-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Bedah Buku: Dari Kelas Kecil Ke Medan Perang (Perjalanan Seorang Anak Guru Menjadi Prajurit TNI)

Thursday, July 30, 2026 | July 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-30T07:50:00Z

 



Penulis: Dwi Shinta Dharmopadni

Pendidikan Adalah Titik Awal Pengabdian

Di tengah banyaknya buku bertema militer yang lebih banyak mengisahkan operasi, strategi, maupun peperangan, buku Dari Kelas Kecil Ke Medan Perang (Perjalanan Seorang Anak Guru Menjadi Prajurit TNI) memberikan sudut pandang yang berbeda. Buku ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan seorang anak guru dari kota Jember yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan hingga akhirnya berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Perwira TNI. Kisah tersebut tidak disampaikan melalui narasi heroisme yang berlebihan, melainkan melalui rangkaian pengalaman hidup yang sederhana, dekat dengan keseharian, dan penuh nilai kehidupan.

Buku ini ditulis oleh Dwi Shinta Dharmopadni, S.Kom., yang menghadirkan perjalanan hidup suaminya, Lettu Chb Rizal Mutaqin, sebagai tokoh utama. Perspektif seorang istri menjadikan penyampaian cerita terasa hangat, personal, dan emosional tanpa kehilangan alur kronologis perjalanan hidup sang tokoh. Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak memahami bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keluarga, pendidikan, doa, serta ketekunan.


Anak Guru yang Tumbuh Bersama Nilai-Nilai Pendidikan
Bagian awal buku memperlihatkan bagaimana lingkungan keluarga membentuk karakter tokoh utama. Ayah yang merupakan guru teknik listrik dan ibu yang menjadi guru agama menghadirkan perpaduan antara pendidikan intelektual dan pendidikan moral. Lingkungan inilah yang menjadi fondasi utama pembentukan karakter tokoh.

Menariknya, penulis tidak menggambarkan masa kecil sebagai perjalanan yang serba mudah. Justru kehidupan sederhana menjadi ruang belajar mengenai kerja keras, rasa syukur, serta pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk mengubah masa depan. Pembaca dapat melihat bahwa profesi guru bukan hanya mengajarkan ilmu di sekolah, tetapi juga membangun karakter anak-anaknya melalui keteladanan sehari-hari.


Teknologi Menjadi Jembatan Menuju Pengabdian
Salah satu kekuatan buku ini adalah keberhasilannya menunjukkan bahwa dunia teknologi informasi dapat berjalan berdampingan dengan dunia militer. Ketertarikan tokoh utama terhadap komputer sejak kecil berkembang menjadi prestasi akademik ketika menempuh pendidikan Teknik Informatika.

Perjalanan tersebut semakin menarik ketika penulis menceritakan pengalaman mengikuti Hackathon Kartika Eka Paksi Cipta Yudha TNI AD. Dari sinilah mulai terlihat bahwa kemampuan teknologi bukan hanya berguna bagi industri sipil, tetapi juga menjadi kebutuhan strategis dalam pertahanan negara. Pertemuan dengan pimpinan TNI AD dalam kegiatan tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah cita-cita tokoh utama untuk bergabung menjadi prajurit TNI.


Menggambarkan Seleksi dan Pendidikan Militer Secara Humanis
Bagian paling inspiratif dalam buku ini adalah ketika mengisahkan proses seleksi Perwira Prajurit Karier TNI hingga pendidikan di Akademi Militer. Penulis tidak hanya menceritakan keberhasilan akhir, tetapi juga memperlihatkan perjuangan panjang berupa latihan fisik, ujian mental, proses seleksi berlapis, hingga pendidikan dasar keprajuritan.

Yang menarik, kehidupan militer tidak digambarkan semata-mata sebagai simbol kekuatan fisik. Pembaca justru diperlihatkan bagaimana disiplin, kepemimpinan, loyalitas, tanggung jawab, dan pengorbanan dibangun secara bertahap melalui proses pendidikan. Hal ini menjadikan buku bukan sekedar autobiografi, melainkan juga media edukasi bagi masyarakat yang ingin mengenal dunia militer dari perspektif yang lebih manusiawi.


Nilai Keluarga yang Tidak Pernah Hilang
Di balik seluruh pencapaian tokoh utama, sosok ayah menjadi benang merah yang terus hadir sepanjang buku. Banyak dialog sederhana antara ayah dan anak yang justru menjadi bagian paling emosional. Kehadiran ayah bukan hanya sebagai orang tua, tetapi juga mentor, guru, sahabat diskusi, sekaligus sumber motivasi.

Dedikasi buku kepada almarhum ayah memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang anak merupakan hasil dari nilai-nilai yang diwariskan keluarga. Bahkan ketika sang ayah telah tiada, nilai perjuangan yang pernah diajarkan tetap menjadi kompas dalam setiap langkah kehidupan tokoh utama.


Bahasa yang Ringan dan Mudah Diikuti
Secara gaya penulisan, buku menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Setiap bab disusun secara kronologis mulai dari masa kecil, pendidikan, perjalanan akademik, pengalaman mengikuti kompetisi teknologi, proses seleksi TNI, pendidikan militer, hingga resmi menjadi seorang perwira.

Meskipun demikian, pada beberapa bagian terdapat pengulangan pesan motivasi dan penjelasan yang sebenarnya dapat diringkas sehingga alur cerita menjadi lebih padat. Selain itu, beberapa bab lebih menyerupai catatan pengalaman dibandingkan refleksi mendalam sehingga ruang eksplorasi psikologis tokoh masih dapat diperkaya pada edisi berikutnya.


Kontribusi Buku
Buku ini memiliki nilai penting karena menghadirkan narasi bahwa profesi militer tidak hanya membutuhkan kemampuan fisik, tetapi juga membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tengah transformasi digital, kisah seorang lulusan Teknik Informatika yang kemudian menjadi perwira Korps Perhubungan TNI AD menunjukkan bahwa pertahanan negara juga membutuhkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Selain itu, buku ini memperlihatkan bahwa pendidikan keluarga, ketekunan belajar, dan karakter yang baik merupakan fondasi utama keberhasilan seseorang. Pesan tersebut relevan bagi pelajar, mahasiswa, guru, orang tua, maupun generasi muda yang sedang merancang masa depan.


Penilaian Akhir
Dari Kelas Kecil Ke Medan Perang bukan sekedar kisah perjalanan menjadi prajurit TNI. Buku ini adalah refleksi mengenai bagaimana pendidikan membentuk karakter, bagaimana keluarga menjadi sumber kekuatan, dan bagaimana mimpi dapat diwujudkan melalui kerja keras yang konsisten.

Kekuatan terbesar buku ini terletak pada kejujuran narasinya. Penulis tidak membangun tokoh utama sebagai sosok yang sempurna, melainkan sebagai manusia biasa yang mengalami kegagalan, keraguan, perjuangan, dan akhirnya berhasil karena tidak pernah berhenti belajar.

Sebagai karya biografi inspiratif, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang percaya bahwa ruang kelas dapat menjadi titik awal menuju medan pengabdian yang lebih besar. Dari seorang anak guru di kota kecil, lahirlah seorang prajurit yang mengabdikan ilmu pengetahuan dan kemampuannya bagi bangsa dan negara.

×
Berita Terbaru Update