Sejarah manusia berulang kali mencatat tragedi pembantaian berskala besar sebagai luka kolektif yang tak pernah benar-benar sembuh. Namun, di balik narasi heroisme yang kerap dibungkuskan oleh penguasa, pembantaian sejatinya bukanlah medan keberanian, melainkan ekspresi paling telanjang dari kegagalan kemanusiaan.
Sebagaimana dikatakan Afif Amrullah, pembantaian massal tidak pernah berdiri sebagai arena heroisme atau alat legitimasi popularitas. Ia adalah mekanisme pengorbanan sistemik, di mana nyawa manusia direduksi menjadi angka statistik, dan penderitaan menjadi komoditas politik.
Dalam skema kekuasaan yang rakus legitimasi, massa kerap ditempatkan sebagai objek, bukan subjek. Mereka tidak berdaulat atas nasibnya sendiri. Keputusan hidup dan mati ditentukan oleh segelintir elite yang bersembunyi di balik jargon stabilitas, keamanan, atau kepentingan nasional.
Ironisnya, narasi pembenaran selalu dirancang rapi. Pembantaian dibingkai sebagai “harga yang harus dibayar”, seolah ada nilai moral yang dapat menebus darah yang tumpah. Padahal, di sanalah kemanusiaan dikorbankan paling telanjang: ketika nyawa manusia dianggap layak ditukar demi kekuasaan.
Massa yang menjadi korban tidak pernah benar-benar diingat sebagai manusia utuh. Mereka diubah menjadi simbol, tumbal, atau bahkan angka dalam laporan resmi. Ketika identitas personal dilenyapkan, empati pun ikut mati perlahan.
Lebih berbahaya lagi, pembantaian sering diproduksi ulang sebagai kisah kejayaan. Pelaku dielu-elukan, sementara korban dibungkam. Di titik inilah kekuasaan tidak hanya membunuh tubuh, tetapi juga ingatan dan kebenaran.
Pembantaian berskala besar selalu menunjukkan relasi timpang antara penguasa dan rakyat. Ketika kekuasaan tak lagi dibatasi moral dan akal sehat, maka tubuh manusia menjadi alat paling murah untuk mempertahankan dominasi.
Opini publik yang dibentuk secara manipulatif membuat tragedi terasa jauh dan abstrak. Rasa duka dinormalisasi, amarah dilemahkan, dan masyarakat diarahkan untuk lupa. Inilah kemenangan sunyi dari sistem yang tak berperikemanusiaan.
Karena itu, menolak pembantaian bukan hanya soal menolak kekerasan fisik, tetapi juga menolak cara berpikir yang melegitimasi pengorbanan massal. Kesadaran kritis adalah bentuk perlawanan paling dasar terhadap mekanisme kekuasaan yang menindas.
Pembantaian tidak pernah melahirkan pahlawan sejati. Yang ada hanyalah korban dan pelaku yang sama-sama terperangkap dalam sistem rusak. Mengingat dan mengkritisi tragedi adalah cara kita menjaga agar kemanusiaan tidak sepenuhnya runtuh.


