Bhumi Literasi Anak Bangsa terus mendorong penguatan gerakan literasi berbasis komunitas sebagai bagian dari upaya memperluas ruang masyarakat untuk membaca, berdiskusi, menulis, dan menghasilkan karya. Gerakan tersebut dibangun dengan keyakinan bahwa literasi tidak hanya menjadi aktivitas di sekolah atau perpustakaan, tetapi dapat tumbuh dari lingkungan masyarakat dan berkembang melalui kolaborasi antarkomunitas.
Bhumi Literasi Anak Bangsa hadir sebagai wadah bagi masyarakat yang memiliki minat terhadap dunia literasi dan kepenulisan. Organisasi ini didirikan pada 11 Mei 2022 oleh Rizal Mutaqin dan Dwi Shinta Dharmopadni, bertepatan dengan kelahiran anak pertama mereka, Bhumi. Sejak awal, gerakan tersebut diarahkan untuk menjadi ruang bertumbuh bagi penulis pemula maupun mereka yang telah memiliki pengalaman dalam menghasilkan karya.
Dalam perjalanannya, Bhumi Literasi Anak Bangsa mengembangkan berbagai kegiatan yang mempertemukan literasi dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan seperti diskusi, webinar, seminar, workshop, pendampingan menulis, hingga program berbasis komunitas menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Konsep yang dikembangkan Bhumi Literasi menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku gerakan literasi. Setiap orang diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan pemikirannya melalui berbagai bentuk karya. Pendekatan tersebut membuka ruang bagi mereka yang sebelumnya mungkin merasa tidak memiliki kemampuan atau kesempatan untuk menulis.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan “Semua Orang Bisa Menulis Buku” yang menjadi salah satu nilai dalam perjalanan Bhumi Literasi Anak Bangsa. Menulis dipandang bukan semata-mata sebagai aktivitas akademik atau profesi, melainkan sebagai sarana untuk mendokumentasikan pengalaman, menyampaikan gagasan, dan meninggalkan jejak pengetahuan bagi masyarakat.
Gerakan literasi berbasis komunitas juga dibangun melalui interaksi yang berkelanjutan. Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah Teori Lingkaran Literasi Berkelanjutan, yaitu membaca yang memperluas wawasan, wawasan yang mendorong keinginan untuk menulis, tulisan yang melahirkan karya, dan karya yang pada akhirnya kembali mendorong seseorang untuk membaca serta belajar lebih banyak.
Dalam pelaksanaannya, Bhumi Literasi tidak membatasi literasi pada aktivitas menghasilkan buku. Literasi juga ditempatkan sebagai ruang untuk membangun persahabatan, kolaborasi, pertukaran gagasan, serta menumbuhkan harapan. Karena itu, komunitas merupakan elemen penting dalam menjaga agar kegiatan literasi dapat berlangsung secara konsisten dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Perkembangan Bhumi Literasi Anak Bangsa kemudian ditandai dengan semakin luasnya jaringan komunitas dan kepengurusan di berbagai daerah. Kehadiran struktur wilayah memberikan ruang bagi anggota untuk mengembangkan kegiatan sesuai dengan potensi dan persoalan yang ada di daerah masing-masing, sekaligus tetap terhubung dalam satu gerakan literasi bersama.
Berbagai tema yang diangkat dalam kegiatan Bhumi Literasi juga menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan sosial dan pembangunan. Isu pendidikan, kepemimpinan, lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, karakter, hingga pemberdayaan masyarakat dapat dikemas melalui diskusi dan karya sehingga pengetahuan tidak berhenti pada ruang percakapan, tetapi dapat didokumentasikan dan disebarluaskan.
Ke depan, Bhumi Literasi Anak Bangsa berupaya terus memperkuat gerakan literasi berbasis komunitas dengan memperluas kolaborasi dan menciptakan lebih banyak ruang bagi masyarakat untuk membaca, berdiskusi, menulis, dan berkarya. Dengan semangat “Gerakan Literasi dari Keluarga untuk Bangsa”, Bhumi Literasi menempatkan komunitas sebagai salah satu kekuatan dalam membangun budaya literasi yang tumbuh dari masyarakat dan memberikan manfaat bagi bangsa.
