Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc., menyampaikan pesan reflektif dan penuh makna tentang pengabdian, kehormatan, dan keberlanjutan perjuangan bagi bangsa Indonesia. Pernyataan tersebut tertuang dalam buku “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku)”, yang merekam perjalanan nilai dan pemikiran seorang prajurit intelektual.
Dalam pernyataannya, Mayjen Nugraha menegaskan bahwa meskipun seseorang menanggalkan seragam dinas, kehormatan dan jati diri sebagai prajurit tidak pernah dilepaskan. Nilai-nilai keprajuritan, menurutnya, melekat sepanjang hayat sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab moral kepada bangsa dan negara.
Ia menyampaikan bahwa seluruh pengabdian yang telah dilakukan selama berdinas diharapkan dapat memberikan manfaat bagi generasi penerus negeri. Pengabdian tersebut bukan sekEdar catatan masa lalu, melainkan warisan nilai yang patut dijaga dan dilanjutkan oleh anak bangsa.
Mayjen Nugraha juga menekankan bahwa fase purnatugas bukanlah akhir dari perjuangan. Justru, hal itu menjadi awal dari bentuk pengabdian baru bersama keluarga dan masyarakat, dengan membawa semangat, pengalaman, serta keteladanan yang telah ditempa selama menjadi prajurit TNI.
Nilai disiplin, keberanian, dan keteladanan disebutnya sebagai fondasi utama yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut diyakini mampu menjadi kontribusi nyata dalam membangun karakter bangsa di luar medan tugas militer.
Sebagai Pembina Bhumi Literasi Anak Bangsa dan Wakil Rektor I Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Mayjen Nugraha dikenal aktif mendorong penguatan literasi, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan. Hal ini sejalan dengan pesan yang ia sampaikan dalam buku tersebut.
Ungkapan rasa syukur dan terima kasih juga disampaikan kepada bangsa dan negara yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjaga negeri. Kesempatan tersebut dipandang sebagai kehormatan besar yang patut dibanggakan dan dikenang dengan penuh tanggung jawab.
Dalam pernyataannya, ia juga menyuarakan rasa bangga terhadap Indonesia sebagai tanah air yang telah dijaga, dan dibela sepanjang perjalanan pengabdiannya. Rasa bangga tersebut menjadi pengikat emosional antara prajurit dan bangsa yang tidak pernah terputus.
Pesan yang disampaikan Mayjen Nugraha Gumilar tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi refleksi kolektif tentang makna pengabdian dan nasionalisme. Pesan ini relevan bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda yang tengah mempersiapkan diri sebagai penerus bangsa.
Melalui buku “Ketika Tangan Tuhan Membuka Jalan (Sang Jenderal Pecinta Buku)”, nilai-nilai pengabdian, kerendahan hati, dan cinta tanah air diabadikan sebagai inspirasi. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada Indonesia tidak dibatasi oleh jabatan atau seragam, melainkan oleh komitmen seumur hidup terhadap bangsa dan negara.

