-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Bencana Tidak Mengenal Batas, Kesiapsiagaan Harus Melampaui Batas

Tuesday, September 1, 2026 | September 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-02T04:14:07Z

 


Bencana tidak mengenal batas administrasi, batas wilayah, maupun batas kelompok masyarakat. Banjir dapat mengalir dari satu wilayah ke wilayah lain, asap kebakaran dapat melintasi daerah, sementara gempa bumi dan dampaknya dapat dirasakan jauh dari pusat kejadian. Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kompleksitas risiko, bencana juga semakin sulit dipandang sebagai persoalan satu daerah semata. Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh dibangun dalam sekat-sekat wilayah. Kita membutuhkan cara pandang bahwa keselamatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kesiapan dan kepedulian lintas batas.

Kesiapsiagaan yang melampaui batas berarti membangun kemampuan untuk saling terhubung sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Informasi harus dapat bergerak dengan cepat dan benar, pengalaman antarwilayah perlu dibagikan, serta masyarakat harus memiliki ruang untuk belajar dari keberhasilan maupun kegagalan daerah lain. Pemerintah memang memiliki peran penting, tetapi kesiapsiagaan tidak akan kuat apabila hanya mengandalkan institusi formal. Sekolah, kampus, komunitas, organisasi masyarakat, media, dunia usaha, hingga kelompok pemuda perlu menjadi bagian dari ekosistem kesiapsiagaan yang saling memperkuat.

Dalam kondisi inilah Bhumi Literasi Anak Bangsa dapat mengambil peran melalui gerakan literasi berbasis komunitas. Literasi kebencanaan tidak hanya berarti membaca informasi tentang bencana, tetapi juga kemampuan memahami risiko, memeriksa kebenaran informasi, mengambil keputusan, dan menyebarkan pengetahuan kepada orang lain. Bhumi Literasi dapat menjadikan ruang-ruang diskusi, kegiatan menulis, kampanye digital, dan aktivitas komunitas sebagai sarana untuk membangun kesadaran bahwa kesiapsiagaan adalah urusan bersama. Pengetahuan tentang bencana harus keluar dari ruang-ruang formal dan hadir di tengah masyarakat.

Bhumi Literasi juga memiliki peluang untuk membangun jejaring literasi kebencanaan lintas daerah. Setiap daerah memiliki pengalaman dan karakter ancaman yang berbeda. Pengalaman masyarakat di daerah rawan banjir dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain, begitu pula pengalaman menghadapi kekeringan, longsor, kebakaran, maupun bencana lainnya. Dengan mendokumentasikan pengalaman tersebut dalam bentuk tulisan, buku, konten digital, diskusi, dan berbagai produk pengetahuan, Bhumi Literasi dapat membantu menjembatani pengetahuan antarwilayah. Dengan demikian, batas geografis tidak menjadi batas bagi proses belajar masyarakat.

Bencana mungkin terjadi di satu tempat, tetapi dampaknya dapat menjadi pelajaran bagi semua tempat. Karena itu, kesiapsiagaan harus dibangun melalui semangat berbagi pengetahuan, solidaritas, kolaborasi, dan kepedulian tanpa sekat. Bhumi Literasi Anak Bangsa percaya bahwa literasi harus mampu membangun masyarakat yang tidak hanya cerdas membaca keadaan, tetapi juga mampu bertindak dan saling menguatkan ketika menghadapi krisis. Bencana tidak mengenal batas, maka kesiapsiagaan kita pun harus berani melampaui batas.


Ditulis oleh: Agung Prasetyo Wibowo (Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)

×
Berita Terbaru Update