Investasi pada sumber daya manusia menjadi kunci agar Indonesia terbebas dari middle income trap. Data BPS menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia pada 2025 baru mencapai 9,07 tahun atau kira-kira setara kelas 3 SMP. Sedangkan pada 2024 angkanya bahkan masih 8,85 tahun. Secara umum kondisi ini menggambarkan masih rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan besar Indonesia dalam membangun kualitas manusia belum selesai.
Kemajuan Indonesia tidak mungkin hanya disandarkan pada kekayaan alam atau pembangunan fisik semata. Di tengah persaingan global yang semakin ditentukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya manusia yang berkualitas mempunyai peranan penting. Negara harus berani membiayai pendidikan sebagai investasi jangka panjang agar mendorong kesejahteraan masyarakat.
Kehadiran LPDP menjadi penting karena negara tidak sedang “membiayai segelintir orang”, melainkan sedang menyiapkan kelompok sumber daya manusia terdidik yang kelak diharapkan mengisi ruang-ruang strategis pembangunan. Menurut publikasi LPDP Kemenkeu bahwa sejak dimulai hingga 2024, LPDP mencatat telah mendanai 54.008 penerima beasiswa dan memiliki 20.824 alumni yang berkarya di berbagai sektor. Angka ini menjadi dasar bahwa pembiayaan negara untuk LPDP bukan sekadar pengeluaran APBN, tetapi ikhtiar sadar untuk memperkuat modal manusia Indonesia agar mampu bersaing dan memberi manfaat kembali bagi masyarakat.
Kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya selalu kembali pada manusianya. Dalam teori pertumbuhan Solow, kemajuan ekonomi tidak cukup hanya bertumpu pada modal fisik seperti mesin atau infrastruktur, melainkan juga pada peningkatan produktivitas yang lahir dari pengetahuan dan teknologi. Pendidikan mendorong perbaikan cara berpikir yang lebih terbuka, keterampilan yang lebih maju, dan keberanian untuk memberi solusi atas persoalan masyarakat. Ketika negara berinvestasi pada pendidikan, sebenarnya negara sedang menanam harapan pada generasi yang kelak akan menentukan arah masa depan Indonesia.
Dalam konteks itulah, LPDP dapat dipandang sebagai salah satu jalan investasi masa depan bangsa.
Beasiswa ini bukan sekadar fasilitas untuk melanjutkan studi, melainkan cara negara menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang memiliki kapasitas lebih besar untuk ikut menjawab tantangan zaman. Ketika anak-anak muda diberi kesempatan belajar di kampus terbaik, bertemu dengan gagasan baru, dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan dunia, mereka membawa pulang cara pandang, jejaring, pengalaman, dan keberanian untuk membangun perubahan.
Pendidikan membuat tenaga kerja menjadi lebih terampil, adaptif, dan inovatif, sehingga mampu menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi. Di sinilah LPDP menjadi relevan sebagai instrumen negara untuk membiayai lahirnya sumber daya manusia unggul yang dapat membawa ilmu, riset, jejaring, dan gagasan baru ke dalam pembangunan nasional. Dengan SDM yang lebih berkualitas, Indonesia tidak hanya bergantung pada sektor berbasis upah murah atau sumber daya alam, tetapi dapat bergerak menuju ekonomi berbasis inovasi, industri bernilai tambah, dan daya saing global. Pada akhirnya kita berharap agar Indonesia menjadi negara maju dan terbebas dari middle income trap.
Beasiswa LPDP perlu dilihat sebagai bentuk keberanian negara untuk menanam masa depan pada manusianya sendiri. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi dampaknya dapat tumbuh panjang melalui ilmu, kepemimpinan, inovasi, dan pengabdian para awardee-nya. Di tengah tantangan Indonesia yang semakin kompleks, investasi pada pendidikan adalah pilihan yang tidak boleh ditawar. LPDP menjadi salah satu ikhtiar penting agar Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya alam yang besar, tetapi juga sumber daya manusia yang siap membawa bangsa ini melangkah lebih jauh.
Penulis: Muhammad Dzul Fadlli, S.E., M.E. (Ketua DPC Mataram Bhumi Literasi Anak Bangsa)


