Ada cerita menarik di balik kegiatan Ngobrol Bareng Bhumi Literasi Anak Bangsa bertema “Karier Naik, Organisasi Jalan: Bagaimana Menyelaraskan Keduanya?” yang semula dijadwalkan pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 13.30 WIB. Kegiatan yang dirancang sebagai ruang berbagi gagasan ini ternyata menghadirkan cerita yang jauh lebih menarik daripada sekedar diskusi tentang karier dan organisasi. Perubahan jadwal, kendala saat siaran langsung, hingga keputusan untuk melanjutkan kegiatan dari warung pinggir jalan menjadi rangkaian pengalaman yang menyimpan banyak pelajaran.
Awalnya, kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Jumat siang. Namun, ketika sesi live hendak dilaksanakan, narasumber, Aan Fatwa Setiawan, S.Psi., M.Sc., ternyata masih dalam perjalanan mengendarai mobil. Akibatnya, akun yang digunakan untuk siaran langsung terkena pembatasan sehingga tidak dapat melakukan live selama 24 jam. Dalam situasi tersebut, keputusan untuk menjadwalkan ulang kegiatan menjadi pilihan yang paling masuk akal. Keselamatan narasumber tentu jauh lebih penting daripada mengejar jadwal siaran. Sebab, tidak ada kegiatan organisasi yang sepadan dengan risiko di jalan raya.
Kegiatan kemudian dijadwalkan ulang pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 18.30 WIB. Namun, ketika waktu tersebut tiba, Aan ternyata masih mengemudi. Akhirnya, pelaksanaan kembali diundur hingga pukul 20.00 WIB. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah budaya serba cepat dan tuntutan untuk selalu terhubung, kita terkadang perlu belajar menerima bahwa tidak semua agenda dapat berjalan sesuai rencana. Fleksibilitas bukan berarti kehilangan komitmen, melainkan kemampuan menyesuaikan keadaan tanpa mengabaikan hal yang lebih penting.
Pukul 20.00 WIB, semangat untuk berbagi akhirnya kembali diuji. Mas Aan mulai melakukan siaran langsung ketika posisi mengemudi telah bertukar dengan calon istrinya. Namun, akun yang digunakan kembali terkena pembatasan. Situasi ini tentu bisa membuat siapa pun menyerah dan memilih membatalkan kegiatan. Akan tetapi, Mas Aan tidak berhenti sampai di situ. Ia kemudian menggunakan akun calon istrinya dan menghentikan perjalanan di sebuah warung pinggir jalan. Dari tempat sederhana itulah, Ngobrol Bareng Bhumi Literasi akhirnya berlangsung. Tidak ada studio mewah, tidak ada panggung khusus, tetapi ada kemauan untuk tetap berbagi ilmu.
Menariknya, keterbatasan tempat dan serangkaian kendala teknis tersebut tidak menyurutkan antusiasme peserta. Siaran langsung malam itu justru cukup ramai. Sejumlah masyarakat mengikuti diskusi, menyimak materi, dan mengajukan pertanyaan untuk menggali pengalaman narasumber. Bahkan, beberapa pemilik usaha atau owner brand turut bergabung untuk mendapatkan wawasan lebih jauh. Fenomena ini memperlihatkan bahwa daya tarik sebuah kegiatan tidak semata-mata ditentukan oleh kemegahan tempat atau sempurnanya teknis pelaksanaan, melainkan juga oleh relevansi topik, kualitas narasumber, dan manfaat yang dirasakan oleh audiens.
Aan Fatwa Setiawan sendiri bukan sosok yang hanya berbicara tentang pengembangan karier secara teoritis. Saat ini, ia bekerja sebagai HRD di salah satu BUMN dengan tanggung jawab mengelola sekitar 700 sumber daya manusia untuk wilayah DKI Jakarta. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk membahas bagaimana seseorang dapat bertumbuh secara profesional sekaligus tetap aktif berkontribusi melalui organisasi. Mengelola ratusan sumber daya manusia tentu membutuhkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta pemahaman terhadap karakter individu. Pengalaman di dunia kerja seperti inilah yang dapat memperkaya diskusi organisasi dengan perspektif praktis dan relevan.
Kehadiran para peserta dari beragam latar belakang juga menambah warna dalam diskusi malam itu. Turut bergabung Bapak Bayu Kurnianto, Pembina Bhumi Literasi sekaligus pemilik Istana Kambing Semester; Master Sulaksono, pendiri sekaligus pelatih utama Laxuse Taekwondo Club; serta perwakilan sejumlah brand kuliner, di antaranya Sego Goreng Suroboyo dan Dimsum Chubby. Selain itu, para pengurus Bhumi Literasi dari berbagai wilayah di Indonesia juga ikut meramaikan kegiatan. Keberagaman ini menunjukkan bahwa ruang literasi dapat mempertemukan banyak kalangan, mulai dari praktisi profesional, pelaku usaha, pegiat olahraga, hingga pengurus organisasi. Ketika berbagai pengalaman bertemu dalam satu ruang dialog, peluang untuk saling belajar dan membangun kolaborasi pun semakin terbuka.
Dari peristiwa tersebut, ada satu hal penting yang patut direnungkan, yaitu karier dan organisasi tidak harus selalu dipertentangkan. Karier memberikan ruang bagi seseorang untuk mengembangkan kompetensi, mencapai kemandirian, dan memberikan kontribusi melalui profesinya. Sementara itu, organisasi menjadi ruang untuk memperluas jejaring, melatih kepemimpinan, membangun kepedulian, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Keduanya dapat berjalan beriringan selama seseorang mampu mengatur prioritas, menjaga komunikasi, serta memahami batasan tanggung jawabnya. Justru, pengalaman berorganisasi dapat memperkuat kompetensi profesional, sedangkan pengalaman kerja dapat memperkaya kontribusi dalam organisasi.
Namun, kisah ini juga mengajarkan bahwa dedikasi tidak boleh disalahartikan sebagai keharusan untuk terus bekerja dalam kondisi apa pun. Semangat Mas Aan untuk tetap hadir dalam kegiatan patut diapresiasi, tetapi keputusan untuk tidak melakukan siaran langsung saat mengemudi merupakan prinsip yang tidak boleh ditawar. Komitmen yang baik harus berjalan bersama kesadaran terhadap keselamatan, kepatuhan pada aturan, dan penghormatan terhadap kondisi diri sendiri maupun orang lain. Dalam organisasi, profesionalisme bukan hanya tentang memenuhi jadwal, tetapi juga tentang mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Terkadang, menunda kegiatan adalah bentuk kedewasaan, bukan tanda kurangnya komitmen.
Ngobrol Bareng Bhumi Literasi Anak Bangsa malam itu bukan sekedar diskusi tentang cara menyeimbangkan karier dan organisasi. Ia menjadi contoh bahwa niat baik, fleksibilitas, dan semangat berbagi dapat menghidupkan sebuah kegiatan meskipun rencana awal tidak berjalan mulus. Dari agenda yang tertunda, akun yang terkena pembatasan, hingga siaran langsung dari warung pinggir jalan, ada pesan sederhana yang layak dibawa pulang, yaitu kontribusi tidak selalu membutuhkan panggung yang sempurna, tetapi harus ditopang oleh tujuan yang jelas dan cara yang bertanggung jawab. Karier boleh terus naik, organisasi harus tetap berjalan, dan keselamatan harus selalu menjadi prioritas. Sebab, kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang melangkah, melainkan juga tentang seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan kepada sesama.
Ditulis oleh: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)