Kita hidup di zaman ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mencernanya. Dalam hitungan detik, algoritma media sosial memilihkan berita, video, komentar, bahkan iklan yang dianggap sesuai dengan minat kita. Sekilas, semua itu tampak sebagai bentuk modernisasi yang memudahkan kehidupan. Namun, di balik kenyamanan tersebut terdapat pertanyaan penting: apakah kita benar-benar memilih informasi yang kita konsumsi, atau justru algoritma yang secara perlahan memilihkan cara kita melihat dunia? Ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan kebiasaan dan pandangannya, ruang untuk menemukan perspektif yang berbeda semakin menyempit.
Algoritma pada dasarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia merupakan bagian dari teknologi yang membantu manusia mengelola lautan informasi yang jumlahnya terus bertambah. Persoalannya muncul ketika algoritma tidak hanya membantu menemukan informasi, tetapi juga membentuk pola perhatian dan perilaku manusia. Konten yang membuat kita marah, takut, penasaran, atau terhibur cenderung mendapatkan perhatian lebih besar. Akibatnya, apa yang muncul di layar bukan selalu informasi yang paling penting, melainkan informasi yang paling mampu mempertahankan perhatian kita. Dalam kondisi seperti ini, teknologi dapat berubah dari sekadar alat menjadi kekuatan yang ikut menentukan apa yang kita pikirkan.
Bahaya yang lebih besar adalah ketika manusia kehilangan kebiasaan untuk mempertanyakan informasi. Kita merasa benar karena setiap hari melihat konten yang menguatkan keyakinan kita. Kita merasa sebuah pendapat adalah fakta karena terus muncul di beranda. Kita bahkan dapat menganggap pandangan kelompok lain sebagai sesuatu yang aneh atau salah karena hampir tidak pernah berinteraksi dengan perspektif yang berbeda. Inilah yang membuat literasi digital menjadi semakin penting. Literasi bukan hanya kemampuan membaca tulisan, tetapi kemampuan membaca konteks, memahami kepentingan di balik informasi, memeriksa sumber, mengenali manipulasi, serta menyadari bahwa apa yang muncul di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan realitas.
Karena itu, tantangan terbesar di era digital bukan sekadar bagaimana manusia dapat menggunakan teknologi, tetapi bagaimana manusia tetap menjadi subjek yang berpikir di tengah teknologi yang semakin cerdas. Kita harus mampu menggunakan media sosial tanpa dikendalikan olehnya, memanfaatkan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasan manusia, dan menerima informasi tanpa menyerahkan sepenuhnya kemampuan menilai kepada algoritma. Kemajuan teknologi seharusnya memperluas wawasan manusia, bukan mempersempitnya. Modernisasi tidak boleh diukur hanya dari seberapa cepat kita terkoneksi dengan dunia, tetapi juga dari seberapa kuat kemampuan kita mempertahankan kebebasan berpikir.
Kemerdekaan di era digital bukan hanya tentang memiliki akses internet. Kemerdekaan juga berarti memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang kita percaya, apa yang kita baca, apa yang kita bagikan, dan keputusan apa yang kita ambil. Jika algoritma mampu menentukan apa yang kita lihat setiap hari, maka literasi harus memastikan bahwa algoritma tidak menentukan siapa diri kita. Di sinilah gerakan literasi memiliki peran strategis: membentuk masyarakat yang bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi manusia yang kritis, mandiri, dan mampu menggunakan teknologi untuk menciptakan pengetahuan serta perubahan. Sebab, penjajahan gaya baru mungkin tidak datang dengan senjata, tetapi dapat hadir ketika manusia perlahan menyerahkan kebebasan berpikirnya kepada mesin.
Ditulis oleh: H. Muhammad Arif, S.Hum., M.Pd., M.A. (Ketua DPC Malang)
