-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Ketum Bhumi Literasi Anak Bangsa Ajak Pengurus Sultra Bangun Habit Menulis

Wednesday, July 29, 2026 | July 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-30T05:06:10Z

 


Kendari – Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, mengajak seluruh pengurus DPW Sulawesi Tenggara beserta jajaran DPC di wilayah Sulawesi Tenggara untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah habit dan kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, budaya menulis merupakan fondasi dalam membangun organisasi literasi yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam arahannya, Rizal Mutaqin menegaskan bahwa organisasi literasi tidak cukup hanya aktif menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga harus mampu mendokumentasikan setiap gagasan, pengalaman, dan program dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, setiap aktivitas yang dilakukan akan menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam membangun budaya menulis bukanlah persoalan kemampuan, melainkan kemauan. Banyak orang merasa tidak memiliki waktu untuk menulis, padahal sesungguhnya persoalan tersebut lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang menentukan prioritas dalam kehidupannya.

"Tidak ada orang yang benar-benar sibuk. Yang ada hanyalah prioritas. Jika menulis kita anggap sebagai kebutuhan dan bagian dari kehidupan, maka kita pasti akan meluangkan waktu untuk melakukannya," ujar Rizal di hadapan para pengurus DPW Sulawesi Tenggara dan jajaran DPC.

Menurutnya, setiap orang memiliki waktu yang sama dalam sehari. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu tersebut digunakan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pengurus untuk menyisihkan waktu secara konsisten, meskipun hanya beberapa menit setiap hari, guna menghasilkan tulisan yang bermanfaat.

Rizal kemudian memberikan ilustrasi sederhana mengenai sebuah hobi. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang menyukai olahraga futsal tidak akan merasa keberatan untuk meluangkan waktu, bahkan rela mengeluarkan biaya demi menyalurkan kegemarannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa seseorang akan selalu menyediakan ruang bagi sesuatu yang benar-benar dicintainya.

"Sebagai contoh, ketika kita menyukai futsal, jangankan hanya meluangkan waktu, diminta membayar biaya sewa lapangan pun kita siap. Mengapa? Karena itu adalah hobi yang kita sukai. Begitu pula dengan menulis. Jika kita mencintai dunia literasi, maka kita akan dengan senang hati menyediakan waktu untuk terus belajar dan menulis," jelasnya.

Ia berharap pola pikir tersebut dapat diterapkan oleh seluruh pengurus Bhumi Literasi Anak Bangsa di Sulawesi Tenggara. Menulis tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang berat, tetapi menjadi bagian dari rutinitas harian yang dilakukan secara alami. Dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, akan lahir karya-karya yang memberikan dampak besar bagi organisasi maupun masyarakat.

Lebih lanjut, Rizal menegaskan bahwa setiap pengurus memiliki pengalaman, pengetahuan, dan cerita inspiratif yang layak dibagikan kepada publik. Pengalaman tersebut akan menjadi lebih bernilai apabila dituangkan dalam bentuk tulisan, baik berupa artikel, opini, laporan kegiatan, maupun buku yang dapat menjadi referensi bagi generasi berikutnya.

Melalui ajakan tersebut, Bhumi Literasi Anak Bangsa terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem literasi berbasis komunitas di seluruh Indonesia. DPW Sulawesi Tenggara bersama seluruh DPC diharapkan menjadi pelopor dalam membangun budaya menulis yang konsisten, sehingga literasi tidak hanya menjadi slogan organisasi, melainkan benar-benar menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan setiap pengurus.

×
Berita Terbaru Update