Jakarta – Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Brigjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom. (AI), menegaskan bahwa penerapan meritokrasi merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia pertahanan yang profesional, unggul, dan mampu menjawab tantangan lingkungan strategis yang semakin kompleks. Menurutnya, organisasi modern hanya akan mampu berkembang apabila setiap individu memperoleh kesempatan yang sama berdasarkan kompetensi, integritas, prestasi, dan kapasitas yang dimiliki, bukan semata-mata berdasarkan senioritas.
Dalam pandangannya, meritokrasi bukan sekedar mekanisme promosi jabatan, tetapi merupakan sebuah sistem pengelolaan sumber daya manusia yang mencakup proses rekrutmen, pendidikan, pelatihan, pengembangan karier, hingga evaluasi kinerja secara objektif dan terukur. Melalui sistem tersebut, setiap personel memiliki peluang yang sama untuk berkembang sesuai kemampuan dan kontribusinya terhadap organisasi.
Brigjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary menjelaskan bahwa perkembangan lingkungan strategis global yang ditandai oleh kemajuan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, ancaman siber, hingga perang informasi menuntut hadirnya sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki kompetensi multidisipliner. Oleh karena itu, pembangunan SDM pertahanan tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman semata, tetapi harus didukung oleh peningkatan kapasitas akademik, penguasaan teknologi, serta kemampuan berpikir strategis. Pandangan tersebut juga selaras dengan kajian yang menekankan perlunya transformasi sistem pembinaan personel melalui penguatan rekrutmen, pendidikan, dan pengembangan karier berbasis kebutuhan organisasi.
Menurutnya, meritokrasi juga mampu membangun budaya organisasi yang sehat karena mendorong terciptanya persaingan positif, peningkatan motivasi kerja, serta tumbuhnya semangat inovasi di kalangan personel. Ketika penghargaan dan kesempatan diberikan berdasarkan kualitas kinerja, maka setiap individu akan terdorong untuk terus meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan profesionalismenya.
Ia menilai bahwa transformasi pengelolaan SDM harus didukung oleh sistem informasi yang modern dan terintegrasi. Pemanfaatan teknologi digital, big data, serta kecerdasan buatan dapat meningkatkan objektivitas dalam proses penilaian kompetensi, pemetaan talenta, hingga perencanaan pengembangan karier. Dengan dukungan teknologi tersebut, proses pengambilan keputusan terkait pembinaan personel menjadi lebih akurat, transparan, dan akuntabel.
Lebih lanjut, Brigjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary menekankan bahwa implementasi meritokrasi tidak berarti mengabaikan nilai-nilai kepemimpinan militer seperti loyalitas, disiplin, moralitas, dan pengabdian. Sebaliknya, meritokrasi justru memperkuat nilai-nilai tersebut melalui sistem penilaian yang menyeluruh, yang tidak hanya mengukur aspek akademik dan teknis, tetapi juga karakter, integritas, pengalaman operasional, serta kemampuan memimpin dalam berbagai situasi.
Sebagai institusi pendidikan tinggi pertahanan, Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan RI memiliki peran strategis dalam menyiapkan calon-calon pemimpin yang mampu mengelola organisasi secara profesional di era transformasi digital. Melalui pengembangan kurikulum yang adaptif, riset, dan kolaborasi akademik, fakultas berupaya menghasilkan lulusan yang memiliki kapasitas manajerial, kemampuan analitis, serta wawasan strategis dalam pengelolaan sumber daya pertahanan.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan organisasi pertahanan pada masa depan sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Modernisasi alutsista dan perkembangan teknologi tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi, kemampuan beradaptasi, serta komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat.
Di sisi lain, penerapan meritokrasi dinilai mampu mendukung agenda reformasi birokrasi di lingkungan pertahanan melalui peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas tata kelola sumber daya manusia. Berbagai kajian menunjukkan bahwa sistem merit menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun organisasi yang profesional, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan perubahan, meskipun implementasinya masih memerlukan penguatan budaya organisasi dan transformasi digital.
Menutup pernyataannya, Brigjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary berharap meritokrasi dapat menjadi budaya kerja yang mengakar dalam seluruh proses pengembangan sumber daya manusia di sektor pertahanan. Dengan mengedepankan kompetensi, integritas, inovasi, dan profesionalisme, Indonesia diyakini akan memiliki SDM pertahanan yang tangguh, adaptif, serta siap menjaga kepentingan nasional di tengah dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang.


