Bencana tidak pernah benar-benar datang dengan wajah yang sama. Perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, kerusakan lingkungan, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya kompleksitas kehidupan sosial membuat risiko bencana semakin berlapis. Banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, gempa bumi, dan berbagai ancaman lainnya tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan yang hanya muncul ketika alam sedang tidak bersahabat. Di tengah perubahan tersebut, satu hal yang harus ikut berubah adalah cara kita mempersiapkan diri. Bencana makin kompleks, sehingga kesiapsiagaan tidak boleh lagi bertahan dengan cara lama.
Selama ini, kesiapsiagaan bencana sering kali dipahami sebatas kemampuan melakukan evakuasi ketika bencana terjadi. Padahal, kesiapsiagaan jauh lebih luas daripada itu. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan mengenai risiko di lingkungannya, memahami tanda-tanda bahaya, mengetahui jalur evakuasi, mampu memilah informasi, serta memiliki kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat. Dengan kata lain, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi, bukan baru dimulai ketika sirene berbunyi.
Di sinilah literasi memiliki peran yang sangat penting. Literasi kebencanaan bukan sekedar kemampuan membaca informasi tentang bencana, tetapi kemampuan memahami risiko, menilai informasi, mengambil keputusan, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan. Masyarakat yang memiliki literasi kebencanaan akan lebih mampu membedakan informasi yang benar dan hoaks, memahami peringatan dini, serta menentukan tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat. Karena itu, membangun masyarakat yang literat juga berarti membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.
Bhumi Literasi Anak Bangsa memandang bahwa gerakan literasi tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Literasi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Salah satunya adalah persoalan kebencanaan. Buku, tulisan, diskusi, pelatihan, dan ruang berbagi pengetahuan dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai risiko bencana di lingkungan masing-masing. Literasi harus membumi, hadir di tengah masyarakat, dan memberikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri serta membantu orang lain.
Peran Bhumi Literasi dapat dimulai dari hal sederhana: menghidupkan percakapan tentang kebencanaan di ruang-ruang masyarakat. Melalui kegiatan seperti diskusi, “Ngobrol Bareng”, penulisan artikel, kampanye literasi, hingga produksi konten edukatif, isu kebencanaan dapat dibicarakan dengan bahasa yang mudah dipahami. Masyarakat tidak cukup hanya diberitahu bahwa bencana berbahaya; mereka perlu diajak memahami mengapa risiko itu muncul, apa yang dapat dilakukan untuk menguranginya, dan bagaimana harus bertindak ketika bencana benar-benar terjadi.
Pada saat yang sama, perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan adaptif. Informasi kebencanaan saat ini dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi informasi yang keliru juga dapat menyebar dengan kecepatan yang sama. Karena itu, literasi digital menjadi bagian penting dari literasi kebencanaan. Bhumi Literasi dapat mengambil peran dengan mendorong masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima, memeriksa, dan menyebarkan informasi terkait bencana, sekaligus menggunakan media digital sebagai sarana edukasi dan penyebarluasan informasi yang benar.
Kesiapsiagaan juga tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga penanggulangan bencana. Pemerintah memiliki peran strategis, tetapi masyarakat adalah bagian terdepan yang berhadapan langsung dengan risiko. Sekolah, kampus, komunitas, organisasi kepemudaan, dunia usaha, media, dan kelompok masyarakat perlu menjadi bagian dari ekosistem kesiapsiagaan. Bhumi Literasi sebagai organisasi berbasis komunitas memiliki ruang untuk mempertemukan berbagai elemen tersebut melalui gerakan pengetahuan dan kolaborasi.
Yang tidak kalah penting, kesiapsiagaan harus memperhatikan karakter setiap daerah. Ancaman bencana di wilayah pesisir tentu berbeda dengan daerah pegunungan, perkotaan, maupun wilayah yang menghadapi persoalan kekeringan. Karena itu, pendekatan yang seragam tidak selalu efektif. Bhumi Literasi dapat mendorong lahirnya gerakan literasi kebencanaan berbasis lokal dengan mengajak masyarakat mendokumentasikan pengetahuan, pengalaman, sejarah bencana, dan praktik mitigasi yang berkembang di daerahnya. Pengetahuan lokal tersebut kemudian dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Membangun kesiapsiagaan adaptif bukan hanya tentang bagaimana kita bertahan ketika bencana datang, tetapi bagaimana kita membangun masyarakat yang mampu belajar, beradaptasi, dan bangkit setelah bencana. Setiap bencana seharusnya menjadi sumber pembelajaran. Apa yang gagal harus diperbaiki, apa yang berhasil harus dipertahankan, dan pengalaman masyarakat harus didokumentasikan agar tidak hilang. Dalam kondisi inilah gerakan literasi memiliki nilai strategis: mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi tindakan.
Bhumi Literasi Anak Bangsa percaya bahwa masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang menganggap dirinya bebas dari bencana, melainkan masyarakat yang sadar bahwa risiko selalu ada dan memilih untuk mempersiapkan diri. Karena itu, sudah saatnya kita meninggalkan pola pikir lama yang hanya bergerak setelah bencana terjadi. Kesiapsiagaan harus dibangun sejak sekarang, melalui pengetahuan, budaya membaca, kemampuan berpikir kritis, teknologi, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Bencana makin kompleks, jangan bertahan dengan cara lama. Mari membangun masyarakat yang lebih literat, lebih siap, dan lebih adaptif menghadapi setiap perubahan.
Ditulis oleh: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)
