-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Terima Penghargaan Lurah Terbaik dari Dandim 1608/Bima, Ini Sosok Fazhurrahman yang Energik dan Dekat dengan Masyarakat

Monday, October 5, 2026 | October 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-05T07:52:16Z

Fazhurrahman, Lurah Nae, Kota Bima, dikenal sebagai sosok birokrat muda yang aktif turun langsung ke tengah masyarakat. Kiprahnya dalam mendorong pemberdayaan warga, pengelolaan lingkungan, pelayanan publik dan kolaborasi lintas sektor mendapat apresiasi melalui penghargaan sebagai Lurah Terbaik dari Dandim 1608/Bima. Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi atas upayanya membangun sinergi antara pemerintah kelurahan, TNI dan masyarakat.


Lahir di Bima pada 12 September 1992, Fazhurrahman merupakan putra bungsu dari lima bersaudara pasangan almarhum M. Jafar Yusuf dan Hj. Hamillah. Ia tumbuh dan besar di Bima dengan lingkungan keluarga dan masyarakat yang turut membentuk karakter sederhana, terbuka serta dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 6 Bima, kemudian MTs Padolo dan SMA Negeri 1 Kota Bima.


Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Fazhurrahman melanjutkan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan menyelesaikan Sarjana Terapan Pemerintahan pada 2014. Semangat meningkatkan kapasitas kemudian membawanya memperoleh Beasiswa Karya Siswa Bappenas pada 2021 untuk menempuh pendidikan Magister Administrasi Publik bidang Pembangunan Daerah di Universitas Brawijaya, Malang.


Perjalanan kariernya juga berlangsung melalui sejumlah posisi strategis di lingkungan Pemerintah Kota Bima. Ia pernah bertugas sebagai staf Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Bima, kemudian dipercaya sebagai Sekretaris Kelurahan Sarae. Pengalaman tersebut semakin berkembang ketika ia menjalankan tugas sebagai Perencana Ahli Muda pada Bappeda Kota Bima yang mempertemukannya secara langsung dengan proses perencanaan pembangunan daerah.


Pengalaman di bidang pemerintahan dan perencanaan pembangunan kemudian menjadi bekal ketika Fazhurrahman dipercaya sebagai Lurah Nae. Dalam menjalankan amanah tersebut, ia membawa pendekatan kepemimpinan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari proses pembangunan. Baginya, kelurahan bukan semata-mata tempat pelayanan administrasi, melainkan ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas hingga unsur TNI dan Polri.


Semangat tersebut diwujudkan melalui tagline “Bergerak Bersama, Kolaborasi Membangun Masyarakat Kelurahan Nae.” Berbagai program diarahkan untuk mendorong masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku yang ikut merancang, menjalankan dan menjaga keberlanjutan program di lingkungannya.


Salah satu perhatian Fazhurrahman adalah persoalan lingkungan dan pengelolaan sampah. Gagasan tersebut dituangkan melalui buku “Revolusi Pengelolaan Sampah”, yang mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah tidak lagi sekedar dipandang sebagai sesuatu yang harus dikumpulkan dan dibuang, tetapi perlu dikurangi, dipilah, dikelola dan dimanfaatkan sejak dari sumbernya. Gagasan itu berjalan beriringan dengan pengembangan Kampung Hijau Kelurahan Nae dan berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat.


Selain lingkungan, Fazhurrahman juga memberikan perhatian terhadap pelayanan dasar masyarakat melalui penguatan Posyandu 6 SPM, pemberdayaan kader dan pengembangan inovasi pelayanan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan di tingkat kelurahan tidak dapat dicapai oleh pemerintah seorang diri. Karena itu, kolaborasi dengan RT/RW, lembaga kemasyarakatan, dunia usaha, akademisi, komunitas, TNI/Polri dan berbagai mitra pembangunan terus diperkuat.


Semangat kepemimpinan Fazhurrahman sebenarnya telah tumbuh sejak usia muda. Ketika masih duduk di bangku SMA, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Bima pada 2008. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan kerja sama yang kemudian terus dikembangkan dalam perjalanan kariernya. Pada 2026–2027, ia juga dipercaya sebagai Ketua DPW Bhumi Literasi Anak Bangsa NTB, memperluas ruang pengabdiannya melalui gerakan literasi dan pengembangan kapasitas generasi muda.


Di tengah berbagai aktivitas pemerintahan dan organisasi, Fazhurrahman tetap menempatkan keluarga sebagai sumber kekuatan. Ia menikah dengan Anggun Nurillah, S.E., dan dikaruniai dua putri, Ayesha Marzia dan Maryam Banafsha. Dikenal memiliki hobi olahraga dan membaca novel, Fazhurrahman berupaya mempertahankan karakter sederhana dan terbuka dalam berinteraksi dengan masyarakat. Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya berada di belakang meja, tetapi harus hadir, mendengar, memahami persoalan warga dan bergerak bersama masyarakat untuk menghadirkan perubahan.

×
Berita Terbaru Update