Jakarta – Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, mewakili Dewan Pengurus Pusat (DPP) Bhumi Literasi Anak Bangsa melakukan konsultasi dengan Sekretaris Dewan Pembina Bhumi Literasi, Bayu Kurnianto, pada Kamis (6/8/2026). Pertemuan tersebut membahas fenomena pembunuhan karakter yang kerap menjadi pertanyaan mahasiswa dalam berbagai kegiatan diskusi literasi.
Dalam kesempatan tersebut, Rizal Mutaqin menyampaikan bahwa pertanyaan yang diajukan bukan berasal dari pengalaman pribadi, melainkan merupakan akumulasi pertanyaan dari para mahasiswa saat mengikuti kegiatan "Ngobrol Bareng Bhumi Literasi". Mereka ingin mengetahui apakah Pak Bayu pernah mengalami pembunuhan karakter ketika masih berstatus mahasiswa maupun saat menjalani masa dinas sebagai perwira muda dengan pangkat Letnan Dua hingga Kapten.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Bayu Kurnianto menjelaskan bahwa selama menjadi mahasiswa dirinya tidak merasakan adanya pembunuhan karakter sebagaimana yang sering dipersepsikan banyak orang. Menurutnya, kehidupan kampus lebih didominasi oleh semangat belajar, menyelesaikan tugas, dan menghadapi ujian. Ia melihat mahasiswa hanya memiliki perbedaan dalam tingkat kemampuan belajar, fokus, dan ambisi untuk berprestasi.
Ia menguraikan bahwa mahasiswa yang memiliki ambisi tinggi akan berusaha mencapai prestasi melalui caranya masing-masing. Mahasiswa yang unggul secara akademik cenderung fokus memperdalam ilmu, sementara mahasiswa dengan kemampuan sedang berusaha mencari berbagai sumber informasi dan membangun jejaring belajar. Adapun sebagian mahasiswa yang kurang fokus terkadang memilih mencari sensasi atau menciptakan situasi tertentu demi memperoleh keuntungan pribadi. Karena itu, menurutnya, setiap karakter memiliki pengaruh yang perlu dipahami secara bijaksana.
Berbeda dengan dunia kampus, Bayu menilai lingkungan kedinasan memiliki dinamika yang lebih kompleks. Ia menjelaskan bahwa pembunuhan karakter dapat muncul sejak awal masa pengabdian dengan tingkat tekanan yang berbeda-beda sesuai kepentingan dan situasi organisasi.
Menurut Bayu, tekanan pertama biasanya berupa rasa iri terhadap kemampuan seseorang yang hanya menjalankan tugas secara profesional. Tekanan tersebut umumnya datang dari rekan setingkat maupun bawahan yang merasa tersaingi. Pada tahap ini, bentuknya masih berupa komentar, penilaian negatif, atau upaya kecil untuk mengurangi kepercayaan terhadap individu yang dinilai menonjol.
Tekanan berikutnya berkembang menjadi keresahan pribadi ketika seseorang memperoleh pengakuan lebih besar dari lingkungan maupun pimpinan. Dalam kondisi ini, upaya pembunuhan karakter dapat dilakukan oleh rekan sejawat maupun senior sebagai cara untuk membatasi ruang gerak dan kontribusi seseorang dalam organisasi. Bayu menilai situasi seperti ini membutuhkan kematangan sikap agar tidak terjebak dalam konflik yang tidak produktif.
Sementara itu, pada tingkat yang lebih berat, pembunuhan karakter dapat melibatkan berbagai pihak untuk memengaruhi pengambil kebijakan tertinggi dalam organisasi. Bahkan, menurut Bayu, serangan tidak lagi hanya diarahkan kepada individu, tetapi dapat merembet kepada keluarga atau kehidupan pribadi. Kondisi seperti ini sering dikenal masyarakat sebagai praktik saling menjatuhkan dalam persaingan jabatan maupun kepentingan tertentu.
Sebagai solusi, Bayu Kurnianto menekankan pentingnya membangun kapasitas diri, menjaga profesionalisme, dan mempertahankan integritas yang selaras antara pikiran, hati, ucapan, serta tindakan. Ia juga mengajak setiap orang untuk membangun relasi yang sehat, memperluas jejaring dengan orang-orang yang memiliki nilai positif, serta mampu membaca situasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Menutup konsultasi tersebut, Bayu menyampaikan pesan reflektif untuk generasi muda supaya tetap semangat dan pantang menyerah. "Jangan berteriak di lingkungan yang memiliki keterbatasan pendengaran, tetapi cukup tuliskan pesan atau gunakan bahasa isyarat. Tetaplah berjuang dan jaga integritas diri di tengah lingkungan yang tuli hati, tuli memandang, dan tuli pikiran," ujarnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa integritas dan keteladanan tetap menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di dunia pendidikan maupun dalam kehidupan organisasi dan kedinasan.
