Budaya membaca kembali menjadi sorotan sebagai salah satu kunci utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan membaca dinilai tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter, pola pikir kritis, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Sekretaris Dewan Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa, Bayu Kurnianto, S.Kom., M.T.I., CHRMP., menegaskan bahwa membaca merupakan aktivitas intelektual yang mampu memperluas wawasan sekaligus membentuk kepribadian seseorang. Menurutnya, seseorang yang memiliki budaya membaca yang baik akan lebih mudah memahami berbagai sudut pandang serta mampu menyikapi persoalan secara lebih arif dan objektif.
"Membaca membuat seseorang bijaksana. Melalui membaca, kita belajar dari pengalaman, pemikiran, dan pengetahuan yang telah diwariskan oleh banyak tokoh serta berbagai peristiwa dalam sejarah. Itulah sebabnya membaca menjadi investasi terbaik bagi setiap individu," ujar Bayu dalam pengarahan kepada Dewan Pengurus Pusat Bhumi Literasi Anak Bangsa.
Ia menjelaskan bahwa kebijaksanaan tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui proses belajar yang panjang. Buku menjadi salah satu media yang mampu memperkaya cara berpikir seseorang, sehingga setiap keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada emosi, tetapi juga pada pertimbangan yang matang dan berlandaskan ilmu pengetahuan.
Menurut Bayu, perkembangan teknologi digital seharusnya menjadi peluang untuk semakin meningkatkan minat baca masyarakat. Kehadiran buku elektronik, jurnal ilmiah, perpustakaan digital, dan berbagai platform edukasi memungkinkan masyarakat mengakses pengetahuan kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan memilih informasi yang benar dan bermanfaat.
Lebih lanjut, Bayu mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup. Ia meyakini bahwa kebiasaan membaca secara konsisten akan melahirkan individu yang kreatif, inovatif, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, komunitas, dan berbagai lembaga dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Menurutnya, budaya membaca tidak dapat tumbuh secara optimal apabila hanya dibebankan kepada dunia pendidikan, melainkan memerlukan dukungan bersama dari seluruh elemen masyarakat.
Dalam pandangannya, bangsa yang memiliki budaya membaca yang kuat akan lebih siap menghadapi persaingan global. Tingginya tingkat literasi akan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas, inovasi, serta kemampuan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial secara konstruktif.
Pesan yang disampaikan Bayu mendapat apresiasi dari berbagai kalangan pegiat literasi. Gagasan bahwa membaca merupakan jalan menuju kebijaksanaan dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, ketika kemampuan menyaring informasi menjadi salah satu kompetensi yang sangat penting di era digital.
Melalui semangat literasi yang terus digelorakan, Bayu Kurnianto berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa membaca bukan sekedar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun manusia yang cerdas, berkarakter, dan bijaksana. Dengan budaya membaca yang semakin kuat, diharapkan akan lahir generasi Indonesia yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsa, masyarakat, dan peradaban.


