Kejuaraan Internasional Pugnator semakin dekat. Bagi seorang atlet, semakin dekatnya hari pertandingan bukanlah alasan untuk mengurangi intensitas latihan. Justru sebaliknya, inilah fase ketika kesiapan fisik, teknik, disiplin, dan mental harus semakin dimantapkan. Sesuai amanah dari Master Sulaksono, saya mengambil bagian untuk memastikan para atlet benar-benar mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum menghadapi kompetisi.
Dalam persiapan menuju pertandingan, latihan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan bertanding. Atlet harus dibentuk menjadi pribadi yang mampu menjaga fokus, mengikuti instruksi, dan bertanggung jawab terhadap proses yang sedang dijalani. Sebab, pertandingan tidak hanya mempertemukan teknik dengan teknik, tetapi juga mempertemukan mental dengan tekanan, kedisiplinan dengan rasa lelah, serta kesiapan dengan situasi yang tidak selalu sesuai harapan.
Karena itu, selama latihan berlangsung, seluruh handphone dikumpulkan. Bukan karena teknologi adalah sesuatu yang buruk, tetapi karena ada waktunya seorang atlet harus benar-benar hadir dalam latihan. Beberapa jam tanpa handphone seharusnya bukan menjadi persoalan bagi seorang atlet yang sedang mengejar prestasi. Fokus adalah bagian dari latihan, dan kemampuan untuk menyingkirkan berbagai gangguan merupakan bentuk kedisiplinan yang harus dibangun sejak sebelum pertandingan.
Saya juga memberikan materi penguatan fisik sebagai bagian dari proses persiapan. Latihan diawali dengan sikap push-up selama satu menit sebanyak empat set. Setelah itu dilanjutkan dengan squat sebanyak 10 kali dalam empat set. Gerakan-gerakan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi konsistensi menjalankannya dalam kondisi lelah membutuhkan kemauan dan ketahanan mental.
Latihan fisik pada dasarnya bukan sekedar tentang seberapa kuat tubuh mampu bergerak. Lebih jauh, latihan fisik mengajarkan bagaimana seseorang tetap menjalankan tugas ketika tubuh mulai memberikan sinyal lelah. Di situlah karakter seorang atlet dibentuk. Ketika pertandingan berlangsung, tidak ada jaminan bahwa tubuh selalu berada dalam kondisi nyaman. Atlet harus belajar bertahan, mengendalikan diri, dan tetap menjalankan strategi meskipun menghadapi tekanan.
Namun, ada satu hal yang saya tekankan lebih keras kepada para atlet: kekompakan. Dalam sebuah tim, tidak boleh ada mental “yang penting saya selesai”. Setiap atlet memiliki tanggung jawab terhadap atlet lainnya. Karena itu, apabila ada satu orang yang malas atau tidak menjalankan gerakan dengan sungguh-sungguh, seluruh anggota tim harus memulai kembali hitungan dari angka nol.
Aturan tersebut bukan sekedar hukuman. Di baliknya terdapat sebuah pelajaran penting bahwa keberhasilan tim tidak boleh dibangun dari perjuangan individu semata. Ketika satu orang tertinggal, yang lain harus membantu menariknya. Ketika satu orang kehilangan semangat, yang lain harus menguatkan. Dan ketika satu orang melakukan kesalahan, seluruh tim belajar untuk memperbaikinya bersama-sama.
Kekompakan seperti inilah yang nantinya dibutuhkan di arena pertandingan. Seorang atlet mungkin bertanding secara individual, tetapi di belakangnya ada pelatih, rekan, keluarga, dan seluruh tim yang ikut memberikan dukungan. Tidak ada prestasi yang benar-benar lahir sendirian. Setiap kemenangan merupakan hasil dari rangkaian proses, pengorbanan, latihan, kedisiplinan, dan dukungan banyak orang.
Pugnator semakin dekat, sehingga tidak ada lagi ruang untuk bermalas-malasan. Setiap latihan adalah kesempatan untuk memperbaiki kelemahan. Setiap rasa lelah adalah bagian dari proses. Setiap teguran adalah bentuk kepedulian terhadap kesiapan atlet. Saya ingin para atlet memahami bahwa pertandingan bukan dimulai ketika mereka memasuki arena, melainkan sejak mereka memutuskan untuk serius menjalani setiap sesi latihan.
Target utama bukan hanya memenangkan pertandingan, tetapi menghadirkan atlet yang siap bertanding dengan fisik yang kuat, teknik yang matang, mental yang tangguh, disiplin yang tinggi, dan kekompakan yang solid. Jika sejak latihan kita mampu belajar untuk bergerak bersama, menjaga fokus, dan tidak menyerah ketika harus mengulang dari hitungan nol, maka kita telah membangun modal penting untuk menghadapi kejuaraan. Karena sebelum mengalahkan lawan di arena, seorang atlet harus terlebih dahulu mampu mengalahkan rasa malas, ego, dan dirinya sendiri.