-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


    Menanti Figur Visioner: Siapa Calon Waketum Bhumi Literasi Anak Bangsa di Munas 2026?

    Bhumi Literasi
    Sunday, February 1, 2026, February 01, 2026 WIB Last Updated 2026-02-02T02:18:03Z


    Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Bhumi Literasi Anak Bangsa tahun 2026, satu pertanyaan mulai mengemuka di ruang-ruang diskusi para pegiat literasi: siapakah yang kira-kira akan terpilih menjadi Wakil Ketua Umum? Pertanyaan ini wajar muncul, mengingat posisi Waketum memiliki peran strategis dalam menentukan arah gerak organisasi ke depan, khususnya dalam menjawab tantangan literasi anak bangsa yang kian kompleks.

    Bhumi Literasi Anak Bangsa bukan sekedar organisasi, melainkan gerakan sosial-intelektual yang berfokus pada pembangunan budaya baca, tulis, dan berpikir kritis di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sosok Waketum yang dibutuhkan bukan hanya figur administratif, tetapi pemimpin ideologis yang memahami akar persoalan literasi dan mampu menerjemahkannya menjadi program nyata.

    Dalam Munas september 2026 nanti, besar kemungkinan kandidat Waketum akan berasal dari kalangan yang selama ini aktif terlibat dalam gerakan literasi, baik sebagai pendidik, penulis, akademisi, maupun aktivis sosial. Rekam jejak menjadi faktor penting, sebab kepemimpinan di Bhumi Literasi menuntut konsistensi, dedikasi, dan keberpihakan yang jelas pada kepentingan anak bangsa.

    Selain pengalaman, kemampuan membangun kolaborasi juga menjadi kriteria krusial. Tantangan literasi tidak bisa diselesaikan secara sektoral. Waketum ke depan harus mampu menjembatani kerja sama dengan sekolah, komunitas, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga media. Figur yang terbiasa bekerja lintas sektor tentu memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kepercayaan peserta Munas.

    Di era digital, isu literasi tidak lagi terbatas pada buku cetak. Literasi digital, literasi media, dan literasi budaya menjadi medan baru yang harus digarap serius. Karena itu, calon Waketum yang memiliki pemahaman terhadap transformasi digital dan mampu memanfaatkannya untuk penguatan literasi anak bangsa akan menjadi pilihan yang relevan dengan tuntutan zaman.

    Faktor kepemimpinan personal juga tak kalah penting. Waketum ideal adalah sosok yang komunikatif, rendah hati, dan mampu menjadi teladan. Dalam organisasi berbasis komunitas seperti Bhumi Literasi Anak Bangsa, keteladanan lebih efektif daripada sekedar instruksi struktural.

    Tidak menutup kemungkinan pula muncul figur-figur muda dengan gagasan segar dan pendekatan inovatif. Regenerasi kepemimpinan adalah keniscayaan agar organisasi tetap hidup dan adaptif. Munas 2026 bisa menjadi momentum untuk memadukan pengalaman senior dengan energi dan kreativitas generasi baru.

    Namun demikian, proses pemilihan Waketum seharusnya tidak terjebak pada popularitas semata. Munas perlu menjadi ruang adu gagasan, visi, dan strategi. Kandidat yang mampu mempresentasikan peta jalan literasi yang realistis dan berdampak luas patut mendapatkan perhatian serius dari para peserta.

    Siapa pun yang terpilih sebagai Waketum Bhumi Literasi Anak Bangsa harus menyadari bahwa jabatan tersebut adalah amanah. Amanah untuk memperjuangkan hak anak bangsa atas pengetahuan, akses bacaan, dan ruang belajar yang adil dan inklusif.

    Munas 2026 bukan sekedar agenda lima tahunan, melainkan titik penentu arah gerakan literasi ke depan. Pertanyaan tentang siapa yang akan terpilih sebagai Waketum sejatinya adalah pertanyaan tentang masa depan Bhumi Literasi Anak Bangsa itu sendiri: apakah ia akan terus tumbuh sebagai gerakan yang relevan, progresif, dan berdampak nyata bagi Indonesia. 

    Komentar

    Tampilkan