-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Menjadi Khalifah, Bukan Penguasa

    Bhumi Literasi
    Thursday, June 25, 2026, June 25, 2026 WIB Last Updated 2026-06-26T10:31:47Z

     


    Renungan dari Mimbar Jumat di Masjid Istiqlal

    Hari Jumat, 26 Juni 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi saya. Seperti biasa, ketika tidak ada pekerjaan maupun kegiatan yang bersifat mendesak, saya bersama senior saya sekaligus Pengawas Bhumi Literasi Anak Bangsa, Mayor Caj Dani Ismunandar, S.Kom.I., M.M., CHRMP., melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Di tengah kesibukan ibu kota, masjid kebanggaan bangsa Indonesia itu selalu menghadirkan suasana yang menenangkan, tempat hati diajak kembali mengingat tujuan hidup yang sesungguhnya.

    Pada kesempatan tersebut, khatib Jumat adalah Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud Mahmuddin, S.H., S.U., M.I.P. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat mendalam. Salah satu kalimat yang paling membekas di hati saya adalah, "Kita ini bukan penguasa di bumi. Kita ini khalifah, wakil Allah untuk menebarkan kebaikan di bumi." Sebuah pesan yang mengingatkan bahwa manusia tidak pernah menjadi pemilik mutlak atas dunia ini.

    Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur keberhasilan dari jabatan, kekuasaan, kekayaan, maupun pengaruh, pesan tersebut terasa seperti alarm yang menyadarkan. Banyak orang berlomba menjadi yang paling berkuasa, seolah-olah kehidupan adalah panggung untuk menunjukkan dominasi. Padahal, kedudukan manusia justru merupakan amanah, bukan hak istimewa yang dapat digunakan sesuka hati.

    Makna khalifah bukanlah menjadi penguasa yang dapat bertindak semaunya, melainkan menjadi penjaga, pengelola, dan pelayan kehidupan. Setiap manusia, apa pun profesinya, memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan. Seorang pemimpin memimpin dengan keadilan, seorang guru mendidik dengan ketulusan, seorang prajurit menjaga keamanan dengan integritas, seorang pengusaha membangun usaha dengan kejujuran, dan setiap individu menebarkan manfaat sesuai kapasitasnya.

    Pesan ini juga menjadi pengingat bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, tetapi pada seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain. Kekuasaan tanpa nilai kemanusiaan hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan amanah yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab akan melahirkan keberkahan bagi banyak orang.

    Bagi saya pribadi, nilai tersebut sangat relevan dengan aktivitas di Bhumi Literasi Anak Bangsa. Gerakan literasi pada hakikatnya bukan sekedar mengajak masyarakat membaca dan menulis, tetapi juga membangun karakter, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Literasi adalah salah satu bentuk nyata menjalankan amanah sebagai khalifah, karena ilmu pengetahuan yang disebarkan akan menjadi jalan lahirnya kebaikan yang terus mengalir.

    Di era digital saat ini, setiap orang memiliki ruang untuk menjadi "pemimpin" melalui media sosial dan berbagai platform digital. Sayangnya, ruang tersebut tidak selalu digunakan untuk menyebarkan manfaat. Tidak sedikit yang justru memanfaatkannya untuk menyebarkan kebencian, fitnah, atau informasi yang menyesatkan. Padahal, jika kita benar-benar memahami makna khalifah, maka setiap kata, tulisan, dan tindakan seharusnya menjadi sarana menghadirkan kedamaian dan kemaslahatan.

    Khutbah Jumat hari ini mengajarkan bahwa bumi bukanlah tempat untuk saling menguasai, melainkan tempat untuk saling menjaga. Kita hanyalah tamu yang diberi amanah dalam waktu yang terbatas. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, dan popularitas akan memudar. Yang akan tetap dikenang adalah jejak kebaikan yang berhasil kita tinggalkan selama hidup.

    Saya percaya bahwa bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan, tetapi oleh mereka yang memiliki kesadaran sebagai khalifah. Ketika setiap individu berlomba menghadirkan manfaat, menghormati sesama, menjaga lingkungan, serta menebarkan ilmu dan kasih sayang, maka peradaban yang bermartabat akan tumbuh dengan sendirinya.

    Saya pulang dari Masjid Istiqlal siang itu bukan hanya membawa ketenangan setelah menunaikan salat Jumat, tetapi juga membawa sebuah renungan yang layak dibagikan kepada siapa pun. Semoga kita semua tidak terjebak dalam ambisi menjadi penguasa atas sesama, melainkan terus berusaha menjadi khalifah yang mengemban amanah Allah dengan menebarkan kebaikan, menghadirkan manfaat, dan meninggalkan warisan terbaik bagi generasi yang akan datang.






    Penulis: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi Anak Bangsa)

    Komentar

    Tampilkan