Di sebuah hutan yang ramai oleh berbagai macam hewan, tinggallah seekor Ayam Cemani yang bulunya hitam legam mengilap. Ia dikenal karena penampilannya yang unik. Namun, di balik bulunya yang indah, tersimpan satu penyakit hati yang perlahan tumbuh: iri. Setiap hari, ia memperhatikan Singa yang berjalan gagah di tengah hutan. Ke mana pun Singa pergi, hewan-hewan lain menyingkir dan memberi jalan. “Enak sekali menjadi Singa,” gumam Ayam Cemani. “Semua takut dan menghormatinya.”
Semakin lama, rasa iri itu semakin besar. Ayam Cemani mulai membandingkan dirinya dengan Singa. Menurutnya, Singa terlalu beruntung karena memiliki suara menggelegar, tubuh besar, dan taring tajam. Sementara dirinya hanya seekor ayam yang harus mencari biji-bijian di tanah. “Kalau aku sebesar Singa, pasti semua hewan akan menghormatiku,” pikirnya. Ia lupa bahwa setiap makhluk diciptakan dengan kelebihan dan perannya masing-masing.
Suatu pagi, Ayam Cemani berjalan melewati sebuah jalan setapak. Dari kejauhan, tampak Singa sedang berjalan santai. Melihat Singa mendekat, Ayam Cemani langsung mengangkat kepalanya. Ia tidak ingin terlihat kagum. Bahkan, ketika mereka berpapasan, Ayam Cemani sengaja melengos, membuang muka seolah-olah Singa hanyalah hewan biasa yang tidak layak diperhatikan.
Dalam hati, Ayam Cemani berkata, “Aku tidak perlu menyapa dia. Memangnya siapa Singa? Hanya karena besar dan kuat, bukan berarti lebih hebat dariku.” Ia bahkan sengaja berjalan dengan langkah dibuat-buat agar terlihat berwibawa. Beberapa burung yang melihat tingkahnya saling berpandangan. Mereka tahu, Ayam Cemani sebenarnya sedang berusaha menutupi rasa iri dengan kesombongan.
Namun, Singa sama sekali tidak memperhatikan tingkah Ayam Cemani. Ia terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Bagi Singa, tidak ada alasan untuk memikirkan siapa yang menyapanya dan siapa yang tidak. Ia tidak merasa perlu membuktikan dirinya kepada siapa pun. Baginya, menjadi Singa bukan tentang mendapatkan pengakuan dari seekor ayam, melainkan menjalankan kehidupannya sebagaimana mestinya.
Ayam Cemani yang berharap Singa akan berhenti atau menegurnya justru merasa kecewa. Ia menoleh ke belakang. Singa sudah semakin jauh. “Kok dia tidak peduli?” pikirnya. “Bukankah seharusnya dia tersinggung karena aku melengos?” Untuk pertama kalinya, Ayam Cemani menyadari bahwa sikapnya ternyata tidak memiliki pengaruh apa pun terhadap Singa.
Hari berikutnya, Ayam Cemani kembali melihat Singa. Kali ini, ia sengaja berjalan melewatinya dengan dada membusung. Ia berharap Singa akan memperhatikannya. Tetapi hasilnya sama. Singa tetap tenang, berjalan dengan langkah mantap, tanpa peduli apakah Ayam Cemani menatapnya, membuang muka, atau bahkan menganggapnya tidak ada.
Saat itulah seekor Kancil yang sejak tadi mengamati berkata, “Kamu tahu kenapa Singa tidak peduli kepadamu?” Ayam Cemani terdiam. Kancil melanjutkan, “Karena orang yang benar-benar tahu siapa dirinya tidak sibuk mencari pengakuan dari orang lain. Kamu boleh tidak menyukai Singa, boleh melengos kepadanya, tetapi itu tidak akan mengurangi sedikit pun kewibawaannya.”
Ayam Cemani menundukkan kepala. Ia akhirnya memahami bahwa selama ini ia bukan benar-benar membenci Singa. Ia hanya iri kepada sesuatu yang tidak ia miliki. Ia ingin menjadi besar karena melihat Singa besar, ingin ditakuti karena melihat Singa ditakuti, dan ingin dihormati tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri memiliki kelebihan. Bulunya yang hitam pekat, ketahanannya, dan keunikannya sebenarnya sudah menjadi bagian dari dirinya yang berharga.
Sejak hari itu, Ayam Cemani berhenti membandingkan dirinya dengan Singa. Ketika suatu hari mereka kembali berpapasan, ia tidak lagi melengos dan tidak pula berusaha mencari perhatian. Ia hanya berjalan sebagaimana dirinya sendiri. Singa pun tetap berjalan sebagaimana dirinya sendiri. Ayam Cemani akhirnya belajar bahwa merasa lebih tinggi tidak membuat seseorang menjadi lebih hebat, dan merasa iri tidak akan membuat kita memiliki apa yang dimiliki orang lain. Sebab, sering kali, orang yang kita iri-kan bahkan tidak sedang memikirkan kita sama sekali.
