Berkaca dari Jepang, literasi kebencanaan sejak dini menjadi fondasi masyarakat yang adaptif.
Bencana semakin kompleks dan dampaknya kian berlapis. Gempa dapat diikuti tsunami, hujan ekstrem dapat memicu banjir dan longsor, sementara terputusnya listrik, transportasi, dan komunikasi dapat memperbesar kerentanan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan prosedur atau menunggu instruksi. Masyarakat perlu memahami risiko, menilai situasi, mengambil keputusan, dan beradaptasi ketika kondisi berubah. Kesiapsiagaan pada akhirnya bukan hanya persoalan sistem, tetapi juga kapasitas manusia.
Jepang memberikan pelajaran penting mengenai hal tersebut. Hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana membuat disaster awareness menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak diperkenalkan pada pengetahuan kebencanaan sejak sekolah, mengikuti latihan evakuasi, mengenali tempat perlindungan, dan belajar merespons keadaan darurat. Yang dibangun bukan sekadar kemampuan menghafal prosedur, melainkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran ketika bencana terjadi.
Kesiapsiagaan pun tidak hadir hanya saat bencana mengancam, tetapi tumbuh menjadi bagian dari budaya.
Di sinilah literasi kebencanaan sejak dini menjadi penting. Literasi kebencanaan bukan sekadar mengetahui jenis bencana, tetapi kemampuan memahami risiko dan menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan. Anak yang memahami mengapa harus berlindung saat gempa, mengenali jalur evakuasi, atau mengetahui bahwa gempa kuat di wilayah pesisir dapat menjadi tanda bahaya tsunami, sedang membangun kemampuan mengambil keputusan. Pengetahuan yang ditanamkan sejak dini menjadi fondasi bagi masyarakat yang lebih sadar risiko ketika dewasa.
Namun, literasi tidak boleh berhenti pada hafalan tentang “apa yang harus dilakukan”. Bencana memiliki dinamika yang tidak selalu sesuai skenario. Jalur evakuasi dapat terhalang, komunikasi terputus, anggota keluarga berada di lokasi berbeda, atau informasi yang diterima belum lengkap. Karena itu, pendidikan kebencanaan perlu melatih berpikir kritis dan problem solving. Masyarakat harus memahami prinsip keselamatan sekaligus mampu menyesuaikan tindakan berdasarkan situasi. Kesiapsiagaan adaptif bukan berarti meninggalkan prosedur, melainkan menggunakan pengetahuan secara tepat ketika menghadapi ketidakpastian.
Kesadaran tersebut perlu dibangun melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Latihan evakuasi seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi kesempatan untuk menguji kesiapan. Anak-anak dapat diajak mengenali lingkungan, mengetahui titik evakuasi, memahami tanda bahaya, dan mendiskusikan apa yang harus dilakukan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Dengan demikian, pendidikan kebencanaan tidak hanya membentuk individu yang tahu risiko, tetapi individu yang terbiasa berpikir dan bertindak di tengah risiko.
Kesiapsiagaan juga bukan semata-mata kemampuan menyelamatkan diri. Dalam situasi darurat, setiap orang memiliki tingkat kerentanan yang berbeda. Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok yang membutuhkan bantuan khusus dapat menghadapi risiko lebih besar. Karena itu, budaya siaga perlu dibangun bersama dengan kepedulian dan solidaritas. Masyarakat yang tangguh bukan masyarakat yang setiap individunya mampu bertahan sendiri, melainkan masyarakat yang mampu saling mengenali risiko, membantu, dan bergerak bersama ketika krisis terjadi.
Indonesia tentu tidak perlu menyalin seluruh sistem Jepang. Kondisi geografis dan karakter risiko bencana kita memiliki kekhasan sendiri. Namun, cara pandang Jepang layak menjadi refleksi: kesiapsiagaan tidak seharusnya baru dibicarakan setelah bencana terjadi. Literasi kebencanaan perlu ditanamkan sejak dini, diperkuat melalui latihan, dan dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar menjadi penerima peringatan, tetapi mampu memahami informasi, menentukan prioritas, dan mengambil tindakan yang tepat.
Pada akhirnya, teknologi peringatan dini dan infrastruktur yang kuat memang penting. Namun, keduanya tidak akan optimal tanpa manusia yang mampu merespons secara tepat. Ketangguhan bencana tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui manusia yang sadar risiko, kritis, mandiri, dan adaptif.
Kita mungkin tidak dapat menentukan kapan sirene akan berbunyi. Tetapi kita dapat menentukan bagaimana masyarakat merespons ketika suara itu terdengar.
Kesiapsiagaan sejati dimulai jauh sebelum sirene berbunyi, ketika pengetahuan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi budaya. Dari sirene menuju literasi, dari literasi menuju tindakan, dan dari tindakan menuju masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Ditulis oleh: Christin Aprilya Adam, S.Sos., M.Sc. (Sekretaris DPW Bhumi Literasi Daerah Istimewa Yogyakarta)
