-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Malang Menampar Realitas Kami

    Bhumi Literasi
    Friday, April 24, 2026, April 24, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T03:35:56Z

     


    Perjalanan hidup sering kali terasa seperti garis lurus: sekolah, kuliah, bekerja, lalu mengejar berbagai pencapaian formal. Namun, ada satu momen yang mampu meruntuhkan ilusi itu, ketika kita kembali ke tempat di mana semuanya dimulai. Itulah yang saya rasakan setelah menghadiri pelantikan profesi insinyur istri saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada 19 April 2026. Alih-alih langsung pulang, kami memilih singgah ke kota yang pernah menjadi saksi perjuangan: Malang.


    Sudah delapan tahun kami tidak menginjakkan kaki di kota ini. Kota yang dulu menjadi ruang tumbuh, tempat jatuh bangun, dan saksi bisu mimpi-mimpi yang masih mentah. Saya dan istri adalah alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, masuk pada 2013 dan lulus pada 2017. Di sanalah kami belajar bukan hanya tentang algoritma dan logika, tetapi juga tentang kehidupan.


    Ironisnya, ketika gelar demi gelar mulai diraih, justru kenangan sederhana terasa lebih bermakna. Malang bukan sekedar kota pendidikan; ia adalah ruang emosi. Setiap sudut jalan, setiap bangunan, seakan berbicara tentang masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Nostalgia bukan sekedar mengingat, tetapi merasakan ulang.


    Kami berkeliling kota tanpa tujuan pasti. Tidak ada agenda resmi, tidak ada jadwal padat, hanya mengikuti arah hati. Dalam perjalanan itu, saya menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menghapus jejak, ia hanya menyamarkannya. Dan ketika kita kembali, semua itu muncul kembali dengan cara yang lebih jujur.


    Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Museum Mpu Purwa. Tempat ini mungkin tidak sepopuler destinasi wisata lain, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Museum ini menyimpan artefak dan warisan sejarah yang mengingatkan kita bahwa identitas tidak dibangun dalam semalam.


    Di dalam museum, saya tidak hanya melihat benda-benda kuno. Saya melihat refleksi diri. Betapa manusia sering kali terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa memahami masa lalu. Padahal, keduanya saling terhubung erat. Tanpa memahami asal-usul, kita hanya akan menjadi manusia yang kehilangan arah.


    Anak kami, Bhumi, mungkin belum memahami makna perjalanan ini. Baginya, ini hanyalah jalan-jalan biasa. Namun, saya percaya suatu hari nanti ia akan mengerti bahwa ayah dan bundanya pernah berdiri di titik nol, berjuang dari bawah, dan belajar dari kota kecil yang penuh makna ini.


    Perjalanan ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar. Gelar insinyur yang diraih istri saya adalah pencapaian luar biasa, tetapi nilai sejatinya terletak pada proses panjang yang mengiringinya. Dan proses itu tidak lepas dari ruang-ruang di Kota Malang yang membentuk karakter kami.


    Kita hidup di zaman yang terlalu mengagungkan hasil. Padahal, proses adalah guru terbaik. Kota Malang mengajarkan kesederhanaan, ketekunan, dan arti bertahan. Ia tidak menawarkan kemewahan, tetapi memberikan kedalaman. Dan itu jauh lebih berharga.


    Berkunjung ke Malang bukan sekedar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin. Ia mengajarkan bahwa sejauh apa pun kita melangkah, akar kita tetap tertanam di masa lalu. Dan mungkin, di sanalah kita menemukan makna sejati dari setiap pencapaian yang kita raih hari ini.







    Penulis: Rizal Mutaqin (Ketua Umum Bhumi Literasi)

    Komentar

    Tampilkan