Bencana yang umum kita pahami selama ini biasanya berkaitan dengan kejadian alam, baik akibat kesalahan manusia maupun proses alami, seperti populasi udara akibat kebakaran, tanah longsor, banjir, atau gempa bumi. Bencana jenis ini kasatmata dan dampak fisiknya dapat diperbaiki oleh manusia. Selain itu, dampaknya cenderung terjadi sekali lalu selesai, tergantung pada skala kerusakan yang ditimbulkan. Namun, ada pula bencana berdampak panjang akibat ulah manusia yang dikenal sebagai bencana kompresi sosial. Bencana ini merupakan kondisi krisis dan ketegangan hebat dalam masyarakat yang dipicu oleh akumulasi tekanan bertubi-tubi di sektor sosial, ekonomi, dan politik, serta diperparah oleh kegagalan atau ketidaktepatan kebijakan pemerintah.
Kebijakan publik yang lahir dari kedangkalan intelektual dan ketidakpekaan sosial merupakan bencana kultural dan ekonomi yang dampaknya nyata dirasakan oleh masyarakat bawah. Bencana ini menekan masyarakat secara bertubi-tubi baik berupa lonjakan harga kebutuhan pokok, ketimpangan, dan berkurangnya daya beli rakyat. Di tengah himpitan hidup, fenomena peluncuran karya literatur politik justru memperlihatkan jurang pemisah antara elit dan realitas yang terjadi. Karya yang diagungkan ini secara eksplisit menunjukkan betapa penjabat publik sering kali buta terhadap penderitaan rakyat.
Komunikasi dan keputusan yang keliru bukan hanya berasal dari ketidaktahuan, melainkan ketidakpahaman terhadap dampak strukturalnya sendiri. Ketika pelucuran buku dijadikan sebagai pembenaran sepihak atas kinerja pemerintah, maka hal tersebut memperlihatkan sikap defentif daripada introspektif. Energi dan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk mengatasi bencana ekonomi rakyat, malah digunakan untuk membangun citra politik. Akibatnya, rakyat semakin tertekan oleh krisis, tanpa adanya solusi konkret dari pemerintah.
Pelucuran buku yang mengaitkan figur politik dengan simbol keagamaan dapat memperkeruh suasana dan memicu kontrovensi di ruang publik. Menggabungkan nama tokoh politik dengan salah satu ajaran keagamaan berisiko menyimpitkan nilai luhur dari keagamaan itu sendiri. Agama berpotensi terdegradasi hanya menjadi stempel moral serta alat legitimasi kekuasaan demi kepentingan kelompok. Langkah ini tidak mencerminkan kegagalan pemerintah dalam merespon, tetapi juga merupakan bentuk pengalihan isu dari evaluasi kinerja pemerintah yang sebenarnya.
Ketika ketimpangan ekonomi semakin menekan, penyusunan narasi teologis politik yang tidak relevan dengan publik yang membutuhkan jaminan kesejahteraan. Masyarakat dijejeli dengan klaim-klaim ideologis ketika masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini dapat memperparah resesi kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Erosi kepercayaan publik akibat kompresi sosial ini merupakan bencana tak terlihat yang sangat berbahaya bagi stabilitas bangsa. Narasi elit dan realitas hidup yang saling kontradiksi dapat membuat legitimasi penguasa runtuh secara perlahan.
Menghadapi ancanam bencana ini, masyarakat sipil harus membangun kesiapsiagaan yang semakin adaptif guna tidak menjadi korban pasif. Kesiapsiagaan adaptif ini diwujudkan melalui penguatan literasi kebijakan untuk menyaring propaganda yang merusak bangsa, verifikasi keterampilan ekonomi, dan memperkuat konsolidasi komunitas sebagai pengaman. Selain itu, saluran pengawasan atas kinerja pemerintah tetap dihidupkan untuk menekan pembuat kebijakan. Hanya dengan ketahanan mandiri, masyarakat dapat bertahan dari himpitan krisis yang diakibatkan oleh ketidakpekaan dan kekeliruan tatanan pemerintah.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan terbaik sebuah bangsa menghadapi bencana kompresi sosial tidak ditentukan oleh klaim-klaim pemerintah yang ditulis dalam buku. Keberhasilan pemerintah diukur dari sejauh mana kebijakan tersebut mampu mengetaskan kemiskinan dan membawa kemaslahatan nyata bagi seluruh rakyat. Pemimpin yang bijak seharusnya fokus mendengar jeritan rakyat yang mengalami kesulitan daripada membenarkan diri sendiri. Hanya melalui kebijakan yang adaptif, adil, dan berempati, tatanan sosial yang harmonis dapat benar-benar terwujud.
Ditulis oleh: Adin Lazuardy (Ketua DPC Bhumi Literasi Bangkalan)