Kehadiran AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Dola AI di ruang-ruang kelas telah memberikan perubahan besar dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, AI membawa modernisasi yang melewati batas-batas tradisional pengajaran. AI berfungsi sebagai tutor pribadi yang siap memberikan penjelasan tanpa lelah, membantu guru dalam menyelesaikan adminitrasi, serta mempermudah dalam mengakses literatur global. Bagi banyak orang, teknologi AI ini merupakan akselerator kemajuan yang membuka pintu kebebasan informasi secara inklusif.
Kemanfaatan AI tersebut terasa nyata ketika bagaimana AI mampu melayani kebutuhan pembelajaran di kelas. Murid tidak lagi dipaksa belajar dengan kecepatan yang sama, melainkan dapat mengeksplorasi materi sesuai dengan gaya dan kepasitas masing-masing. AI seolah memerdekakan otak manusia dari rutinitas hafalan, membebaskan ruang belajar untuk berfokus pada analisis tingkat tinggi, kreativitas, dan pemecahan masalahan yang lebih kompleks.
Namun, dibalik efisiensi tersebut, tersembunyi fenomena penjajahan gaya baru yang beroperasi secara halus di ranah pendidikan. Fenomena ini tidak datang membawa pasukan, melainkan lewat ketergantungan digital dan penundukan kognitif. Ketika pelajar mulai menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, maka terjadi penurunan daya kritis yang perlahan menumpulkan ketajaman intelektual mereka.
Ancaman ini bertambah serius jika melihat bagaimana model AI dibangun dan dilatih. Kebanyakan data dan sudut pandang yang menggerakkan AI berasal dari budaya, nilai, dan epistemologI negara-negara maju pengembang teknologi AI tersebut. Ketika siswa di negara berkembang menggunakan jawaban AI sebagai jawaban mutlak, maka terjadi homogenisasi budaya yang berisiko mengikis kearifan lokal dan mengasingkan peserta didik dari realitas sosial di sekitarnya.
Tidak berhenti pada erosi budaya, terdapat pula penjajahan data yang sering diabaikan. Setiap interaksi, prompt, dokumen riset, dan pola pikir yang dimasukkan oleh siswa maupun pendidik ke dalam sistem AI secara gratis diserap menjadi bahan pelatihan bagi raksasa teknologi asing ini. Lembaga pendidikan secara tidak sadar bertransformasi dari pusat pencetak pemikir menjadi sekadar pemasok bahan baku data dan konsumen produk jadi berbayar di masa depan.
Pada akhirnya, kecerdasan buatan di dalam kelas tidak pernah bersifat netral, ia dapat menjadi instrumen pembebasan sekaligus alat penundukan. Keberhasilan pendidikan nasional di era digital tidak boleh diukur dari seberapa mahir siswa menggunakan alat-alat AI ini, melainkan dari seberapa kokoh kedaulatan berpikir mereka di hadapan mesin AI. Teknologi AI harus diposisikan secara tegas sebagai mitra dialog untuk memperluas wawasan, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia.
Ditulis oleh: Adin Lazuardy Firdiansyah, S.Si., M.Mat. (Ketua DPC Bangkalan)
