-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Dunia dalam Genggaman, tetapi Siapa yang Mengendalikan?

Tuesday, August 18, 2026 | August 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-19T05:50:02Z


Kita hidup di zaman ketika dunia terasa begitu dekat. Hanya dengan sebuah ponsel, kita dapat mengetahui kabar seseorang di belahan dunia lain, berbelanja tanpa harus keluar rumah, bekerja dari mana saja, bahkan belajar tanpa perlu duduk di ruang kelas. Teknologi digital telah membuat banyak hal yang dahulu terasa sulit menjadi begitu mudah. Dunia benar-benar berada dalam genggaman. Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan: siapa sebenarnya yang mengendalikan siapa? Apakah kita yang mengendalikan teknologi, atau justru teknologi yang perlahan mengendalikan kehidupan kita? Perkembangan teknologi digital pada dasarnya merupakan bagian dari kemajuan zaman. Kehadiran internet dan berbagai perangkat digital telah membantu manusia dalam banyak aspek kehidupan. Komunikasi menjadi lebih cepat, informasi lebih mudah diperoleh, dan berbagai pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih efisien. Teknologi bahkan membuka kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau, terutama bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan.


Namun, kemudahan sering kali datang bersama ketergantungan. Ponsel yang awalnya digunakan sebagai alat komunikasi kini menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur, hal pertama yang dicari adalah ponsel. Sebelum tidur, layar ponsel pula yang menjadi teman terakhir. Kita memeriksa media sosial ketika sedang makan, menunggu kendaraan, berkumpul dengan teman, bahkan ketika tidak ada hal penting yang perlu dilakukan. Tanpa disadari, teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat yang kita gunakan. Ia mulai memengaruhi bagaimana kita menghabiskan waktu, memperoleh informasi, menentukan pilihan, bahkan memandang diri sendiri. Kita merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru. Takut tertinggal tren. Takut tidak mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan. Bahkan, ada yang merasa gelisah ketika jauh dari ponsel.


Persoalannya menjadi lebih rumit ketika kita menyadari bahwa apa yang muncul di layar kita tidak selalu terjadi secara kebetulan. Algoritma pada berbagai platform digital mempelajari kebiasaan penggunanya. Apa yang kita tonton, sukai, cari, atau bagikan dapat menjadi bahan untuk menentukan konten berikutnya yang ditampilkan kepada kita. Akibatnya, dunia digital yang kita lihat bisa jadi bukan gambaran dunia secara keseluruhan, melainkan dunia yang telah disesuaikan dengan kebiasaan kita. Jika kita sering melihat berita tertentu, sistem akan terus menyajikan informasi serupa. Jika kita menyukai jenis konten tertentu, konten sejenis akan semakin sering muncul. Tanpa sadar, kita dapat terjebak dalam ruang informasi yang membuat kita hanya melihat apa yang sesuai dengan pandangan sendiri.


Di sinilah pertanyaan tentang kebebasan menjadi penting. Kita merasa bebas memilih apa yang ingin ditonton, dibaca, dan dibeli. Namun, apakah pilihan tersebut benar-benar sepenuhnya berasal dari diri kita? Atau sebagian telah dipengaruhi oleh sistem digital yang terus mempelajari perilaku kita? Bukan berarti teknologi adalah sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, teknologi merupakan salah satu pencapaian manusia yang sangat bermanfaat. Masalahnya bukan terletak pada keberadaan teknologi, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya dan seberapa jauh kita membiarkan teknologi menentukan kehidupan kita. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah persoalan data pribadi. Setiap kali menggunakan layanan digital, kita sering kali meninggalkan jejak. Lokasi, kebiasaan pencarian, pilihan belanja, konten yang disukai, hingga aktivitas di media sosial dapat menjadi bagian dari data digital. Data tersebut memiliki nilai yang besar karena dapat digunakan untuk memahami perilaku pengguna. Kita sering kali begitu mudah menekan tombol “setuju” tanpa membaca ketentuan yang panjang. Kita memberikan akses karena ingin segera menggunakan sebuah aplikasi. Padahal, di balik satu klik sederhana tersebut, terdapat pertukaran yang tidak selalu kita pahami. Kita memperoleh kemudahan, sementara platform mendapatkan berbagai informasi tentang kita.


Kondisi ini menunjukkan bahwa bentuk “penjajahan” di era digital tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan. Ia dapat hadir melalui kenyamanan. Kita tidak dipaksa membuka media sosial, tetapi kita terus kembali membukanya. Kita tidak dipaksa membeli sesuatu, tetapi iklan yang sesuai dengan kebiasaan kita terus muncul. Kita tidak dipaksa mengikuti tren, tetapi lingkungan digital membuat kita merasa tertinggal ketika tidak mengikutinya. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan yang disebut literasi digital. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan ponsel atau mengoperasikan aplikasi. Lebih dari itu, literasi digital berarti kemampuan memahami informasi, menyaring berita, mengenali manipulasi, menjaga data pribadi, serta menyadari bagaimana teknologi dapat memengaruhi perilaku kita.


Kita juga perlu belajar membangun batas. Tidak semua notifikasi harus segera dibuka. Tidak semua informasi harus dipercaya. Tidak semua tren harus diikuti. Dan tidak semua kehidupan harus dibagikan kepada publik. Ada kalanya kita perlu meletakkan ponsel, mengangkat kepala, dan kembali melihat kehidupan nyata yang selama ini berada di sekitar kita. Kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin berdaya, bukan semakin kehilangan kendali. Teknologi semestinya membantu kita bekerja lebih baik, belajar lebih mudah, berkomunikasi lebih luas, dan menciptakan kehidupan yang lebih berkualitas. Jangan sampai teknologi justru membuat kita kehilangan waktu, perhatian, privasi, dan kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri.


Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang mengendalikan?” tidak seharusnya membuat kita takut terhadap teknologi. Pertanyaan itu justru harus menjadi pengingat agar kita tetap sadar sebagai manusia. Dunia digital memang berada dalam genggaman kita, tetapi kendali atas diri sendiri jangan sampai ikut berpindah ke dalam genggaman teknologi. Kita boleh menggunakan teknologi sebanyak yang kita butuhkan. Kita boleh menikmati kemudahan yang ditawarkannya. Namun, jangan sampai karena terlalu nyaman, kita lupa bahwa teknologi diciptakan untuk melayani manusia, bukan manusia yang hidup hanya untuk mengikuti teknologi.


Dunia memang semakin dekat dalam genggaman. Namun, kebebasan sejati bukan tentang seberapa banyak teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa mampu kita tetap menjadi pengendali atas pilihan, waktu, pikiran, dan kehidupan kita sendiri.



Ditulis oleh: Irma Putri Farahani, S.Psi (Kabid Sospemas DPP)
×
Berita Terbaru Update