Ada gerakan besar yang tidak selalu bermula dari ruang rapat, gedung megah, atau perencanaan organisasi yang rumit. Sebagian justru lahir dari peristiwa sederhana dalam kehidupan keluarga, dari percakapan, harapan, dan keyakinan bahwa sesuatu yang kecil dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Kisah Dwi Shinta Dharmopadni menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namanya tidak dapat dipisahkan dari lahirnya Bhumi Literasi Anak Bangsa, sebuah gerakan yang membawa semangat bahwa literasi seharusnya tumbuh dari keluarga dan memberikan manfaat bagi bangsa. Di balik perjalanan gerakan ini, terdapat peran seorang perempuan yang turut merawat gagasan, mengembangkan karya, dan membangun ruang bagi tumbuhnya budaya literasi.
Bagi Dwi Shinta, perjalanan membangun literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis. Literasi juga merupakan upaya membuka kesempatan bagi manusia untuk belajar, menyampaikan gagasan, serta meninggalkan jejak pemikiran melalui karya. Cara pandang tersebut menemukan ruang pengembangannya melalui kolaborasi bersama Rizal Mutaqin. Keduanya memiliki cita-cita untuk menghadirkan wadah yang mampu mempertemukan penulis pemula dengan penulis berpengalaman. Mereka meyakini bahwa kemampuan menulis tidak seharusnya menjadi milik segelintir orang, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh siapa pun yang memperoleh kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk bertumbuh.
Momentum penting dalam perjalanan tersebut terjadi pada 11 Mei 2022. Beberapa jam setelah kelahiran anak pertama mereka, Bhumi, lahirlah gagasan untuk membangun sebuah komunitas bernama Bhumi Literasi Anak Bangsa. Nama Bhumi tidak hanya menjadi pengingat atas kehadiran seorang anak dalam keluarga mereka, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi tumbuhnya gerakan yang membawa manfaat lebih luas. Dari sebuah keluarga kecil, lahir cita-cita untuk membangun rumah bersama bagi para penulis dan pegiat literasi. Peristiwa tersebut menjadi titik awal perjalanan yang mempertemukan kehidupan keluarga dengan pengabdian melalui literasi. Sebuah kelahiran menghadirkan kehidupan baru, sementara gagasan yang menyertainya menjadi awal perjalanan panjang untuk menumbuhkan karya dan berbagi pengetahuan.
Pada masa awal, Bhumi Literasi Anak Bangsa menjalankan kegiatan yang relatif sederhana. Penulisan opini dan artikel ilmiah menjadi bagian dari aktivitas awal komunitas. Namun, kesederhanaan tersebut tidak mengurangi besarnya cita-cita yang ingin dicapai. Gerakan ini berusaha memperkenalkan literasi melalui berbagai kegiatan, termasuk pengajaran, bimbingan teknis, dan aktivitas lain yang mendorong masyarakat untuk belajar. Dalam proses itu, Dwi Shinta turut menjadi bagian dari perjalanan membangun fondasi komunitas. Tidak semua gerakan langsung tumbuh besar, dan tidak setiap gagasan segera memperoleh pengakuan. Ada proses yang harus dijalani, kebiasaan yang perlu dibangun, serta konsistensi yang harus dipertahankan. Dari proses sederhana itulah Bhumi Literasi Anak Bangsa mulai menemukan bentuk dan arah perkembangannya.
Perjalanan berikutnya memperlihatkan bahwa kegiatan literasi dapat berkembang menjadi gerakan penerbitan buku. Pada 2023, Bhumi Literasi Anak Bangsa mulai memasuki fase produktif melalui lahirnya berbagai karya. Salah satunya adalah buku Saya Bukan Keluarga TNI, Saya Tidak Punya Uang, Apa Bisa Lolos Jadi TNI?, yang ditulis oleh Rizal Mutaqin dan Dwi Shinta Dharmopadni. Buku tersebut membawa pesan tentang perjuangan, kesempatan, dan keyakinan bahwa keterbatasan latar belakang bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Keterlibatan Dwi Shinta dalam karya ini menunjukkan bahwa dunia kepenulisan dapat menjadi sarana untuk membagikan pengalaman sekaligus menyampaikan inspirasi kepada pembaca. Buku bukan sekedar kumpulan halaman, melainkan ruang untuk menyampaikan gagasan, merekam perjalanan, dan mempertemukan pengalaman seseorang dengan harapan orang lain.
