-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Sebelum Upacara Dimulai, Ada Pelajaran yang Tak Tertulis

Sunday, September 20, 2026 | September 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-21T01:12:16Z

 



Senin, 21 September 2026, menjadi salah satu hari ketika saya mendapat tugas sebagai petugas Upacara Mingguan hari Senin di Mabesad. Bagi sebagian orang, upacara mungkin terlihat sebagai sebuah rutinitas yang berlangsung setiap pekan. Namun bagi mereka yang terlibat langsung sebagai petugas, setiap upacara selalu memiliki cerita dan pengalaman tersendiri. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, kesiapan yang harus dijaga, serta kekompakan yang harus dibangun sebelum seluruh rangkaian upacara dimulai.

Sebelum upacara dimulai, saya menyempatkan diri berbincang sejenak dengan beberapa rekan yang juga terlibat dalam pelaksanaan tugas. Ada PAUP, Kapten Cba Dedy, kemudian MC, Serda (K) Cafalera, serta cadangan MC, PNS Tasya. Percakapan kami mungkin sederhana dan tidak berlangsung lama. Namun justru dari percakapan sederhana itulah saya kembali menyadari bahwa sebuah tugas besar sering kali diawali oleh interaksi kecil antarmanusia.

Dalam sebuah upacara, setiap orang memiliki peran masing-masing. Ada yang bertugas mengatur jalannya upacara, ada yang membacakan rangkaian acara, ada yang bersiap menjadi pengganti apabila diperlukan, dan ada pula petugas lain yang bekerja di balik layar. Tidak semua peran terlihat oleh peserta upacara. Tetapi setiap peran memiliki arti. Ketika satu bagian tidak berjalan sebagaimana mestinya, keseluruhan rangkaian dapat ikut terdampak.

Di sinilah saya melihat bahwa bekerja dalam sebuah tim bukan sekedar membagi tugas. Lebih dari itu, kerja tim membutuhkan kesediaan untuk saling memahami, berkomunikasi, dan saling mengisi. Seorang petugas cadangan, misalnya, bukan berarti memiliki peran yang lebih kecil. Ia justru harus selalu siap ketika keadaan mengharuskannya mengambil alih tugas. Kesiapan seperti itu membutuhkan tanggung jawab yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi sangat penting.

Percakapan singkat sebelum upacara juga mengingatkan saya bahwa profesionalisme tidak selalu harus ditunjukkan melalui percakapan yang formal dan serius. Kadang-kadang, sapaan sederhana, candaan kecil, atau obrolan singkat dapat mencairkan suasana dan membangun rasa percaya. Ketika orang-orang dalam satu tim merasa nyaman berkomunikasi, koordinasi pun menjadi lebih mudah. Dari hubungan antarmanusia yang baik, sering kali lahir pelaksanaan tugas yang lebih baik pula.

Upacara sendiri memiliki makna yang lebih luas daripada sekedar berdiri dalam barisan dan mengikuti rangkaian acara. Upacara adalah ruang untuk mengingat kembali kedisiplinan, penghormatan, tanggung jawab, dan kecintaan kepada institusi serta bangsa. Karena itu, orang-orang yang berada di balik pelaksanaannya pun memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap rangkaian berjalan dengan tertib dan khidmat.

Namun, pengalaman pagi itu membuat saya berpikir bahwa nilai kedisiplinan sebenarnya tidak hanya muncul ketika aba-aba diberikan. Disiplin dimulai jauh sebelum seseorang berdiri di lapangan. Disiplin dimulai dari kesiapan, komunikasi, datang tepat waktu, memahami tugas, serta memastikan bahwa dirinya siap ketika dibutuhkan. Dengan kata lain, kualitas sebuah pelaksanaan sering kali ditentukan oleh hal-hal kecil yang dilakukan sebelum kegiatan dimulai.

Ada satu hal lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu tidak ada tugas yang benar-benar berjalan sendirian. Bahkan seseorang yang tampak menjalankan tugas secara individu sesungguhnya berada dalam sebuah rangkaian kerja bersama. Karena itu, menghargai peran orang lain menjadi bagian penting dari profesionalisme. Kita tidak pernah tahu kapan pekerjaan orang lain menjadi bagian yang menentukan keberhasilan pekerjaan kita sendiri.

Pagi itu mungkin hanya menjadi sebuah catatan kecil dalam perjalanan tugas saya. Saya berbincang dengan Kapten Cba Dedy, Serda (K) Cafalera, dan PNS Tasya sebelum menjalankan tugas. Setelah itu, kami kembali menjalankan peran masing-masing. Tetapi dari momen sederhana tersebut saya kembali belajar bahwa di balik sebuah kegiatan yang tampak rutin, selalu ada manusia dengan tugas, tanggung jawab, dan cerita masing-masing.

Pada akhirnya, Upacara Mingguan hari Senin bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri tegak ketika upacara berlangsung. Ada proses panjang sebelum itu: mempersiapkan diri, berkoordinasi, membangun komunikasi, menghargai rekan, dan memastikan setiap orang siap menjalankan tanggung jawabnya. Mungkin hal-hal tersebut tidak tertulis dalam susunan acara upacara. Namun justru nilai-nilai itulah yang sering menjadi pelajaran paling penting. Karena sebuah tugas yang baik bukan hanya lahir dari prosedur yang benar, tetapi juga dari manusia-manusia yang bersedia bekerja bersama dengan penuh tanggung jawab.


Ditulis oleh: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)


×
Berita Terbaru Update