Malam ini saya sedang melaksanakan tugas di Bandung. Di tengah kesibukan dan rutinitas pekerjaan, saya berkesempatan bertemu dengan sahabat saya. Mas Reza, Mbak Rika, dan Mas Randi. Pertemuan ini kembali mengingatkan saya bahwa terkadang percakapan terbaik justru lahir dari pertemuan yang tidak terlalu direncanakan.
Mas Reza dan Mbak Rika adalah dua sosok yang menurut saya memiliki semangat kewirausahaan yang menarik. Mereka tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga tentang bagaimana sebuah usaha dapat terus berkembang melalui inovasi, keberanian mengambil peluang, dan kemauan untuk belajar. Saat ini, keduanya mengelola Kurito Coffee & Eatery, sebuah ruang yang bukan sekedar tempat menikmati makanan dan minuman, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan mereka membangun sesuatu dari gagasan menjadi kenyataan.
Menariknya, pembicaraan kami malam ini tidak berhenti pada urusan bisnis. Kami justru banyak berdiskusi tentang sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu literasi masyarakat Indonesia. Bagi saya, literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan manusia untuk memahami informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, menghasilkan gagasan, dan kemudian mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Saya semakin percaya bahwa gerakan literasi tidak harus selalu dimulai dari ruang-ruang formal. Ia bisa tumbuh dari mana saja. Dari sekolah, komunitas, kantor, rumah, warung kopi, bahkan dari percakapan sederhana antarsahabat. Ketika orang mau berdiskusi, bertukar gagasan, membaca, menulis, dan membagikan pengetahuan, sesungguhnya pada saat itu proses literasi sedang berlangsung.
Beberapa waktu lalu, kami juga sempat berbincang dalam acara Ngobrol Bareng Bhumi Literasi, khususnya membahas berbagai trik dan pengalaman dalam mengelola bisnis F&B. Bagi saya, forum seperti itu penting karena literasi tidak boleh berhenti pada teori. Pengetahuan harus memiliki ruang untuk dipraktikkan. Pengalaman seorang pebisnis dapat menjadi bahan belajar bagi orang lain, sebagaimana pengalaman seorang penulis, prajurit, akademisi, maupun pekerja dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat.
Ada satu hal yang juga kembali saya pikirkan malam ini, yaitu kita saat ini masih berada di usia 30-an. Tenaga masih ada. Rasa ingin tahu masih besar. Kesempatan untuk belajar masih terbuka luas. Lalu, mengapa kita harus terlalu cepat merasa sudah selesai?
Menurut saya, usia 30-an seharusnya menjadi masa untuk berani mencoba lebih banyak hal. Tidak semuanya harus berhasil. Tidak semua eksperimen akan menghasilkan keuntungan. Tidak semua ide akan menjadi bisnis besar. Tetapi setiap percobaan memberikan pengalaman, setiap kegagalan memberikan pelajaran, dan setiap pertemuan dengan orang baru berpotensi membuka perspektif yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan.
Mas Randi malam ini juga sedang berada di Bandung karena melaksanakan dinas, sama seperti saya. Pertemuan ini mungkin terlihat sederhana, beberapa orang yang kebetulan sedang berada di kota yang sama kemudian bertemu dan berbincang. Namun, saya selalu percaya bahwa jejaring manusia sering kali bekerja dengan cara yang tidak kita duga. Sebuah pertemuan dapat melahirkan gagasan, sebuah percakapan dapat melahirkan kolaborasi, dan sebuah kolaborasi dapat melahirkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Karena itu, saya semakin yakin bahwa membangun Indonesia tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dengan membaca satu buku, menulis satu gagasan, membuka satu usaha, berbagi satu pengalaman, atau mengajak satu orang untuk belajar. Ketika jutaan orang melakukan hal-hal kecil tersebut secara konsisten, dampaknya tentu tidak lagi kecil.
Malam ini saya pulang dengan satu kesimpulan, yaitu jangan terlalu sibuk menghitung usia sampai lupa menggunakan energi yang masih kita punya. Selama masih ada kesempatan untuk belajar, bertemu orang baru, mencoba hal baru, dan memberikan manfaat, maka perjalanan belum selesai. Usia 30-an bukan waktunya memperbanyak alasan. Ini waktunya memperbanyak pengalaman, memperluas jejaring, menghasilkan karya, dan ikut mengambil bagian dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih literat.
Ditulis oleh: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketum Bhumi Literasi)