-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Profil

Iklan

Indeks Berita

Perjalanan Seorang Prajurit Dalam Membangun Gerakan Literasi

Monday, September 28, 2026 | September 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-28T07:01:10Z

 


Jakarta — Perjalanan pengabdian seseorang tidak selalu berhenti pada satu ruang dan satu profesi. Hal itu tergambar dalam perjalanan Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc., seorang perwira TNI yang kemudian turut membangun gerakan literasi melalui Bhumi Literasi Anak Bangsa. Berangkat dari latar belakang teknologi informasi dan pengalaman sebagai prajurit, Rizal memilih memperluas ruang pengabdiannya melalui dunia pendidikan, kepenulisan, dan pemberdayaan masyarakat.

Rizal merupakan lulusan PaPK TNI yang menjalani masa dinas selama delapan tahun dengan pangkat saat ini Kapten. Sebelum memasuki dunia militer, ia menempuh pendidikan S1 Teknik Informatika di UIN Malang. Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut melalui pendidikan S2 Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Latar belakang yang memadukan teknologi, militer, dan kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membentuk cara pandangnya dalam membangun organisasi.

Gagasan tentang literasi bagi Rizal tidak berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Literasi dipandang sebagai ruang untuk membuka kesempatan, memperluas wawasan, dan membantu seseorang menemukan potensi yang dimilikinya. Dari pemikiran tersebut, muncul keinginan untuk membangun sebuah wadah yang dapat mempertemukan orang-orang yang memiliki minat terhadap dunia kepenulisan dan pengembangan masyarakat.

Pada 11 Mei 2022, Bhumi Literasi Anak Bangsa didirikan oleh Rizal Mutaqin bersama Dwi Shinta Dharmopadni. Nama Bhumi memiliki kedekatan khusus dengan keluarga mereka karena organisasi tersebut lahir hanya beberapa jam setelah kelahiran anak pertama mereka, Bhumi. Dari sebuah momen keluarga kemudian tumbuh sebuah gerakan yang membawa semangat literasi dengan semboyan “Gerakan Literasi dari Keluarga untuk Bangsa.”

Pada masa awal, Bhumi Literasi Anak Bangsa berupaya menjadi ruang bagi penulis pemula maupun profesional. Kegiatan yang dilakukan antara lain penulisan opini, artikel ilmiah, pengajaran, bimbingan teknis, serta berbagai kegiatan literasi lainnya. Seiring waktu, aktivitas tersebut berkembang menjadi gerakan yang tidak hanya berorientasi pada menghasilkan buku, tetapi juga membangun pertemanan, kolaborasi, dan ruang tumbuh bagi masyarakat.

Rizal juga membawa gagasan bahwa semua orang bisa menulis buku. Baginya, kemampuan menulis tidak semestinya hanya dimiliki oleh mereka yang mempunyai latar belakang akademik atau profesi tertentu. Setiap orang memiliki pengalaman, pemikiran, dan cerita yang dapat menjadi pengetahuan bagi orang lain apabila diberi ruang untuk mengungkapkannya.

Pendekatan tersebut terlihat dalam cara Rizal membangun komunikasi dengan berbagai kalangan. Ia memandang bahwa orang-orang yang sering mendapatkan label tertentu di masyarakat tetap memiliki potensi yang perlu didengar. Dalam sejumlah ruang pertemuan, ia menggunakan cara sederhana dengan memberikan selembar kertas dan pena, kemudian meminta peserta menuliskan apa yang ada dalam pikiran dan hati mereka. Dari selembar kertas itu, dialog dan proses memahami seseorang dapat dimulai.

Perjalanan Bhumi Literasi kemudian berkembang melalui berbagai karya dan kegiatan. Buku, seminar, webinar, diskusi, pelatihan, kompetisi menulis, hingga pembentukan struktur organisasi di berbagai daerah menjadi bagian dari proses tersebut. Gerakan yang awalnya berangkat dari gagasan sederhana kemudian berkembang dengan hadirnya sejumlah Dewan Pengurus Wilayah dan Dewan Pengurus Cabang di berbagai daerah.

Bagi Rizal, organisasi juga bukan sekedar struktur kepengurusan. Organisasi harus menjadi ruang belajar dan ruang bertumbuh bagi setiap anggotanya. Karena itu, Bhumi Literasi terus mendorong kegiatan yang mempertemukan anggota dalam aktivitas membaca, berdiskusi, menulis, dan berbagi gagasan. Prinsip tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan literasi sebagai gerakan yang hidup di tengah masyarakat, bukan sekedar aktivitas menghasilkan buku.

Perjalanan seorang prajurit ke dunia literasi akhirnya memperlihatkan bahwa pengabdian dapat memiliki banyak bentuk. Dari pengalaman sebagai prajurit, latar belakang teknologi informasi, pendidikan kepemimpinan, hingga aktivitas membangun komunitas, Rizal Mutaqin memilih terus memperluas ruang pengabdiannya. Melalui Bhumi Literasi Anak Bangsa, ia bersama para pengurus berupaya menjadikan literasi sebagai jalan untuk membuka kesempatan, menumbuhkan potensi, dan melahirkan karya yang dapat memberi manfaat bagi anak bangsa.

×
Berita Terbaru Update