-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Jejak Sang Jenderal Bersama Bhumi Literasi Anak Bangsa

Monday, September 28, 2026 | September 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-28T07:10:33Z

 


Jakarta — Literasi tidak selalu tumbuh dari ruang kelas, perpustakaan, atau institusi pendidikan. Di tengah masyarakat, literasi juga dapat berkembang melalui komunitas yang menghadirkan ruang untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan berbagi gagasan. Semangat inilah yang menjadi bagian dari perjalanan Bhumi Literasi Anak Bangsa, sebuah gerakan literasi yang terus berkembang dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Mayjen TNI (Purn.) Dr. Nugraha Gumilar selaku Pembina.

Bhumi Literasi Anak Bangsa lahir dari gagasan sederhana bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkarya apabila diberikan kesempatan. Sejak didirikan pada 11 Mei 2022 oleh Rizal Mutaqin dan Dwi Shinta Dharmopadni, gerakan ini berupaya membangun ruang literasi yang tidak terbatas pada kegiatan menerbitkan buku. Literasi ditempatkan sebagai sarana membangun persahabatan, kolaborasi, pengetahuan, sekaligus membuka harapan bagi masyarakat.

Dalam perjalanan tersebut, sosok Mayjen TNI (Purn.) Dr. Nugraha Gumilar menjadi salah satu figur yang memberikan perhatian terhadap perkembangan Bhumi Literasi. Dukungan seorang perwira tinggi TNI terhadap gerakan literasi menjadi bagian penting dalam mempertemukan semangat pengabdian dengan dunia pendidikan, pengetahuan, dan penulisan.

Bagi Bhumi Literasi, kehadiran seorang pembina bukan semata-mata berkaitan dengan struktur organisasi. Pembina diharapkan dapat memberikan pandangan, dorongan, dan perspektif agar gerakan yang dibangun tetap memiliki arah serta mampu memberikan manfaat yang lebih luas. Dalam kondisi tersebut, Nugraha Gumilar hadir sebagai bagian dari perjalanan organisasi yang sedang bertumbuh.

Perjalanan Bhumi Literasi sendiri terus berkembang dari aktivitas menulis opini dan artikel ilmiah menjadi berbagai kegiatan literasi. Beragam buku lahir dari komunitas tersebut, disertai kegiatan mengajar, bimbingan teknis, webinar, seminar, diskusi, hingga pengembangan jaringan organisasi di sejumlah daerah. Perkembangan itu menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh ketika masyarakat diberi ruang untuk terlibat dan menghasilkan karya.

Salah satu gagasan yang terus dibawa Bhumi Literasi adalah keyakinan bahwa semua orang bisa menulis buku. Gagasan tersebut menjadi dorongan agar kegiatan menulis tidak hanya menjadi milik kalangan akademisi atau penulis profesional. Setiap pengalaman, perjalanan hidup, pemikiran, dan persoalan yang ditemui masyarakat dapat menjadi bahan untuk melahirkan sebuah karya.

Dalam gerakan ini, literasi juga memiliki hubungan yang erat dengan proses pemberdayaan. Membaca memperluas wawasan, wawasan mendorong seseorang untuk berpikir, dan pemikiran dapat dituangkan menjadi tulisan. Ketika tulisan semakin banyak lahir, muncul kembali kebutuhan untuk membaca dan belajar. Siklus tersebut kemudian menjadi bagian dari gagasan Bhumi Literasi mengenai gerakan literasi yang berkelanjutan.

Perkembangan organisasi hingga memiliki jaringan di sejumlah wilayah menjadi babak lain dalam perjalanan Bhumi Literasi Anak Bangsa. Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Yogyakarta, DKI, dan Lampung menjadi bagian dari perkembangan struktur organisasi. Berbagai program daerah juga dikembangkan dengan mengangkat persoalan dan potensi lokal, sehingga literasi tidak berhenti sebagai aktivitas membaca dan menulis, tetapi menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan masyarakat.

Bagi Nugraha Gumilar, keterlibatan dalam perjalanan Bhumi Literasi juga menjadi bagian dari semangat pengabdian yang lebih luas. Literasi memberikan ruang bagi generasi muda dan masyarakat untuk mengembangkan gagasan, mendokumentasikan pengalaman, serta membangun pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dari sinilah pertemuan antara pengabdian, kepemimpinan, dan gerakan literasi menemukan ruangnya.

Jejak Sang Jenderal bersama Bhumi Literasi Anak Bangsa pada akhirnya bukan hanya tentang seorang pembina dan sebuah organisasi. Ia merupakan bagian dari perjalanan sebuah gerakan yang berusaha meyakinkan masyarakat bahwa setiap orang memiliki cerita dan gagasan yang layak didengar. Selama ruang untuk membaca, berdiskusi, dan menulis terus dibuka, Bhumi Literasi berharap gerakan tersebut dapat terus tumbuh dari keluarga, bergerak di tengah masyarakat, dan memberikan kontribusi bagi bangsa.

×
Berita Terbaru Update