Perdebatan yang pernah kita dengar saat ini adalah apakah perguruan tinggi harus mendidik manusia secara utuh atau sekadar mencetak pekerja. Isu ini terjebak dalam dikotomi yang sempit. Di satu sisi, pendidikan tinggi idealnya menjadi kawah candradimuka untuk mengasah nalar kritis, etika, kemanusiaan. Konsep ini dikenal sebagai liberal art atau pendidikan humaniora. Namun di sisi lain, tuntutan pragmatis ekonomi menekan perguruan tinggi untuk menjadi penyedia tenaga kerja siap pakai agar lulusannya tidak menambah angka pengangguran yang terus meningkat setiap tahunnya.
Kebijakan revitalisasi program studi (prodi) yang diusulkan oleh Kemenristek merupakan upaya nyata untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan link and match dengan dunia industri. Langkah ini bertujuan untuk merombak kurikulum yang dianggap tidak relevan dan menutup prodi yang tidak lagi memiliki daya serap di industri kerja. Revitalisasi ini mencerminkan pergeseran paradigma pemerintah yang memandang perguruan tinggi sebagai motor penggerak ekonomi nasional, dimana relevansi kompetensi menjadi indikator utama keberhasilan sebuah institusi pendidikan.
Namun, revitalisasi ini membawa resiko besar jika dimaknai sebagai upaya taktis untuk memenuhi kebutuhan industri. Jika perguruan tinggi terlalu fokus pada kebutuhan pasar, maka ada kekhawatiran bahwa perguruan tinggi berubah menjadi pusat pelatihan kerja raksasa sehingga akan kehilangan akademisnya. Ilmu-ilmu murni seperti filsafat, sejarah, fisika, atau matematika teoritis berisiko terpinggirkan hanya karena dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri atau tidak memberikan keuntungan finansial secara instan. Padahal, disiplin ilmu tersebut adalah fondasi utama bagi kemajuan peradaban dan pemikiran manusia.
Idealnya, mendidik manusia dan mencetak pekerja tidak boleh dipisahkan, melainkan harus berjalan secara integratif. Pekerja yang kompeten tanpa landasan kemanusian, seperti inovasi dan pemikiran, dan etika yang kuat hanya akan menjadi sekrup dalam mesin industri yang mudah digantikan oleh kecerdasan buatan. Sebaliknya, pendidikan yang memanusiakan manusia harus mampu memberikan bekal praktis agar individu tersebut dapat berdaya secara ekonomi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui profesi yang mereka tekuni.
Oleh karena itu, revitalisasi prodi seharusnya tidak sekadar mengejar angka keterserapan kerja, tapi juga memperkuat kemampuan adaptasi mahasiswa melalui keterampilan belajar seumur hidup. Perguruan tinggi harus mampu mencetak manusia yang memiliki kedalaman karakter sekaligus ketajaman kompetensi teknis. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya menjadi pencari kerja yang pasif, melainkan dapat menjadi pribadi berdaya yang mampu menciptakan solusi bagi persoalan kemanusian di tengah dinamika industri yang terus berubah.
Penulis: Adin Lazuardy Firdiansyah, S.Si., M.Mat. (Ketua DPC Bangkalan Bhumi Literasi Anak Bangsa)
Dalam Kegiatan Nulis Bareng Bhumi Literasi Rabu, 06 Mei 2026


