Hari ini saya kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan salah satu senior yang sejak beberapa tahun lalu menjadi bagian dari perjalanan akademik dan literasi saya, Bang Lerian Ashor Yoziarde, S.T., M.Eng. Pertemuan ini terasa istimewa karena bukan sekedar pertemuan antara junior dan senior, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan perspektif tentang perkembangan teknologi, khususnya di bidang pertahanan.
Bang Lerian saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bagi saya, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak pernah memiliki garis akhir. Pendidikan bukan sekedar mengejar gelar, tetapi tentang bagaimana seseorang terus memperdalam ilmu, memperluas cara pandang, dan pada akhirnya memberikan kontribusi yang lebih besar bagi lingkungan dan bangsa.
Sebelumnya, kami pernah berkolaborasi dalam penulisan buku Pemrograman Arduino pada tahun 2024. Saat itu, kami mencoba menghadirkan pengetahuan teknologi dalam bentuk yang lebih mudah dipelajari dan diterapkan. Hari ini, setelah melewati waktu dan pengalaman yang berbeda, kami kembali dipertemukan dalam kondisi yang jauh lebih dekat dengan ekosistem teknologi pertahanan.
Dalam kesempatan tersebut, kami melaksanakan peninjauan atau kunjungan fasilitas produksi PT LEN Industri. Beberapa bidang yang menjadi perhatian antara lain Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone, sistem C4ISR, alat komunikasi (Alkom), serta Night Vision Goggle (NVG). Melihat secara langsung bagaimana teknologi dikembangkan dan diproduksi memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan sekedar mempelajarinya melalui buku, ruang kelas, atau layar komputer.
UAV atau drone, misalnya, menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi tanpa awak telah menjadi bagian penting dalam berbagai kebutuhan modern. Di sisi lain, C4ISR menggambarkan pentingnya integrasi antara command, control, communications, computers, intelligence, surveillance, dan reconnaissance. Semuanya memperlihatkan bahwa teknologi pertahanan modern tidak berdiri sendiri, melainkan membutuhkan integrasi berbagai disiplin ilmu.
Peninjauan kemudian dilanjutkan ke PT Pindad, dengan melihat fasilitas pada Divisi Senjata dan Divisi Kendaraan. Kunjungan seperti ini memberikan pelajaran bahwa membangun industri pertahanan bukan hanya persoalan menghasilkan sebuah produk. Di dalamnya terdapat proses panjang yang mencakup riset, rekayasa, produksi, pengujian, sumber daya manusia, manajemen, hingga kemampuan menjaga keberlanjutan teknologi.
Bagi saya, pengalaman hari ini juga mengingatkan bahwa ilmu yang kita pelajari di bangku pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebutuhan nyata di lapangan. Pemrograman, elektronika, komunikasi, sistem informasi, rekayasa, hingga manajemen dapat bertemu dalam satu ekosistem besar bernama teknologi pertahanan.
Pertemuan dengan senior seperti Bang Lerian juga mengajarkan bahwa kolaborasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dahulu kami berkolaborasi melalui sebuah buku tentang Arduino. Hari ini kami berdiskusi dan melihat langsung perkembangan teknologi serta fasilitas produksi industri pertahanan. Dari sini saya semakin percaya bahwa sebuah kolaborasi dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman, ilmu, dan tanggung jawab.
Ada satu hal yang semakin saya yakini, yaitu generasi yang ingin berkembang harus memiliki keberanian untuk terus belajar. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda, mengunjungi fasilitas teknologi, membaca, menulis, berdiskusi, dan melihat langsung proses di lapangan merupakan bagian dari pendidikan yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Kunjungan hari ini bukan hanya tentang UAV, C4ISR, Alkom, NVG, senjata, atau kendaraan. Lebih dari itu, ini adalah tentang melihat bagaimana ilmu pengetahuan diterjemahkan menjadi kemampuan nyata. Dari sebuah buku yang pernah kami tulis bersama hingga melihat langsung denyut industri pertahanan, saya belajar kembali bahwa perjalanan ilmu tidak pernah selesai. Selama masih ada kesempatan untuk belajar, bertemu, berdiskusi, dan berkarya, selalu ada ruang untuk tumbuh dan memberikan sesuatu yang berarti bagi bangsa.
Ditulis oleh: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketum Bhumi Literasi)