Ada fenomena yang mungkin tidak selalu terlihat dalam sebuah organisasi, yaitu ketika seseorang begitu berambisi mendapatkan jabatan, tetapi cara yang ditempuh bukan semata-mata melalui prestasi dan kerja nyata. Kedekatan dengan atasan, kepandaian mengambil hati, bahkan kecenderungan untuk selalu membenarkan keputusan pimpinan terkadang dianggap sebagai jalan yang lebih cepat menuju posisi yang lebih tinggi. Dalam situasi seperti ini, jabatan tidak lagi sekedar hasil dari kompetensi, melainkan dapat berubah menjadi tujuan yang dikejar dengan berbagai cara.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika ambisi tersebut tidak ditanggung oleh orang yang mengejarnya. Atasan yang ingin terlihat berhasil justru membebankan pekerjaan kepada bawahan. Target harus tercapai, kegiatan harus berjalan, laporan harus selesai, dan berbagai kebutuhan harus dipenuhi. Sementara itu, nama yang kemudian muncul sebagai keberhasilan sering kali adalah nama orang yang berada di atas. Bawahan bekerja keras di belakang layar, sedangkan atasan menikmati hasil di panggung depan.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika keberhasilan sebuah kegiatan mulai menggunakan pengorbanan pribadi bawahan. Bawahan diminta bekerja lebih lama, menggunakan tenaga di luar kewajaran, bahkan dalam kondisi tertentu mengeluarkan uang dari kantong pribadi agar kegiatan yang dipimpin atasannya terlihat berhasil. Persoalannya bukan sekedar nominal uang yang dikeluarkan, melainkan munculnya budaya bahwa bawahan harus berkorban agar atasannya mendapatkan citra keberhasilan.
Jika kondisi semacam ini berlangsung terus-menerus, organisasi dapat kehilangan batas antara loyalitas dan eksploitasi. Loyalitas seharusnya berarti menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, bukan menyerahkan seluruh beban kepada bawahan. Kesediaan membantu atasan memang merupakan bagian dari kerja organisasi, tetapi bantuan tersebut semestinya berada dalam koridor tugas, kewenangan, aturan, dan kemampuan masing-masing.
Lebih berbahaya lagi ketika bawahan tidak memiliki ruang untuk mengatakan keberatan. Mereka mungkin takut dianggap tidak loyal, tidak solid, tidak mendukung pimpinan, atau bahkan dicap sebagai orang yang sulit diajak bekerja sama. Akhirnya, bawahan memilih diam. Mereka mengeluarkan tenaga, waktu, bahkan uang pribadi, bukan karena benar-benar mampu atau rela, tetapi karena merasa tidak memiliki pilihan lain.
Dalam jangka panjang, budaya seperti ini justru dapat merusak kualitas organisasi. Orang-orang yang kompeten bisa kehilangan motivasi karena merasa kerja keras mereka tidak dihargai secara proporsional. Mereka melihat bahwa yang mendapat apresiasi bukan selalu orang yang paling banyak bekerja, tetapi orang yang paling pandai membangun citra di hadapan pimpinan. Jika hal tersebut menjadi kebiasaan, organisasi berisiko membentuk budaya yang lebih menghargai pencitraan daripada kinerja.
Seorang pemimpin seharusnya memahami bahwa keberhasilan tidak boleh dibangun dari penderitaan orang-orang yang dipimpinnya. Jika sebuah kegiatan berhasil karena bawahan bekerja tanpa mengenal waktu, mengorbankan kepentingan pribadi, bahkan mengeluarkan uang sendiri, maka pemimpin semestinya tidak hanya menerima pujian. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan kontribusi bawahannya diakui dan kebutuhan organisasi dipenuhi secara layak.
Begitu pula bagi seseorang yang sedang mengejar jabatan. Naiknya posisi seharusnya menjadi konsekuensi dari kompetensi, integritas, kemampuan memimpin, dan rekam jejak kerja, bukan karena kemampuan menjilat atau memanfaatkan tenaga orang lain. Jabatan yang diperoleh dengan cara demikian mungkin memberikan posisi secara formal, tetapi kepemimpinan yang sesungguhnya dibangun dari kepercayaan. Kepercayaan tidak lahir karena seseorang pandai menyenangkan atasan, melainkan karena ia mampu menghargai orang-orang yang bekerja bersamanya.
Organisasi yang sehat semestinya menciptakan sistem yang membuat keberhasilan menjadi tanggung jawab bersama. Ketika ada kegiatan, kebutuhan pembiayaan harus direncanakan dengan jelas. Ketika ada pekerjaan, pembagian tugas harus proporsional. Ketika ada keberhasilan, apresiasi tidak hanya diberikan kepada orang yang tampil di depan, tetapi juga kepada mereka yang bekerja di balik layar. Dengan demikian, bawahan tidak diposisikan sebagai alat untuk memperbesar reputasi atasan.
Jabatan hanyalah sebuah amanah dan posisi hanyalah sebuah peran. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan posisi tersebut untuk membangun orang lain, bukan menjadikan orang lain sebagai tangga untuk mencapai kepentingannya sendiri. Atasan yang baik bukanlah mereka yang mampu membuat bawahannya bekerja paling keras demi dirinya, tetapi mereka yang mampu membuat bawahannya tumbuh, merasa dihargai, dan bekerja dengan kesadaran bahwa keberhasilan organisasi adalah keberhasilan bersama. Sebab, ketika seorang atasan harus mengorbankan bawahannya demi terlihat berhasil, yang sebenarnya sedang dibangun bukanlah kepemimpinan, melainkan sekedar citra.
