Memupuk budaya literasi dari akar rumput terus dilakukan oleh Teras Baca Mimi sepanjang Juli hingga Agustus. Dengan semangat “Bhumi Literasi Anak Bangsa”, berbagai kegiatan literasi tetap digerakkan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan aktivitas membaca sejak usia dini.
Salah satu program yang dilaksanakan adalah Teras Baca Mimi Goes to School, dengan menyambangi dua Taman Kanak-Kanak (TK) binaan Perwakilan Lampung Yayasan Hang Tuah, yakni TK 2 Hang Tuah dan TK IV Hang Tuah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pegiat literasi untuk hadir lebih dekat dengan anak-anak sekaligus memperkenalkan buku melalui aktivitas yang menyenangkan.
Kehadiran Teras Baca Mimi di sekolah mendapat sambutan hangat dari para peserta didik. Interaksi langsung dengan anak-anak menjadi pengalaman yang menggembirakan, terlebih ketika kegiatan literasi dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak.
Berbagai aktivitas dilakukan dalam kegiatan tersebut, mulai dari sesi bercerita, mewarnai, hingga fun games. Kegiatan tersebut dirancang bukan sekedar untuk mengenalkan buku, tetapi juga membangun pengalaman positif agar anak-anak memandang membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan sebuah kewajiban.
Pada kesempatan tersebut juga disepakati Nota Kesepahaman (MoU) mengenai pemanfaatan bahan-bahan bacaan bermutu dari Teras Baca Mimi untuk kedua sekolah. Kesepakatan ini menjadi langkah konkret dalam memperluas akses terhadap bahan bacaan sekaligus memperkuat sinergi antara TBM dan satuan pendidikan.
Koleksi buku yang tersedia di Teras Baca Mimi pun terus dimanfaatkan dan disirkulasikan. Bantuan bahan bacaan dari para donatur, muwakif, pegiat, pemerhati literasi, serta dukungan melalui pengadaan koleksi menjadi semakin bermakna karena buku-buku tersebut tidak berhenti di satu tempat, tetapi bergerak dari satu sekolah ke sekolah lainnya.
Keberagaman bahan bacaan menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Buku-buku tersebut menjadi alat kampanye cinta baca yang efektif karena anak-anak dapat menemukan beragam cerita, pengetahuan, gambar, dan pengalaman baru sesuai dengan minat mereka.
Di tengah upaya tersebut, muncul keprihatinan terhadap kabar mengenai pemangkasan anggaran Perpusnas yang disebut berdampak pada tidak dilaksanakannya program Bantuan Seribu Bahan Bacaan Bermutu untuk TBM dan Perpusdes di seluruh Indonesia pada tahun ini. Bagi para pegiat literasi di akar rumput, keberadaan dukungan bahan bacaan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan gerakan literasi.
Ekosistem literasi memang membutuhkan sinergi dari berbagai lini, mulai dari pegiat, masyarakat, sekolah, regulasi, sarana dan prasarana, bahan bacaan, hingga dukungan anggaran. Namun, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Teras Baca Mimi memilih untuk terus menebarkan buku-buku dan merawat gairah membaca yang sedang tumbuh di tengah masyarakat.
Semangat itu semakin menguat ketika Teras Baca Mimi kembali menerima permintaan kerja sama literasi dari sebuah PAUD di desa tetangga. Kabar tersebut menjadi energi baru bahwa gerakan literasi dari akar rumput masih sangat dibutuhkan. Selama masih ada anak-anak yang ingin membaca, sekolah yang membuka pintu, dan masyarakat yang mau bergerak, buku-buku baik akan selalu menemukan jalan untuk sampai kepada pembacanya.