Malang - Bhumi Literasi Malang kembali menghadirkan ruang diskusi edukatif dalam program Ngobrol Bareng Spesial Ramadan bertema “Ismi wa Usrati: Nama, Keluarga, dan Identitas Diri” pada Minggu, 1 Maret 2026 pukul 15.30 WIB. Kegiatan yang disiarkan langsung melalui akun TikTok Bhumi Literasi Anak Bangsa ini berlangsung lancar dan mendapat antusiasme dari para peserta yang mengikuti secara daring.
Acara ini menghadirkan Ketua Bhumi Literasi Malang, H. M. Arif, S.Hum., M.Pd., M.A., sebagai narasumber, dengan Maulana Anshori, S.Pd., selaku Sekretaris Bhumi Literasi Malang, bertindak sebagai moderator. Diskusi mengangkat makna mendalam di balik nama, keluarga, dan identitas diri dalam perspektif bahasa Arab serta nilai-nilai pendidikan Islam. Tema ini dipilih karena setiap nama adalah doa, setiap keluarga adalah madrasah pertama, dan setiap individu memiliki misi kehidupan.
Dalam pemaparannya, H. M. Arif menjelaskan struktur frasa “Ismi wa Usrati” (اسمي وأسرتي), khususnya terkait konsep idhafah dan fungsi dhamir “-i” pada kata “ismi”. Ia menerangkan bahwa “ismi” merupakan bentuk idhafah dengan dhamir muttashil “-i” yang berfungsi sebagai mudhaf ilaih, menunjukkan kepemilikan atau keterkaitan makna “namaku”.
Selain itu, ia juga menjawab pertanyaan mengenai perbedaan antara kata “ism” (اسم) dan “laqab” (لقب). Secara makna, “ism” merujuk pada nama asli yang diberikan sejak lahir, sedangkan “laqab” lebih kepada julukan atau gelar yang melekat pada seseorang. Dari sisi tata bahasa, keduanya sama-sama isim (kata benda), namun penggunaannya berbeda dalam identitas formal maupun sosial.
Diskusi juga membahas perbedaan penggunaan pola “Ismi…” dan “Ana…” saat memperkenalkan diri. Narasumber menjelaskan bahwa “Ismi…” digunakan untuk langsung menyebut nama, sedangkan “Ana…” menegaskan subjek atau diri pembicara sebelum menjelaskan identitas lebih lanjut. Perbedaan ini memberi nuansa penekanan yang berbeda dalam komunikasi.
Terkait pembentukan jumlah ismiyah (kalimat nominal), dijelaskan bahwa struktur dasar terdiri dari mubtada dan khabar. Contohnya dalam kalimat “Saya seorang pelajar” dapat diungkapkan dengan “Ana thalibun”, sedangkan “Saya anak pertama” dapat menggunakan susunan yang sesuai dengan kaidah nahwu agar tetap jelas dan tidak menimbulkan ambiguitas makna.
Pertanyaan lain yang menarik perhatian peserta adalah perbedaan antara “usrah” (أسرة) dan “‘ailah” (عائلة). Narasumber menjelaskan bahwa meskipun keduanya sering diterjemahkan sebagai “keluarga”, “usrah” lebih menekankan pada keluarga inti, sedangkan “‘ailah” dapat mencakup keluarga besar. Pemahaman konteks menjadi kunci dalam penggunaan kedua istilah tersebut.
Pembahasan juga mencakup kaidah penggunaan dhamir muttashil dalam penyebutan hubungan keluarga seperti “abi”, “ummi”, “akhi”, dan “ukhti”. Selain itu, dijelaskan pula struktur kalimat yang tepat untuk menyebutkan asal daerah, misalnya “Ana min Indonesia” sebagai bentuk sederhana untuk menyatakan asal negara.
Menutup sesi tanya jawab, H. M. Arif memaparkan sejumlah kesalahan umum yang sering dilakukan penutur Indonesia saat memperkenalkan diri dalam bahasa Arab, seperti kesalahan harakat, susunan mubtada-khabar yang tidak tepat, hingga penggunaan kata yang kurang sesuai konteks. Ia menegaskan pentingnya memahami ilmu nahwu dan sharaf agar makna identitas diri tersampaikan dengan benar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Melalui kegiatan ini, Bhumi Literasi Malang berharap dapat meningkatkan literasi bahasa Arab sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya identitas diri dalam perspektif keislaman. Ngobrol Bareng Spesial Ramadan ini menjadi bukti komitmen Bhumi Literasi dalam menghadirkan diskusi yang bermakna dan mencerahkan bagi masyarakat luas.

