-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Kesiapsiagaan Adaptif: Solusi Struktural atau Retorika Tanpa Arah

Wednesday, September 2, 2026 | September 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-03T02:49:28Z

 


Istilah kesiapsiagaan adaptif memang terdengar tepat untuk menggambarkan kebutuhan menghadapi bencana saat ini. Ancaman bencana semakin beragam dan dampaknya sering kali saling berkaitan. Namun, justru ada persoalan yang perlu dipertanyakan. Jangan sampai kita terlalu cepat menyebut sebuah sistem sebagai “adaptif” hanya karena menggunakan istilah baru dalam kebijakan. Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan istilah yang terdengar canggih. Mereka membutuhkan sistem yang benar-benar bekerja ketika keadaan darurat terjadi.

Kita sebenarnya tidak kekurangan aturan dan prosedur. Berbagai pedoman penanggulangan bencana sudah tersedia. Lembaga yang memiliki tugas juga sudah jelas. Masalahnya muncul ketika semua itu diuji oleh kondisi nyata. Jalur evakuasi bisa tidak berfungsi, komunikasi dapat terputus, informasi berubah dengan cepat, dan kebutuhan masyarakat dapat jauh lebih besar daripada perkiraan. Dalam situasi seperti itu, rencana yang terlihat sempurna di atas kertas belum tentu mampu menjawab persoalan di lapangan. Karena itu, persoalan utama bukan sekadar memiliki rencana, tetapi memiliki kemampuan untuk menyesuaikan rencana ketika situasi berubah.

Namun, saya tidak sepakat jika adaptasi kemudian dimaknai sebagai kebebasan untuk mengubah apa pun sesuai keadaan. Dalam kondisi bencana, fleksibilitas tetap membutuhkan batas. Petugas harus mengetahui siapa yang mengambil keputusan, siapa yang bertanggung jawab, dan prosedur apa yang harus tetap dipertahankan. Tanpa struktur yang jelas, terlalu banyak ruang improvisasi justru dapat menimbulkan kebingungan. Kesiapsiagaan yang adaptif bukan berarti bekerja tanpa aturan, tetapi mampu menyesuaikan tindakan tanpa kehilangan kendali.

Persoalan yang lebih serius adalah ketika konsep adaptif tidak memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Kita sering mendengar istilah seperti penguatan kapasitas, peningkatan resiliensi, transformasi digital, dan kesiapsiagaan adaptif. Semuanya terdengar baik. Tetapi setelah program selesai, pertanyaan yang seharusnya muncul adalah apa yang benar-benar berubah. Apakah waktu evakuasi menjadi lebih cepat? Apakah masyarakat lebih memahami peringatan dini? Apakah koordinasi antarlembaga menjadi lebih baik? Apakah korban dan kerugian dapat ditekan? Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan jelas, maka adaptasi berisiko hanya menjadi bahasa kebijakan tanpa hasil yang terukur.

Di sisi lain, kita juga harus mengakui bahwa bencana memang tidak dapat sepenuhnya diprediksi. Tidak mungkin semua kondisi disiapkan dalam bentuk prosedur yang sangat rinci. Ada situasi ketika keputusan harus dibuat berdasarkan informasi yang terbatas. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan membaca keadaan dan mengambil keputusan secara cepat justru sangat menentukan. Personel yang hanya berpegang pada prosedur tanpa memahami situasi dapat mengalami kesulitan ketika kenyataan berbeda dari skenario latihan. Karena itu, kemampuan beradaptasi tetap menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.

Adaptasi yang paling penting justru bukan selalu berkaitan dengan teknologi. Teknologi memang dapat membantu melalui sistem peringatan dini, pemetaan, komunikasi, dan pengolahan data. Tetapi teknologi tidak akan banyak membantu jika orang yang mengoperasikannya tidak terlatih atau masyarakat tidak tahu bagaimana merespons informasi yang diberikan. Sistem yang sederhana tetapi dipahami dan dilaksanakan dengan baik bisa lebih berguna daripada sistem canggih yang tidak siap digunakan ketika terjadi gangguan.

Kesiapsiagaan juga harus berani melihat kegagalan sebagai bahan evaluasi. Setiap bencana seharusnya menghasilkan perubahan, bukan hanya laporan. Jika komunikasi gagal, sistem komunikasi harus diperbaiki. Jika koordinasi tidak berjalan, pembagian tugas harus dikaji ulang. Jika masyarakat terlambat melakukan evakuasi, cara penyampaian peringatan perlu dievaluasi. Tanpa proses belajar seperti itu, kita hanya akan mengulang pola yang sama pada bencana berikutnya. Di sinilah saya melihat makna adaptasi yang sebenarnya, yaitu kemampuan untuk belajar dan memperbaiki sistem berdasarkan pengalaman.

Pada akhirnya, saya melihat kesiapsiagaan adaptif dapat menjadi solusi struktural, tetapi hanya jika diterjemahkan ke dalam tindakan yang konkret. Adaptasi harus terlihat dalam latihan, pengambilan keputusan, koordinasi, penggunaan teknologi, pengelolaan sumber daya, dan evaluasi setelah bencana. Jika hanya berhenti dalam dokumen atau pidato, istilah tersebut tidak memiliki banyak arti bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Jadi, persoalannya bukan apakah kita membutuhkan kesiapsiagaan adaptif atau tidak. Kita jelas membutuhkannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita benar-benar siap mengubah cara kerja ketika cara lama terbukti tidak efektif. Menurut saya, adaptif bukan berarti selalu membuat kebijakan baru. Adaptif berarti berani memperbaiki kebijakan yang tidak bekerja, mempertahankan hal yang terbukti efektif, dan mengambil keputusan yang tepat ketika keadaan tidak sesuai dengan rencana. Jika prinsip itu benar-benar dijalankan, kesiapsiagaan adaptif bukan lagi retorika. Ia menjadi kemampuan nyata yang dapat dirasakan ketika bencana benar-benar terjadi.


Ditulis oleh: Arif Suhendar, S.A.P., M.A.P (Bidang Pendidikan dan Kurikulum DPP)

×
Berita Terbaru Update