Kalau mendengar tentang kopi, entah bagaimana timbul vibes yang cozy, maskulin, bahkan kadang romantis. Hal ini timbul karena kerap kita melihat dan mendengar kehadiran kopi bersama dengan nuansa yang digambarkan tadi. Semangat yang terbarukan, ketenangan yang mengapung, inspirasi yang berloncatan, bahkan kenangan yang tiba-tiba berdatangan. Semuanya bisa hadir bersama secangkir kopi yang disesap dengan khidmad. Begitulah rasa dan aroma membawa tubuh kita pada satu fase tertentu.
Ada beberapa orang mengaku sebagai pencinta kopi, tapi belum masuk level "akut". Contohnya saya. Saya suka dengan aroma kopi, dan sangat butuh dopping kopi dalam situasi tertentu. Berbeda dengan pencinta kopi sejati (sebut saja begitu), saya sudah merasa puas saat kopi saset dua ribuan yang dijual di warung tetangga menemani sore yang hangat.
Ritual menikmati waktu bersama keluarga (baca-suami) jadi semakin candu ketika ditemani kopi yang manis dan creamy, ah katakan saja kopi artifisial, kopi banci. But I don't care, I just love it. Manual brew V60 dari kopi Gayo, memang pernah bikin mata ini on terus. But that's not for me. Kopi adalah bagaimana kita menikmatinya.
Terlepas dari apa dan bagaimana kopi di cangkirmu terhidang, satu hal yang (kadung) lekat pada esensi kopi adalah daya, passion. Entah itu tekad dan semangat yang tumbuh setelah menyesap kopi, bonding yang makin kuat setelah ngopi dengan orang dekat, atau inspirasi yang mengalir deras.
Jadi, apa pun kopimu, nikmati saja dengan bahagia.

.jpeg)
