Hidup bertetangga sejatinya adalah latihan sosial paling dekat dan nyata. Kita tidak memilih siapa yang tinggal di kanan-kiri rumah, tetapi kita dituntut untuk berinteraksi, atau setidaknya berdampingan. Ketika yang kita hadapi adalah tetangga dengan perilaku toxic, suka bergosip, memprovokasi, merasa paling benar, atau gemar merusak suasana, di situlah ujian kedewasaan sosial dimulai.
Bertetangga dengan orang toxic memaksa kita belajar satu hal penting: tidak semua orang bisa kita ubah. Sering kali kita datang dengan niat baik, ingin merangkul, menjelaskan, atau meluruskan. Namun realitasnya, ada orang yang justru berkembang dari konflik dan drama. Refleksinya, kedewasaan bukan tentang memenangkan perdebatan, melainkan tahu kapan harus berhenti berharap.
Kehadiran tetangga toxic juga menjadi cermin batas diri (personal boundaries). Selama ini kita mungkin terlalu mudah membuka akses: cerita pribadi, urusan keluarga, bahkan masalah ekonomi. Ketika informasi itu dipelintir dan menjadi bahan gosip, kita belajar bahwa tidak semua orang berhak tahu segalanya tentang hidup kita.
Dari situ, kita diajarkan seni menjaga jarak tanpa harus bermusuhan. Tidak semua jarak adalah tanda kebencian; sebagian justru bentuk perlindungan diri. Menyapa seperlunya, bersikap sopan tanpa harus akrab, adalah pilihan dewasa yang sering disalahpahami sebagai sikap sombong, padahal sejatinya itu adalah bentuk menjaga kesehatan mental.
Tetangga toxic juga menguji pengendalian emosi kita. Sindiran, tatapan sinis, atau omongan belakang sering kali memancing reaksi spontan. Namun refleksi terpentingnya adalah: reaksi kita menentukan kualitas hari kita sendiri. Saat kita memilih tenang, kita sedang menang tanpa perlu berteriak.
Menariknya, dari lingkungan yang tidak sehat, empati justru bisa tumbuh. Kita mulai bertanya, “Kenapa ia seperti itu?” Bisa jadi ada luka lama, rasa tidak diakui, atau hidup yang penuh tekanan. Empati bukan untuk membenarkan perilaku toxic, tetapi untuk mencegah kita berubah menjadi versi yang sama buruknya.
Bertetangga dengan mereka yang toxic juga mengajarkan seleksi pergaulan secara alami. Kita belajar mengidentifikasi mana lingkungan yang menumbuhkan dan mana yang menguras energi. Dari sini, kita terdorong membangun lingkar sosial yang lebih sehat, meski kecil, tetapi saling menguatkan.
Pengalaman ini mengasah kecerdasan sosial kita sebagai warga masyarakat. Kita belajar berkomunikasi secara asertif, tidak pasif tapi juga tidak agresif. Kita paham kapan harus bicara, kapan diam, dan kapan menyerahkan urusan pada mekanisme sosial yang lebih formal.
Refleksi paling dalam adalah tentang kendali diri. Kita mungkin tidak bisa memilih tetangga, tetapi kita selalu bisa memilih sikap. Lingkungan boleh toxic, namun karakter kita tidak harus ikut terkontaminasi. Justru di situ nilai diri diuji: apakah kita tetap waras di tengah ketidakwajaran.
Bertetangga dengan mereka yang toxic adalah pelajaran hidup yang tidak diminta, tetapi berguna. Ia mengajarkan batas, kesabaran, empati, dan kebijaksanaan. Jika kita mampu melewatinya tanpa kehilangan kemanusiaan, mungkin itulah tanda bahwa kita sedang tumbuh, bukan sebagai tetangga yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang lebih matang.