Di luar keterlibatannya dalam pendirian komunitas, Dwi Shinta juga memiliki aktivitas profesional di bidang penelitian Sistem Informasi Manajemen. Latar belakang teknologi dan pengelolaan informasi memberikan perspektif tersendiri dalam perjalanan intelektualnya. Di era ketika informasi bergerak semakin cepat dan teknologi memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, kemampuan mengelola informasi menjadi bagian penting dari proses pengembangan pengetahuan. Bidang tersebut memperlihatkan bahwa literasi tidak harus dibatasi pada buku konvensional. Literasi juga berhubungan dengan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memanfaatkan teknologi, serta mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang berguna. Perpaduan antara aktivitas profesional dan gerakan literasi membuka ruang bagi Dwi Shinta untuk berkontribusi melalui jalur yang saling melengkapi.
Kiprahnya dalam dunia penerbitan juga tercermin melalui keterlibatan sebagai editor dan penulis. Berbagai karya yang disuntingnya mencakup tema teknologi, pendidikan, kepemimpinan, pengembangan karakter, kebudayaan, hingga sejarah. Sementara itu, karya-karya yang ditulisnya turut mengangkat persoalan perjuangan, dunia digital, dan perjalanan Bhumi Literasi Anak Bangsa. Salah satu bukunya, Dari Kelas Kecil ke Medan Perang, mengisahkan perjalanan seorang anak guru yang kemudian menjadi prajurit TNI. Buku tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam mengolah pengalaman hidup menjadi narasi yang dapat dibaca dan dipelajari orang lain. Di balik pekerjaan penyuntingan, terdapat ketelitian dalam memperhatikan gagasan dan bahasa; di balik penulisan, terdapat upaya menyusun pengalaman agar dapat dipahami oleh pembaca. Kedua peran itu menjadi bagian dari kontribusinya dalam ekosistem literasi.
Seiring waktu, Bhumi Literasi Anak Bangsa berkembang melampaui bentuk komunitas kecil yang menjadi titik awalnya. Kegiatan penulisan dan penerbitan berkembang bersama upaya memperluas kolaborasi, membangun struktur organisasi, serta menyelenggarakan berbagai kegiatan literasi. Pada 2024, pengembangan gerakan juga ditandai dengan berdirinya PT Bhumi Literasi Anak Bangsa pada 13 Juli 2024, dengan Dwi Shinta Dharmopadni sebagai direktur. Selanjutnya, pada 24 Februari 2026, Bhumi Literasi Anak Bangsa resmi berbadan hukum sebagai yayasan. Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju tata kelola yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dalam perkembangan kelembagaan itu, Dwi Shinta juga tercatat mengemban peran sebagai Ketua Yayasan Bhumi Literasi Anak Bangsa serta Ketua Dewan Pengawas Komunitas. Peran-peran tersebut menempatkannya dalam proses penguatan organisasi yang tumbuh dari gagasan awal bersama.
Meski demikian, makna perjalanan Dwi Shinta tidak semata-mata terletak pada jabatan, jumlah buku, atau perkembangan struktur organisasi. Hal yang lebih penting adalah nilai yang berusaha dirawat melalui gerakan tersebut, yaitu keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, menulis, dan menghasilkan karya. Sebuah gerakan literasi tidak akan bertahan hanya karena nama atau struktur, tetapi karena orang-orang di dalamnya terus menemukan alasan untuk terlibat. Dalam kondisi tersebut, perjalanan Dwi Shinta dapat dibaca sebagai bagian dari upaya menghubungkan kehidupan pribadi, pekerjaan profesional, kepenulisan, dan pengabdian. Berbagai peran tersebut tidak harus berdiri sendiri. Ketika dipertemukan oleh gagasan yang sama, semuanya dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat pengetahuan bagi orang lain.
Kisah Dwi Shinta Dharmopadni adalah bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh dari lingkungan keluarga dan berkembang menjadi gerakan bersama. Bhumi Literasi Anak Bangsa lahir dari momen yang personal, tetapi membawa harapan yang melampaui kepentingan pribadi. Perjalanan itu mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dengan langkah besar; terkadang, ia berawal dari keberanian untuk menulis, kemauan untuk berbagi, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Di balik lahirnya sebuah gerakan, ada orang-orang yang memilih untuk menjaga gagasan agar tidak berhenti sebagai wacana. Bagi Dwi Shinta, jejak yang dibangun melalui keluarga, penelitian, kepenulisan, dan literasi menjadi bagian dari perjalanan yang terus berkembang. Sebab, pada akhirnya, sebuah gerakan tidak hanya dinilai dari kapan ia lahir, tetapi juga dari nilai yang terus dirawat dan manfaat yang dapat diwariskannya kepada generasi berikutnya.
