Sengkuni hampir selalu dijadikan simbol kelicikan. Ketika seseorang gemar mengadu domba, memutarbalikkan fakta, atau menghasut orang lain, namanya sering disamakan dengan Sengkuni. Namun, apakah kita benar-benar memahami mengapa tokoh ini memilih jalan tersebut? Dalam beberapa tradisi pewayangan, Sengkuni digambarkan bukan lahir sebagai penjahat, melainkan sebagai manusia yang dibentuk oleh penderitaan yang luar biasa.
Dikisahkan bahwa Sengkuni dan keluarganya menjadi korban perlakuan kejam dari pihak Hastinapura. Dalam salah satu versi cerita yang populer, ia bersama ayah, ibu, dan 98 saudara kandungnya dipenjara hingga kelaparan. Demi mempertahankan satu orang agar tetap hidup sebagai pewaris martabat keluarga, Sengkuni harus menyaksikan keluarganya mati satu per satu. Bahkan, kisah itu menggambarkan betapa berat penderitaan yang harus ia tanggung selama bertahun-tahun.
Luka yang sedalam itu melahirkan dendam. Sengkuni kemudian mendedikasikan hidupnya untuk menjatuhkan mereka yang dianggap bertanggung jawab atas kehancuran keluarganya. Jalan yang dipilihnya memang salah, tetapi kebenciannya memiliki akar yang jelas. Ia tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan menjadi jahat tanpa sebab.
Mbah Nun pernah menyampaikan gagasan yang menarik. Menurut beliau, jika melihat besarnya penderitaan yang dialami Sengkuni, sebenarnya ia bisa saja berubah menjadi sosok yang jauh lebih mengerikan. Ia dapat memilih menjadi "teroris besar". Namun yang terjadi, Sengkuni lebih banyak memainkan peran sebagai provokator dan ahli strategi di balik layar. Pandangan ini bukan untuk membenarkan tindakannya, melainkan untuk menunjukkan bahwa penderitaan seseorang dapat menghasilkan pilihan yang jauh lebih ekstrem.
Dari sini kita belajar bahwa tidak semua kejahatan lahir dari ruang hampa. Ada kejahatan yang tumbuh dari luka, pengkhianatan, dan ketidakadilan yang menumpuk selama bertahun-tahun. Memahami latar belakang itu bukan berarti membenarkan kejahatan, tetapi membantu kita melihat manusia secara lebih utuh.
Yang patut menjadi perhatian justru adalah orang-orang yang berbuat jahat tanpa alasan yang layak. Mereka tidak memiliki luka yang mendalam, tidak pernah diperlakukan sekejam Sengkuni, tetapi dengan mudah menyakiti, memfitnah, dan menjatuhkan orang lain. Kejahatan mereka lahir dari iri hati, keserakahan, atau kepentingan pribadi.
Lebih ironis lagi adalah mereka yang tega berbuat jahat kepada orang yang justru telah berbuat baik kepada mereka. Pertolongan dibalas pengkhianatan. Kepercayaan dibalas tipu daya. Persahabatan dibalas fitnah. Kejahatan seperti ini jauh lebih sulit diterima oleh akal sehat karena tidak memiliki alasan moral yang dapat dipahami.
Dalam kondisi itulah muncul ungkapan bahwa "Sengkuni masih lebih mulia." Bukan karena ia adalah tokoh yang patut diteladani, tetapi karena permusuhannya diarahkan kepada pihak yang menurut keyakinannya telah menghancurkan keluarganya. Sementara ada manusia yang tanpa rasa bersalah justru melukai orang-orang yang telah membuka pintu, memberi kesempatan, bahkan menolong hidupnya.
Tentu saja, dendam bukanlah jalan keluar yang benar. Sejarah menunjukkan bahwa dendam hanya melahirkan lingkaran kebencian yang tidak pernah selesai. Namun, kita juga tidak boleh menyamakan semua bentuk kejahatan. Ada perbedaan besar antara seseorang yang jatuh karena luka yang mendalam dengan seseorang yang memilih berbuat jahat kepada orang baik demi keuntungan dirinya sendiri.
Mungkin pelajaran terbesar dari kisah Sengkuni bukanlah tentang bagaimana membalas dendam, melainkan tentang pentingnya menjaga hati agar tidak menjadi pengkhianat. Sebab, seburuk-buruknya Sengkuni dalam kisah pewayangan, masih ada manusia yang lebih buruk, yaitu mereka yang membalas kebaikan dengan kejahatan, mengkhianati orang yang mempercayainya, dan menyakiti orang yang tidak pernah berbuat salah kepada mereka.
Ditulis oleh: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi)