Jakarta – Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Mayjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom (AI) menegaskan bahwa perang informasi telah berkembang menjadi salah satu ancaman nonmiliter yang memiliki dampak strategis terhadap keamanan nasional. Menurutnya, dinamika perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola ancaman yang dihadapi suatu negara, sehingga tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan militer konvensional.
Mayjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom (AI) menjelaskan bahwa perang informasi merupakan bagian dari spektrum ancaman nonmiliter yang mampu memengaruhi stabilitas politik, sosial, ekonomi, hingga pertahanan negara. Ancaman tersebut dapat melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, memecah persatuan bangsa, serta mengganggu proses pengambilan kebijakan strategis apabila tidak diantisipasi secara tepat.
Menurutnya, serangan informasi tidak hanya terbatas pada penyebaran berita bohong (hoaks). Bentuk ancaman tersebut juga mencakup propaganda yang dirancang untuk memengaruhi persepsi publik, manipulasi opini melalui berbagai platform digital, penyebaran disinformasi dan misinformasi, operasi psikologis, hingga eksploitasi media sosial sebagai sarana menciptakan polarisasi di tengah masyarakat.
Ia menilai bahwa perkembangan media digital telah mempercepat penyebaran informasi tanpa batas ruang dan waktu. Kondisi tersebut memberikan manfaat besar bagi masyarakat, namun di sisi lain juga membuka peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkan ruang digital sebagai arena perang informasi yang sulit dideteksi dan dikendalikan.
Dalam pandangannya, keberhasilan perang informasi sering kali tidak diukur dari kerusakan fisik yang ditimbulkan, melainkan dari keberhasilannya membentuk persepsi, memengaruhi cara berpikir masyarakat, dan mengubah perilaku publik sesuai kepentingan pihak tertentu. Oleh karena itu, ancaman ini dinilai sama seriusnya dengan ancaman konvensional karena mampu melemahkan ketahanan nasional dari dalam.
Mayjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom (AI) juga menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki kemampuan literasi digital yang baik agar mampu membedakan informasi yang valid dengan informasi yang telah dimanipulasi. Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu benteng utama dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Selain itu, ia memandang bahwa sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, media massa, aparat keamanan, serta masyarakat merupakan faktor penting dalam membangun sistem pertahanan informasi nasional. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap berbagai bentuk manipulasi informasi.
Sebagai institusi pendidikan tinggi di bidang pertahanan, Universitas Pertahanan RI terus mendorong pengembangan kajian akademik mengenai ancaman perang informasi dan strategi mitigasinya. Pendekatan multidisiplin dinilai menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan lingkungan strategis global yang semakin kompleks.
Mayjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary berharap seluruh elemen bangsa mampu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk serangan informasi yang berkembang melalui media digital. Menurutnya, menjaga ruang informasi nasional tetap sehat merupakan tanggung jawab bersama demi mempertahankan persatuan, kedaulatan, dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


