Jakarta – Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, Rizal Mutaqin, menyampaikan pesan inspiratif mengenai pentingnya membangun budaya menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hambatan terbesar seseorang untuk menulis bukanlah kesibukan, melainkan bagaimana ia menentukan prioritas dalam memanfaatkan waktu.
Dalam penyampaiannya, Rizal menegaskan bahwa setiap orang memiliki waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Oleh karena itu, alasan tidak memiliki waktu untuk membaca maupun menulis sering kali bukan disebabkan oleh padatnya aktivitas, melainkan karena kedua hal tersebut belum ditempatkan sebagai kebutuhan utama.
"Tidak ada orang yang benar-benar sibuk, yang ada hanyalah prioritas," ujar Rizal. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang akan selalu meluangkan waktu untuk aktivitas yang dianggap penting dan memberikan makna bagi dirinya.
Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu memiliki pilihan terhadap bagaimana waktu digunakan. Ketika suatu kegiatan dianggap bernilai dan bermanfaat, seseorang akan berusaha menyisihkan waktu di tengah berbagai kesibukan yang dimilikinya.
Rizal kemudian memberikan ilustrasi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, seseorang yang memiliki hobi tertentu tidak hanya rela meluangkan waktu, tetapi juga bersedia mengeluarkan biaya agar dapat menikmati aktivitas yang disukainya.
"Jangankan hanya meluangkan waktu, untuk mengeluarkan biaya pun kita rela demi hobi dan bidang yang kita sukai," ungkapnya. Ia menilai prinsip yang sama seharusnya dapat diterapkan dalam membangun budaya literasi, khususnya kebiasaan membaca dan menulis.
Bagi Rizal, apabila seseorang benar-benar mencintai dunia literasi, maka menulis tidak lagi dipandang sebagai beban atau pekerjaan tambahan. Sebaliknya, menulis akan menjadi aktivitas yang dilakukan dengan kesadaran, rasa senang, dan komitmen untuk terus berkembang.
Ia juga menekankan bahwa kebiasaan menulis tidak harus dimulai dari karya yang panjang atau sempurna. Menuliskan pengalaman, gagasan, pelajaran, maupun refleksi singkat setiap hari sudah menjadi langkah awal yang sangat berharga dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
Menurutnya, konsistensi jauh lebih penting dibandingkan menunggu waktu yang dianggap ideal. Sedikit demi sedikit, kebiasaan menulis akan membentuk kemampuan berpikir yang lebih sistematis, memperkaya wawasan, sekaligus menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Melalui pesan tersebut, Rizal Mutaqin berharap semakin banyak masyarakat, khususnya para pegiat literasi dan generasi muda, yang mulai menempatkan membaca dan menulis sebagai prioritas dalam kehidupan. Dengan menjadikan literasi sebagai kebiasaan, diharapkan akan lahir lebih banyak gagasan, inovasi, dan karya yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
