-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Hustle Culture vs. Mental Tempe: Benarkah Kita Takut Bersaing?

    Admin
    Thursday, July 23, 2026, July 23, 2026 WIB Last Updated 2026-07-23T10:52:27Z

    Kalau ada penghargaan untuk frasa yang paling gampang dilempar kepada orang lain, "mental tempe" mungkin masuk nominasi teratas. Ada pegawai yang pulang tepat pukul lima sore? Mental tempe. Mahasiswa menolak lembur organisasi karena besok ujian? Mental tempe. Anak muda memilih punya waktu untuk keluarga daripada mengejar jabatan? Wah, itu sih sudah pasti kurang ambisi. Seolah-olah ukuran kualitas manusia ditentukan oleh seberapa larut ia pulang kantor dan seberapa sering ia mengunggah foto laptop yang masih menyala tengah malam.

    Lucunya, pada saat yang sama dunia sedang keranjingan dengan hustle culture. Bangun sebelum matahari terbit, bekerja sampai dini hari, akhir pekan tetap membalas email, lalu semuanya dipajang di media sosial sebagai bukti kesuksesan. Kesibukan berubah menjadi identitas. Makin capek, makin keren. Makin sibuk, makin dianggap berharga. Padahal, kalau dipikir-pikir, orang yang benar-benar produktif biasanya justru tidak punya banyak waktu untuk pamer betapa sibuknya mereka.

    Masalahnya, kita sering menyamakan jam kerja dengan hasil kerja. Padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Data OECD menunjukkan bahwa negara-negara dengan produktivitas tenaga kerja yang tinggi tidak selalu menjadi negara dengan jam kerja terpanjang. Produktivitas lahir dari efisiensi, inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia, bukan semata-mata dari berapa lama seseorang duduk di depan layar komputer.

    Di sisi lain, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengingatkan bahwa jam kerja yang berlebihan justru meningkatkan risiko kelelahan, gangguan kesehatan, kecelakaan kerja, hingga menurunkan produktivitas dalam jangka panjang. Dengan kata lain, bekerja tanpa jeda bukanlah simbol dedikasi, melainkan bisa menjadi tanda bahwa ada yang salah dalam cara kita mengelola pekerjaan.

    Lalu muncul pertanyaan yang lebih menggelitik. Benarkah masalah kita adalah "mental tempe"? Atau jangan-jangan kita sedang salah mendiagnosis penyakitnya? Banyak orang Indonesia justru terkenal ulet. Tidak sedikit yang bekerja di dua bahkan tiga tempat demi memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka bukan takut bekerja keras. Mereka sudah bekerja keras. Persoalannya, kerja keras itu sering kali tidak didukung oleh sistem yang menghargai kreativitas, efisiensi, dan inovasi. Kita lebih sering mengapresiasi orang yang pulang paling malam daripada orang yang menemukan cara agar pekerjaan selesai lebih cepat.

    Di sinilah ironi terbesar itu muncul. Kita begitu sibuk menuduh orang lain memiliki "mental tempe", tetapi diam-diam memelihara mental sibuk. Kalender penuh rapat, grup WhatsApp kantor tidak pernah tidur, email dibalas tengah malam, tetapi keputusan tetap lambat, birokrasi tetap berbelit, dan hasilnya tidak jauh berbeda. Kita mengukur loyalitas dari durasi bekerja, bukan dari nilai yang berhasil diciptakan. Kesibukan akhirnya menjadi panggung, bukan lagi alat untuk mencapai tujuan.

    Barangkali sudah waktunya kita berhenti memuja kelelahan sebagai lambang keberhasilan. Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang rakyatnya paling sedikit tidur, melainkan bangsa yang mampu mengubah waktu, pengetahuan, dan teknologi menjadi produktivitas. Kita memang perlu meninggalkan budaya cepat puas, tetapi kita juga tidak perlu meniru hustle culture secara membabi buta. Yang harus kita bangun adalah budaya kerja yang cerdas, adaptif, kolaboratif, dan sehat.

    Jadi, mungkin pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, "Apakah kita takut bersaing?" Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Mengapa kita masih menganggap sibuk sebagai ukuran keberhasilan?" Sebab jika masih ada yang harus kita tinggalkan, mungkin bukan "mental tempe", melainkan mental sibuk tapi tidak produktif. Karena pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling sering lembur. Sejarah hanya mengingat siapa yang berhasil menghasilkan karya yang benar-benar memberi manfaat.


    Ditulis oleh: Mahendra Bhirawa (Kabid Litbang DPP Bhumi Literasi)
    Komentar

    Tampilkan