-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Firaun Tak Pernah Mati

Wednesday, August 5, 2026 | August 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-05T12:34:11Z

Firaun memang telah lama tenggelam dalam sejarah. Namun, sifat dan watak yang melekat pada dirinya seolah tidak pernah benar-benar lenyap. Kesombongan, keangkuhan, rasa paling benar, serta hasrat menguasai orang lain terus muncul dalam berbagai zaman. Karena itu, yang mati hanyalah sosoknya, sedangkan mentalitasnya dapat terus hidup di mana pun manusia kehilangan kerendahan hati.

Dalam kehidupan modern, "Firaun" tidak selalu identik dengan seorang raja yang bertakhta. Ia dapat menjelma menjadi siapa saja yang merasa dirinya kebal terhadap kritik, enggan mendengar nasihat, dan menggunakan kekuasaan atau pengaruh untuk menekan orang lain. Ketika seseorang menganggap dirinya berada di atas hukum, di situlah benih-benih mentalitas Firaun mulai tumbuh.

Sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak mutlak. Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru berubah ketika memperoleh jabatan, kekayaan, atau popularitas. Mereka lupa bahwa semua itu bersifat sementara. Jabatan bisa berakhir, harta bisa habis, dan pujian dapat berubah menjadi celaan.

Mentalitas Firaun juga dapat muncul dalam lingkungan yang sederhana. Di kantor, misalnya, ketika seorang atasan menolak setiap masukan hanya karena merasa paling tahu. Di sebuah organisasi, ketika seorang pemimpin organisasi memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi. Bahkan di lingkungan keluarga, sikap merasa paling benar dan tidak mau mengakui kesalahan pun merupakan bibit kesombongan yang patut diwaspadai.

Ironisnya, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana. Media sosial justru terkadang menjadi panggung untuk memamerkan ego, mencari pengakuan tanpa batas, dan menjatuhkan orang lain demi popularitas. Ketika validasi menjadi tujuan utama, kerendahan hati sering kali menjadi korban.

Dalam banyak ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan, kesombongan selalu dipandang sebagai awal dari kehancuran. Firaun menjadi simbol bahwa sebesar apa pun kekuasaan seseorang, ia tetap memiliki batas. Tidak ada manusia yang mampu melawan hukum kehidupan selamanya. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa keangkuhan pada akhirnya akan berhadapan dengan kenyataan.

Karena itu, musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan ego dalam dirinya sendiri. Ketika ego dibiarkan tumbuh tanpa kendali, ia melahirkan sikap merasa paling hebat, paling berjasa, dan paling layak dihormati. Dari sanalah lahir keputusan-keputusan yang mengabaikan keadilan dan kepentingan bersama.

Masyarakat membutuhkan lebih banyak pemimpin yang rendah hati daripada pemimpin yang haus pujian. Kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan. Pemimpin yang mau mendengar, mengakui kekeliruan, dan belajar dari kritik justru menunjukkan kekuatan karakter yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu, sebelum sibuk mencari "Firaun" di luar diri, setiap orang perlu bercermin. Jangan-jangan sifat yang selama ini kita kecam justru mulai tumbuh dalam diri kita sendiri. Introspeksi merupakan langkah penting agar kesombongan tidak berkembang menjadi kebiasaan yang merusak hubungan dengan sesama.

Sebenarnya, judul "Firaun Tak Pernah Mati" bukanlah pernyataan bahwa tokoh sejarah itu masih hidup, melainkan pengingat bahwa mentalitas kesombongan dapat muncul di setiap zaman. Selama manusia masih tergoda oleh kekuasaan tanpa tanggung jawab, harta tanpa kepedulian, dan pujian tanpa kerendahan hati, selama itu pula "Firaun" akan terus hidup sebagai simbol yang harus kita waspadai.


Ditulis oleh: Rizal Mutaqin (Ketum Bhumi Literasi)
×
Berita Terbaru Update