Di banyak organisasi, lembaga, komunitas, bahkan institusi, kegiatan sering kali menjadi ukuran seolah-olah organisasi sedang bekerja. Kalender penuh dengan seminar, rapat, diskusi, peringatan hari besar, seremoni, peluncuran program, dan berbagai agenda lainnya. Foto kegiatan memenuhi media sosial, laporan tersusun rapi, tetapi muncul satu pertanyaan, setelah semua kegiatan itu selesai, apa yang benar-benar berubah?
Seremonial sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Seremonial dapat menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, memberikan penghargaan, memperkenalkan program, sekaligus menyampaikan pesan kepada publik. Persoalannya muncul ketika seremonial berhenti menjadi pintu masuk menuju kerja nyata. Acara selesai, tepuk tangan berakhir, dokumentasi dipublikasikan, lalu semuanya kembali seperti semula tanpa ada tindak lanjut yang jelas.
Kita terkadang terlalu mudah mengukur keberhasilan dari jumlah kegiatan. Satu bulan melaksanakan sepuluh kegiatan dianggap lebih baik daripada satu kegiatan yang menghasilkan perubahan nyata. Padahal, banyaknya kegiatan tidak otomatis menunjukkan banyaknya manfaat. Satu program yang konsisten, terukur, dan menyelesaikan persoalan bisa jauh lebih berarti daripada puluhan acara yang hanya selesai pada saat acara ditutup.
Fenomena ini juga terlihat ketika substansi dikalahkan oleh kemasan. Undangan dibuat menarik, panggung ditata megah, narasumber dihadirkan, spanduk dipasang, kamera bekerja, dan unggahan media sosial disiapkan. Semua terlihat profesional. Namun, ketika ditanya apa tindak lanjutnya, siapa yang bertanggung jawab, kapan targetnya tercapai, dan bagaimana dampaknya diukur, jawabannya sering kali tidak sejelas konsep acaranya.
Padahal, masyarakat tidak hanya membutuhkan kegiatan. Masyarakat membutuhkan solusi. Mereka membutuhkan pengetahuan yang dapat digunakan, pendampingan yang berkelanjutan, akses terhadap kesempatan, serta keberpihakan terhadap persoalan yang benar-benar mereka hadapi. Karena itu, sebuah kegiatan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apa acaranya?”, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan “masalah apa yang hendak diselesaikan?”
Organisasi juga perlu berani membedakan antara aktivitas dan produktivitas. Aktivitas berarti ada sesuatu yang dilakukan. Produktivitas berarti sesuatu yang dilakukan menghasilkan nilai. Keduanya tidak selalu sama. Rapat yang berlangsung berjam-jam belum tentu menghasilkan keputusan. Seminar dengan ratusan peserta belum tentu meningkatkan kapasitas. Program yang ramai di awal belum tentu bertahan ketika perhatian publik mulai berkurang.
Di sinilah pentingnya membangun budaya evaluasi. Setiap kegiatan seharusnya memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan, penanggung jawab, serta tindak lanjut. Setelah kegiatan selesai, yang dievaluasi bukan hanya jumlah peserta atau bagusnya dokumentasi, tetapi juga apa yang dipelajari, apa yang berubah, apa yang dihasilkan, dan apa yang akan dilakukan berikutnya.
Kita tidak sedang mengatakan bahwa organisasi harus berhenti mengadakan acara. Justru sebaliknya, kegiatan tetap diperlukan sebagai sarana bertemu, berdiskusi, membangun jejaring, dan menggerakkan orang. Namun, acara harus ditempatkan sebagai bagian dari sebuah proses, bukan sebagai tujuan akhir. Seremonial boleh menjadi awal, tetapi substansi dan dampak harus menjadi tujuan.
Dalam gerakan literasi, misalnya, seminar tentang pentingnya membaca tidak cukup jika setelah seminar tidak ada kebiasaan membaca yang tumbuh. Pelatihan menulis tidak cukup jika peserta tidak pernah diberi ruang untuk menghasilkan karya. Diskusi tentang pemberdayaan masyarakat tidak cukup jika masyarakat tetap hanya menjadi objek pembicaraan. Literasi seharusnya menghadirkan proses membaca, berdiskusi, menulis, berkarya, berkolaborasi, lalu memberi manfaat.
Organisasi tidak seharusnya sibuk membuktikan bahwa dirinya aktif, tetapi mampu menunjukkan bahwa keberadaannya memberi arti. Tidak masalah jika sebuah kegiatan sederhana, selama substansinya kuat dan manfaatnya nyata. Tidak masalah jika tidak selalu ramai, selama ada proses yang terus tumbuh. Sebab, ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak acara yang kita selenggarakan, melainkan seberapa banyak perubahan yang kita tinggalkan setelah acara itu selesai. Jangan sampai kita terlalu sibuk merayakan kegiatan, tetapi lupa memastikan bahwa kegiatan tersebut benar-benar menghasilkan sesuatu.
