Lebih dari dua tahun telah berlalu sejak saya menyelesaikan studi dan mengikuti wisuda program magister di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya menempuh pendidikan Master (M.Sc.) pada periode 2022–2024. Waktu berjalan begitu cepat, tetapi beberapa kenangan selama berada di Yogyakarta masih terasa begitu dekat. Ada momen-momen sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam, mengingatkan saya bahwa perjalanan pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas, penelitian, dan gelar akademik, melainkan juga tentang manusia, persahabatan, dan mimpi yang perlahan menjadi nyata.
Salah satu kenangan yang kembali hadir dalam ingatan adalah ketika mengikuti kegiatan bimbingan di UGM pada 12 November 2022. Saat itu, kami masih berada di semester pertama. Sebagai mahasiswa baru di jenjang magister, ada banyak hal yang harus dipelajari dan disesuaikan, mulai dari ritme akademik, tuntutan perkuliahan, hingga proses membangun cara berpikir yang lebih kritis. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, tersimpan perasaan bangga sekaligus tidak percaya bahwa saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Menariknya, pada semester kedua saya sudah menjalani sidang proposal tesis. Pengalaman itu menjadi salah satu pengingat bahwa kesempatan yang diberikan harus dijawab dengan kesungguhan dan kerja keras. Perjalanan akademik memang tidak selalu mudah, tetapi setiap tahap menghadirkan pelajaran tersendiri. Ada tuntutan untuk mengelola waktu, menjaga konsistensi, dan menyeimbangkan kewajiban pendidikan dengan tanggung jawab kedinasan. Dalam situasi seperti itu, dukungan lingkungan dan kebersamaan dengan sesama rekan menjadi bagian penting yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
Pada malam hari, di sela-sela kegiatan bimbingan tersebut, saya berkesempatan berkeliling Yogyakarta bersama dua senior saya di TNI AD, Bang Tohang (2007) dan Bang Deddy (2011). Perjalanan malam itu mungkin terlihat sederhana, sekedar menyusuri sudut-sudut kota sambil berbincang santai. Namun, justru dalam suasana tanpa sekat formalitas itulah banyak cerita mengalir. Kami berbicara tentang pengalaman hidup, perjalanan pengabdian, pendidikan, dan berbagai hal yang tidak selalu sempat dibicarakan di tengah kesibukan sehari-hari.
Di antara percakapan tersebut, ada satu perasaan yang masih saya ingat dengan jelas: rasanya seperti mimpi bisa kuliah di UGM. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang besar bagi seseorang yang sedang menjalani perjalanan pendidikan. Ada rasa syukur karena kesempatan yang dahulu mungkin hanya dibayangkan kini benar-benar dijalani. Ada pula kesadaran bahwa berada di lingkungan akademik seperti UGM bukanlah garis akhir, melainkan kesempatan untuk memperluas wawasan, menguji kemampuan diri, dan mempersiapkan kontribusi yang lebih baik di masa depan.
Malam semakin larut hingga akhirnya kami singgah di sebuah angkringan di pinggir jalan. Suasananya begitu syahdu. Di tengah udara malam Yogyakarta, kesederhanaan tempat itu justru menghadirkan kenyamanan yang sulit dijelaskan. Kami duduk, menikmati suasana, dan memesan kopi joss, minuman khas yang lekat dengan identitas kuliner Jogja. Tidak ada kemewahan, tidak ada agenda besar yang harus dibicarakan. Hanya percakapan hangat, secangkir kopi, dan kesempatan untuk menikmati jeda setelah menjalani kegiatan yang padat.
Bagi saya, angkringan malam itu menjadi lebih dari sekedar tempat singgah. Ia menjadi ruang kecil tempat mimpi, pengalaman, dan harapan bertemu. Di sana, saya menyadari bahwa perjalanan besar tidak selalu diwarnai peristiwa besar. Terkadang, justru momen-momen sederhana yang membekas paling lama dalam ingatan. Secangkir kopi dapat menjadi saksi percakapan tentang cita-cita, sementara jalanan kota yang lengang dapat menyimpan kenangan tentang perjuangan yang sedang berlangsung. Jogja, dengan kesederhanaan dan suasananya yang khas, seolah mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang megah.
Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 00.00. Malam yang semula terasa panjang ternyata berlalu begitu cepat. Kami pun memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan paginya kegiatan harus dilanjutkan. Perpisahan dengan suasana angkringan itu berlangsung biasa saja, tanpa ada yang menyangka bahwa momen tersebut kelak akan menjadi salah satu kenangan yang begitu berarti. Saat itu, kami hanya menjalani malam sebagaimana adanya. Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk mengubah peristiwa sederhana menjadi cerita yang layak dikenang.
Kini, ketika lebih dari dua tahun telah berlalu sejak saya menyelesaikan studi magister di UGM pada 2024, kenangan tersebut terasa semakin berharga. Gelar M.Sc. memang menjadi salah satu pencapaian penting, tetapi makna perjalanan itu jauh lebih luas daripada selembar ijazah atau prosesi wisuda. Ada proses pendewasaan, pertemanan, nasihat para senior, dan pengalaman yang membentuk cara pandang terhadap kehidupan. Kenangan malam di Jogja juga mengingatkan saya bahwa setiap pencapaian memiliki cerita di belakangnya, dan tidak semua cerita itu berlangsung di ruang kuliah atau laboratorium. Sebagian justru tumbuh dari percakapan sederhana di sebuah angkringan.
Perjalanan di UGM mengajarkan saya bahwa mimpi yang menjadi nyata bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Sebaliknya, pencapaian seharusnya menjadi pijakan untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk dalam pengabdian di TNI AD. Ketika mengingat malam 12 November 2022, saya tidak hanya mengenang kopi joss, suasana Jogja, atau kebersamaan dengan Bang Tohang dan Bang Deddy. Saya juga mengenang diri saya yang dahulu masih berada di awal perjalanan, dengan segala harapan dan ketidakpastiannya. Dari sana, saya belajar bahwa perjalanan yang bermakna tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga oleh seberapa dalam kita menghargai setiap proses yang mengantarkan kita sampai ke tujuan.
Ditulis oleh: Rizal Mutaqin, S.Kom., M.Sc. (Ketua Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa)