-->
  • Jelajahi

    Copyright © Bhumi Literasi Anak Bangsa
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Profil

    Perempuan Jadi Insinyur? Emang Bisa?

    Bhumi Literasi
    Friday, April 24, 2026, April 24, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T07:08:02Z

     


    Pertanyaan “Perempuan jadi insinyur? Emang bisa?” bukan sekedar kalimat polos, ia adalah cermin dari cara berpikir lama yang belum sepenuhnya runtuh. Di tengah kemajuan zaman, masih ada keraguan terhadap kapasitas perempuan dalam bidang yang dianggap “keras” seperti teknik. Padahal, realitas hari ini sudah jauh melampaui prasangka itu.


    Saya tidak perlu mencari contoh jauh-jauh. Istri saya sendiri adalah jawabannya. Seorang perempuan, seorang ibu, dan kini seorang insinyur. Bukan karena keberuntungan, tetapi karena konsistensi, kompetensi, dan keberanian untuk terus berkembang meski ruang geraknya terbatas.


    Pada 19 April 2026, saya menghadiri pelantikan profesi insinyur istri saya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Momen itu bukan sekedar seremoni akademik, tetapi simbol runtuhnya batas-batas semu yang selama ini membatasi perempuan. Ia lulus melalui jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau), sebuah jalur yang mensyaratkan pengalaman keinsinyuran minimal tiga tahun, artinya, ini bukan proses instan, melainkan pengakuan atas rekam jejak nyata.


    Yang menarik, perjalanan itu tidak ditempuh dalam kondisi ideal seperti yang dibayangkan banyak orang. Setelah menikah, istri saya memilih untuk 100% mengabdi pada keluarga. Ia hadir penuh untuk anak, memastikan setiap fase tumbuh kembang tidak terlewat. Ia juga selalu ada di rumah saat saya pulang kerja. Dalam pandangan umum, mungkin ini terlihat seperti “berhenti berkembang”.


    Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Di balik peran sepenuhnya sebagai seorang ibu dan istri, ia tetap berkarya. Teknologi menjadi jembatan. Dari rumah, ia mengerjakan berbagai proyek strategis secara remote. Ia tidak harus memilih antara keluarga atau karier, ia menemukan cara untuk menjalankan keduanya secara seimbang.


    Bahkan pada tahun 2024, ia dipercaya menjadi analis media TNI oleh Tentara Nasional Indonesia melalui Kapuspen TNI. Sebuah peran yang menuntut ketajaman analisis, pemahaman strategis, dan tanggung jawab tinggi. Dan semua itu dijalankan dari rumah, tanpa mengorbankan perannya sebagai seorang ibu.


    Di sinilah letak kekeliruan besar dalam cara pandang kita. Kita sering mengukur profesionalisme dari kehadiran fisik di kantor, dari jam kerja yang terlihat, dari mobilitas yang tinggi. Padahal, era digital telah mengubah segalanya. Produktivitas tidak lagi ditentukan oleh lokasi, tetapi oleh kualitas output.


    Kasus ini membuktikan bahwa perempuan tidak harus meninggalkan rumah untuk tetap relevan secara profesional. Mereka tidak harus mengorbankan keluarga untuk berkarya. Yang dibutuhkan adalah akses, kepercayaan, dan kesempatan.


    Ini adalah tamparan bagi budaya yang masih mengutamakan alasan daripada aksi. Jika seorang ibu yang 24 jam bersama anak saja bisa menjadi insinyur dan berkontribusi pada institusi sebesar TNI, lalu apa lagi alasan untuk tidak berkarya?


    Pertanyaan “Perempuan jadi insinyur? Emang bisa?” seharusnya sudah usang. Yang lebih relevan hari ini adalah: “Mengapa kita masih malas dan banyak alasan?” Karena sering kali, batas terbesar bukan pada kemampuan, tetapi pada cara berpikir yang belum berkembang.


    Kisah ini adalah pesan bahwa perempuan memiliki potensi yang sama besar, bahkan dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Dan mungkin, yang perlu diubah adalah pola pikir yang terlalu sempit, dan merasa sudah terlalu tua untuk belajar dan berkarya.






    Penulis: Rizal Mutaqin (Ketua Umum Bhumi Literasi)

    Komentar

    Tampilkan