Kita sering terjebak pada anggapan bahwa gerakan literasi hanya milik mereka yang bergelut di dunia akademik. Seolah-olah membaca, menulis, dan berpikir kritis adalah hak eksklusif kampus dan ruang seminar. Tapi kisah Mas Rizqi Munandhar justru mematahkan mitos itu dengan cara yang cukup menampar: literasi tidak butuh label akademisi, yang dibutuhkan hanyalah kemauan.
Saya mengenal Mas Rizqi sejak masa kuliah di UKM Taekwondo UIN Malang. Bagi saya, beliau bukan sekedar senior, tetapi sudah seperti kakak sendiri. Banyak momen yang kami lalui bersama. Latihan, diskusi, hingga berbagai kegiatan positif yang tanpa sadar membentuk cara berpikir dan karakter kami hari ini.
Secara akademik, rekam jejaknya tidak main-main. Ia merupakan lulusan S1 Kimia UIN Malang dan melanjutkan S2 Kimia di Universitas Brawijaya. Jalur keilmuan yang jelas, terstruktur, dan identik dengan dunia sains. Namun, hidup tidak selalu membawa seseorang tetap di jalur yang sama.
Setelah lulus, kami lama tidak pernah bertemu. Hidup membawa kami ke arah masing-masing. Mas Rizqi kini bekerja di Bima, Nusa Tenggara Barat, sebagai SPV Distribution SPBE di PT Elnusa Petrofin, sebuah dunia yang jauh dari ruang kelas dan jurnal ilmiah. Dunia operasional, dunia lapangan, dunia nyata yang sering dianggap “tidak punya waktu” untuk kegiatan literasi.
Namun justru di titik itulah cerita menarik dimulai. Pada September 2025, setelah saya membentuk struktural Komunitas Bhumi Literasi Anak Bangsa, saya mengajak beliau untuk ikut bergabung dalam gerakan literasi nasional. Tanpa banyak keraguan, ia menyambut ajakan itu dengan antusiasme yang bahkan di luar ekspektasi saya.
Hari ini, Mas Rizqi menjabat sebagai Ketua DPW NTB Bhumi Literasi Anak Bangsa. Bukan sekedar nama di struktur, tetapi benar-benar bergerak. Ia berhasil membangun tiga DPC sekaligus: Bima, Mataram, dan Dompu. Ini bukan pekerjaan ringan, apalagi bagi seseorang yang memiliki tanggung jawab profesional penuh waktu.
Yang lebih menarik, ia tidak berhenti pada peran organisasi. Tahun ini, ia akan meluncurkan buku pertamanya, hasil kolaborasi dengan para penulis Bhumi Literasi. Sebuah langkah yang seringkali bahkan tidak berani diambil oleh mereka yang setiap hari berbicara tentang literasi.
Di sinilah letak ironi yang perlu kita renungkan. Banyak orang yang merasa “dekat” dengan dunia literasi justru berhenti pada wacana. Sementara mereka yang berada di luar lingkaran akademik, seperti Mas Rizqi, justru bergerak nyata: membangun komunitas, menulis buku, dan menggerakkan pemikiran.
Kisah ini bukan sekedar tentang satu orang. Ini adalah cermin bahwa literasi sejatinya adalah gerakan, bukan status. Ia tidak bergantung pada gelar, profesi, atau lingkungan. Literasi adalah pilihan sadar untuk terus belajar, berpikir, dan berbagi, di mana pun kita berada.
Mas Rizqi Munandhar telah menunjukkan bahwa “orang lapangan” pun bisa menjadi motor literasi. Pertanyaannya sekarang sederhana: jika ia bisa, lalu apa alasan kita untuk tidak mulai menulis hari ini?
Penulis: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi)


