, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, jejak pengabdiannya perlahan tertinggal, bukan hanya sebagai seorang prajurit, tetapi juga sebagai manusia yang belajar mencintai bangsanya melalui kehidupan masyarakat yang ditemuinya. 

    Komentar

    Tampilkan